Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #82

Seorang Raja dan Seorang Permaisuri

Sudah pahamlah kini Panglima Singa Guntur Baju Binduh dengan apa yang diutarakan oleh Dama’ Bulan waktu itu. Mengenai garis takdir, yang melengkung, kemudian kembali melingkar bertemu ke titik semua. Tanjung Nagara, negeri yang mereka cari selama ini bukanlah penolong. Sebaliknya Songkhra yang agung sudah menjadi masa lalu. Takdir Dama’ Bulan sebagai seorang raja telah kembali padanya. Apa gunanya seorang raja tanpa wilayah dan tanpa rakyat? Maka, sudah seharusnyalah Dama’ Bulan untuk melepaskan segala kejayaan masa lalu hanya untuk meminta suaka. Ia sudah memiliki semua kebajikan, kebijaksanaan, keberanian, dan kesanggupan untuk memimpin.

“Aku akan bangun negeri itu di tempat ini, Panglima. Mungkin itulah bagaimana cara takdir berbicara kepada kita selama ini.”

Titah sang raja, sudah sepatutnya untuk diterima.

Dama’ Bulan sangat-sangat berharap bahwa bila memang Songkhra tidak mungkin lagi untuk dibangun dan dibesarkan, bila Tanjung Nagara pun tidak mungkin lagi ditemukan, biarkan ia membangun nama negeri baru di tanah ini, memberikan kebaikan dan kemaslahatan bagia siapapun yang menjadi rakyatnya.

“Aku juga telah berdoa, siapa pun yang tertinggal dan tersesat di tanah ini, akan ikut membangun negeri. Bila jalan takdir kami masih bertemu, aku masih ingin mengumpulkan siapapun yang tercerai-berai. Bila masih mungkin, biarlah kita kembali berkumpul,” ujarnya kepada Singa Guntur Baju Binduh.

Berbulan-bulan setelah Dama’ Bulan memutuskan untuk membangun negeri di wilayah yang kemudian mereka sebut sebagai Balai Sepauk itu, sebuah negeri Mualang dan Songkra berdiri. Putong Kempat yang menjadi saksi keinginan Dama’ Bulan itu ternyata menjadi penutup perjalanan sang Aji Melayu.

Ia dipinang oleh Dama’ Bulan untuk menjadi istrinya.

Sebuah negeri mungkin memang harus berdiri dengan pilar seorang raja dan seorang permaisuri.

Pinangan ini tidak terlalu mengejutkan bagi masyarakat Mualang. Saudara-saudara Putong Kempat tentu merasa bangga dan terhormat memiliki saudara yang seagung ini. Tanpa terlalu dipikirkan pun semua sadar bahwa peminangan ini merupakan sebuah lambang persatuan dari dia kelompok berbeda yang menjadi satu.

Lihat selengkapnya