Kasekak Busong tersentak melihat sosok yang berharga bagi dirinya itu kembali muncul di hadapannya setelah mereka terpisah beberapa waktu. Perpisahan bukan hal yang asing lagi baginya dan bagi rakyat Mualang yang ada bersamanya. Sudah berkali-kali mereka dipaksa untuk terus melepaskan orang-orang terkasih, bertahan hidup, bahkan melihat satu persatu keluarga mereka tewas diserang musuh. Sudahlah terpisah dengan rombongan utama, terpisah dengan rombongan Sabung Mengulur dan Macan Uwi’, kini Kasekak Busong harus terpisah dengan Imok Benang, cucu perempuan tercintanya.
Namun, tetap saja kehilangan orang yang disayang bukan merupakan sebuah hal yang mudah.
Siapa yang tak awas ketika serombongan manusia mendekat ke arah pemukiman mereka? Meski berbusana dan bergaya senjata berbeda dengan musuh yang selama ini menyerang dan mengayau mereka, keawasan tidak mungkin dikendurkan.
Dau berdentingan, batang tombak beradu ketika setiap pejuang Mualang berebut mengambilnya dari penyimpanan senjata.
Syukurnya, sebelum perang kembali pecah, Imok Benang, sang gadis berseru, “Kakek, Kakek Kasekak Busong, ini aku, cucumu, Imok Benang. Maafkan karena telah menghilang, tetapi aku datang bersama orang baik. Mereka bukan para pengayau, hanya orang-orang yang tersesat pula.”
Kasekak Busong memeluk cucu perempuannya itu sebelum kemudian memarahinya.
Imok Benang tersenyum. Ia tidak keberatan dimarahi. Ia lega karena telah berhasil bertemu kembali dengan kakek dan warga Mualang darimana ia berasal. Bila diingat-dingat, lebih baik ia pulang dan dimarahi dibandingkan harus tersesat seperti itu.
“Engkau boleh memarahiku lagi nanti, Kakek. Tapi, maukah engkau mendengarkan ceritaku dahulu. Kisah ini sama ajaibnya dengan kisah kita, Kek.”
Berceritalah Imok Benang kepada kakek dan seantero warga kampungnya mengenai pengalamannya yang hilang di perut hutan selama beberapa waktu itu.
Imok Benang, dibekali keris pusaka sang kakek untuk berjaga-jaga. Pengalaman mereka terpencar dan kerap diserang musuh, tentu membuat keputusan membekali Imok Benang dengan sebilah keris adalah sebuah kewajaran. Keris tersebut nyatanya bukan keris pusaka biasa, melainkan tanda persahabatan dan penerimaan seorang asing yang datang ke pemukiman mereka bertahun-tahun yang lalu.