Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #83

Takdir Bertemu dengan Kesadaran

Doa yang dipanjatkan Dama’ Bulan memberikan dampak yang serupa dengan rombongan Singa Layang dan Singa Ria.

Mereka tidak dapat menemukan anggota Songkhra yang lain. Dedaup yang tertancap di pucuk pohon Adau raksasa di tengah sungai itu sudah tercabik-cabik bagai masa lalu yang tidak dapat dikembalikan lagi. Seberapa keras mereka berusaha untuk menemukan warga Songkhra bersama Singa pati Bangi dan Singa Pati Kabut, nampaknya dunia memang sudah memisahkannya. Apalagi bila dipikir dengan seksama, sudah terlalu lama mereka berpisah. Tidak mungkin dedaup itu harus ditunggui sedangkan mereka harus tetap bertahan hidup di bumi Hujung Tanah ini.

Namun, disinilah letak takdir bertemu dengan kesadaran mereka.

Dedaup yang tertancap itu seperti melambangkan masa lalu. Kedua hulubalang itu sedang sama-sama meresapi makna kehidupan ketika dari dalam hutan, muncul anak-anak kecil berlarian.

Sebuah pemandangan yang luar biasa mengejutkan bagi mereka.

“Apakah engkau melihat apa yang aku lihat? Sungguh kah mereka semua adalah anak-anak manusia? Atau mahluk-maluk gaib hutan semata?” tanya Singa Layang kepada Singa Ria.

Singa Ria tidak menjawab, sebaliknya, bersama beberapa prajurit ia langsung mengejar ke arah anak-anak tersebut yang tentu saja berlari ketakutan.

“Tunggu, tunggu! Kami tidak berniat jahat!” seru Singa Ria.

Dengan kesadaran yang mendadak datang, ia langsung memerintahkan para prajurit untuk mundur dan malah memanggil beberapa orang warga perempuan.

“Tolong, rayu anak-anak itu. Mungkin sekali mereka tidak bisa menggunakan bahasa yang kita gunakan, tetapi dengan kelemahlembutan kalian, aku rasa kita bisa bercakap-cakap dengan mereka.

Pendek kata, pengalaman luar biasa ini sama dengan pengalaman segenap warga Songkhra yang baru bertemu dengan sosok warga asli di Hujung Tanah.

Lihat selengkapnya