Tatkala Macan Kajup melihat kehadiran Putong Kempat, rekan sesama punggawa ksatria Mualang, Macan Jelian yang lebih muda, segera bergegegas ke pemukiman mereka yang masuk ke dalam rimba. Ia melaporkan kedatangan Putong Kempat yang mengejutkan bersama orang-orang asing yang mengaku bukan musuh.
Itu sebabnya, Belang Pinggang, Puyang Belawan, Belang Patung, Belang Bau, dan Bui Nasi langsung saja menderu dan untungnya memang sungguh mendapatkan adik perempuan bungsu mereka berdiri di hadapan para pejuang Mualang.
Keadaan selama beberapa purnama ini memang sedang mencekam-mencekamnya.
Kelak kemudian, kepada rombongan Dama’ Bulan, Macan Kajup dan Macan Jelian menjelaskan bahwa pasukan musuh mengintai, dan berhasil menemukan tempat persembunyian mereka. Itu sebabnya, untuk saat ini, tempat tinggal mereka yang terletak di kaki bukit tak jauh dari sungai harus ditinggalkan untuk sementara. Benteng alam di puncak bukit yang berselimutkan lapisan rimba adalah tempat yang cukup aman. Tidak hanya tersembunyi, tetapi juga sulit untuk diserang.
Tidak bisa dibayangkan betapa lega dan bersyukurnya keluarga Putong Kempat menemukannya dalam keadaan yang sehat walafiat, bahkan terlihat sekali terawat.
Rasa sesal saudara-saudara laki-laki gadis itu tak bisa disembunyikan lagi. Musuh mengirimkan ilmu gaib sebelum mulai menyerang ke perkampungan mereka. Pengayauan tersebut menggunakan kabut putih yang tebal untuk menyembunyikan pasukan lawan. Hantu-hantu hutan tak berkepala dan yang merayap di atas permukaan tanah terlihat gamblang, mengejutkan para pejuang Mualang. Tidak hanya itu, air sungai dibuat lawan berbuih putih dan berbau bangkai.
Serangan demi serangan menewaskan beberapa orang. Baik pejuang maupun warga kampung.
Putong Kempat yang tersesat awalnya sudah pasti menjadi korban lawan karena tak satupun dari Macan Kajup, Macan Jelian, maupun saudara-saudara lelakinya berhasil menemukan gadis itu. Bagaimana pun, keluarga Sabung Mengulur adalah bagian terpenting dari rombongan Mualang yang terpisah itu. Selain anak-anak laki-lakinya semua merupakan pejuang handal, mereka adalah bagian dari masyarakat Mualang yang memberikan sumbangsih besar di dalam pertahanan dan kehidupan mereka.
“Terimakasih kami ucapkan kepada Tuan-Tuan sekalian yang telah menolong dan merawat adik tercinta kami. Maafkan pula atas sambutan kami yang tidak pantas di awal tadi. Mohon maklumkan keadaan kami yang serta berada di dalam kekhawatiran ini,” ujar Belang Pinggang kepada rombongan Dama’ Bulan.
Saat ini, ia menjadi sosok pemimpin keluarga tertua setelah Puyang Gana menghilang di dalam usaha mereka menyelamatkan diri di masa lalu.
“Itu sudah menjadi tugas kami. Bagaimana pun kami juga pernah mengalami apa yang saudara-saudara hadapi. Selama bertahun-tahun kami harus melarikan diri dari tanah kami yang direbut dengan paksa, menyebrangi lautan untuk mendapatkan suaka serta perlindungan, tetapi masih pula harus mencoba bertahan di tempat asing dengan berpindah-pindah. Maka, menolong putri Putong Kempat jelas adalah bagian dari jalan hidup kami,” begitu ucap Dama’ Bulan.
Pertemuan itu berbuah manis.