Memang sudah saatnya penerus menunjukkan taringnya.
Selain kepiawaian Macan Kajup, Macan Jelian yang disokong oleh Panglima Singa Guntur Baju Binduh dan Singa Elang, saudara-saudara laki-laki Putong Kempat begitu ganas menunjukkan taringnya menghadapi musuh.
Di belakang sana, Dama’ Bulan yang sibuk membetaki para pasukan gaib memberikan dukungan penuh pada prajurit Mualang untuk sungguh-sungguh dapat melawan musuh dengan kekuatan mereka. Tidak hanya membantu menghalangi mahluk gaib, janji para Lapongke untuk melindungi keturunan Dama’ Bulan sudah ditagih terlebih dahulu. Ilmu kesaktian dan kekebalan lawan sedikit demi sedikit rontok.
Yang paling buas adalah Bui Nasi. Ini cukup mengejutkan mengingat ia adalah laki-laki termuda di keluarga Sabung Mengulur. Namun, tubuhnya yang ramping itu melesat dan mencelat tinggi. Dau di tangan kanannya menyambar-nyambar bagai burung camar di tengah lautan. Menukik tajam, berteriak keras dan melepaskan nyawa dari raga musuh. Tameng kayu segi enam di tangan kanannya sebenarnya berukuran besar, hampir menutupi seluruh tubuhnya, tetapi dengan kekuatan dan kelincahannya, pasangan senjata serang dan pertahanan di kedua tangannya dimainkan dengan begitu piawai.
Tombak dan parang lawan ditepis ketika berbenturan dengan tamengnya. Kadang ia meringkuk di tanah, kemudian menutupi tubuhnya sebentar dengan tameng seperti seekor kura-kura. Setelah itu, dengan tanpa membuang-buang waktu, cepat saja ia tebas pangkal kaki lawan yang jatuh ke tanah dengan teriakan pilu yang bercampur dengan jeritan peperangan.
Setelah itu, lima saudara tuanya yang lain, Belang Pinggang, Puyang Belawan, Belang Patung, dan Belang Bau akan menyerang dari belakang, memanen nyawa. Daging dan darah berserakan. Kepala pun diburu, dilepaskan dengan paksa dari badan.
Hari pertama penyerangan, musuh mundur kocar kacir. Seruan riuh menggema, mencakar angkasa. Puncak bukit menghela nafas lega. Doa dan ucap syukur dipanjatkan ke langit.
Dama’ Bulan menatap ke arah medan peperangan. Hatinya kembali mencelos.
Bukannya tak senang dengan hasil pertahanan. Bukannya tak lega melihat para punggawa, panglima, prajurit, serta rakyatnya mendapatkan kemenangan. Bukan pula tak puas mengetahui kenyataan bahwa Putong Kempat beserta rakyat Mualang juga selamat dari rongrongan musuh. Dama’ Bulan sudah dikaruniai oleh kebijaksanaan yang melekat di tubuhnya bagai kulit kedua. Kebijaksanaan itu pun tumbuh bersama dengan usia dan kematangannya. Itu sebabnya, Panglima Guntur Baju Binduh pun mampu melihat kekalutan hati sang raja. Hanya saja, ia tidak berani berpikir lancang nan berlebihan. Ia akan menunggu apa yang akan disampaikan dan diperintahkan oleh junjungannya tersebut.
Semua terjawab setelah dua kali purnama, dua serangan susulan dilanjutkan.
Memang, pasukan gabungan Songkhra Mualang selalu berhasil menggebuk balik musuh yang menggempur. Namun, dengan pengorbanan apa?
Setiap pertempuran pasti ada korban nyawa, tidak peduli yang menang atau kalah. Tak terkecuali di pihak mereka. Belasan pejuang gugur. Prajurit Songkhra yang sudah menahun bersama Dama’ Bulan juga berada di antara mereka.
“Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi, Panglima. Garis takdir yang awalnya melengkung di dalam perjalanan hidup kita, akhirnya telah kembali melingkar, bertemu ke titik semula. Sudah saatnya kita berhenti untuk mencari Kerajaan Tanjung Nagara. Kita sudah bertemu dengan titik awal setelah sudah ratusan purnama berusaha melarikan darinya. Negeri yang kita cari tidak akan mampu menolong kita, Panglima,” ujar Dama’ Bulan kepada Panglima Guntur Baju Binduh hari itu, sembari membakar jasad-jasad para pejuang.