Siapa sangka Dama’ Bulan menyambungkan darahnya dengan Manok Sabong melalui pernikahan dan keturunan? Siapa yang menyangka Singa Pati Bangi menyentuh pertemuan dengan Manok Sabong melalui keris dan warga Mualang yang terpisah? Siapa sangka Singa Guntur Baju Binduh kini akhirnya kembali bertemu dengan Danum?
Kampung Bongkal sudah terlihat dari jauh. Atap rumbia, asap pembakaran, satu dua pergerakan orang yang menandakan suatu kegiatan, serta bubu-bubu ikan yang dipasang di tepian sungai, membuat semua anggota kelompok Singa Guntur Baju Binduh bersemangat untuk bertemu dengan para penghuninya.
Perahu sang Panglima yang dirancang dapat bergerak cepat, tidak hanya untuk perjalanan, melainkan juga untuk perang itu, mengalir lancar di atas permukaan sungai.
Takdir berulang, meski dengan ragam yang berbeda. Para prajurit Kampung Bongkal bersiap untuk menghadapi apapun yang mungkin. Mereka tidak bisa begitu saja menerima kedatangan orang asing yang mendekati hunian mereka. Namun, di sisi lain, Danum sendiri malah berpikir, dan mungkin sekali berharap, bahwa satu perahu asing yang sedang mendekat itu adalah rombongan Putri Nilam Cahya dan putranya Arya Jamban yang sudah terlalu lama tak kembali.
Datuk Udak sendiri juga tidak menemukan segala jenis udara buruk atau hawa jahat yang melingkari perahu asing itu.
Itulah sebabnya ketegangan tidak terjadi terlalu lama.
Danum sendiri yang berdiri di paling depan. Di sampingnya berdiri pula dengan bungkuk, Datuk Udak. Keduanya berada di atas dermaga kecil dari papan-papan kayu. Sepasang matanya mengecil untuk memusatkan melihat siapa yang hadir di tempatnya ini.
Segera, udara hangat penuh sukacita langsung serentak hadir turun hinggap di pemukiman itu semenjak terlihat sosok Panglima Singa Pati Baju Binduh yang ada di depan perahu. Kerutan yang perlahan menjalar di wajah sang panglima, rambut putih yang menghiasi kepalanya yang ditutupi ikat kepala khas Melayu yang dikenal baik oleh Danum dan Datuk Udak itu tidak lantas membuat Panglima Singa Pati Baju Binduh terlihat lemah dan tua. Masih tercetak jelas di benak Danum, Datuk Udak, atau para hulubalang tua, bagaimana sepak terjangnya di dalam peperangan demi peperangan serta pergulatan yang mereka hadapi selama ini.