Dama’ Bulan menghela nafas panjang. Memang segala sesal yang menumpuk di dalam dadanya selama bertahun-tahun atas segala keputusan dan penerimaan hidup tidak dapat dihindari, ia memahaminya dengan baik. Senang hatinya mendengar bahwa Danum dan Datuk Udak sehat walafiat dan setuju dengan pembentukan negeri baru yang sudah ia canangkan itu. Namun perih juga terasa mendengar kisah Putri Nilam Cahya kemenakannya yang malang itu. Dimana sang kemenakan berada, bagaimana dengan anak laki-lakinya pula?
“Jangan khawatir, jangan bersedih, dan jangan pula gundah gulana. Kini setelah engkau kembali, Panglima Singa Pati Baju Binduh dan Singa Elang, keagungan negeri akan kita mulai dengan segera. Bila memang berjodoh, Danum dan Datuk Udak akan kembali bersama kita, begitu juga dengan Putri Nilam Cahya. Namun, bila tidak pun, makna keagungan Songkhra tidak akan kehilangan kejayaannya. Bahkan, aku, sebagai seorang raja, seorang pemimpin, memberikan titah baru bagi kalian berdua,” ujar Dama’ Bulan.
Setelah beberapa waktu kembali ke Balai Sepauk, Singa Pati Baju Binduh dan Singa Elang menceritakan secara penuh kisah mereka ini ketika bertemu dengan Danum, diantarkan sampai ke muara persimpangan sungai dimana mereka menanam pecahan tempayan Tajau di masa lalu, serta persetujuan dan keinginan kedua tetua abdi Songkhra itu untuk ikut membangun sebuah negeri bersama Dama’ Bulan. Ternyata di saat itulah Dama’ Bulan sudah memiliki rencana besar bagi keduanya.
Singa Pati Baju Binduh dan Singa Elang saling berpandangan dan bertukar makna.
“Aku percaya bahwa negeri yang akan kubangun ini bukan sebuah negeri biasa, bukan keagungan emas, perak, dan bangunan-bangunan istana megah. Negeri yang aku hendak buat adalah sebuah negeri yang memberikan keagungan pada setiap manusia. Ia pula akan menciptakan kejayaan pada siapa pun yang menginginkannya. Kakanda Dama’ Bintang memaksakan kehendaknya untuk memiliki dan menguasai semua di dalam genggaman tangannya dan malah kehilangannya. Aku akan membangun sebuah negeri di atas kehebatan setiap warganya dalam mempertahankan nyawa, dalam mengarungi kerasnya kehidupan, dalam kekuatannya untuk menjaga hak-haknya,” lanjut sang Aji Melayu.
Terlalu banyak makna di dalam syarah panjang sang Raja. Namun, kedua pendekar tersebut paham dan siap dengan apapun yang kemudian akan diperintahkan kepada mereka.
Maka, di sanalah keduanya, menjaga negeri di sisi terluar sekaligus terdalam rimba.
Negeri yang hendak dibangun nyatanya selalu memerlukan dasar yang kuat dan tak tergoyahkan.
Segala mahluk melata, ular daun, ular sungai, kadal, dan buaya merangkak mendekat. Katak dan kodok beracun melompat-lompat di atas lumpur dan pepohonan. Babi hutan dan macan daun siluman mengintai di balik ilalang.
Dama’ Bulan kembali menagih sumpah para Lapongke. Kekuatan batinnya yang telah ditempa bertahun lamanya telah berubah menjadi lebih unggul. Mantra-mantra tak lagi dibacakan keras-keras, melainkan mengalir lancar begitu saja melalui aliran udara.
Bahkan hantu-hantu tanpa kepala, atau yang merayap-merayap setengah binatang pun gentar oleh benteng gaib yang dibangun sang raja.
Namun, benar kata orang-orang tua dari masa lalu. Manusia lebih mengerikan dibanding gerombolan setan sekali pun.
Singa Pati Baju Binduh membantu Singa Elang menghadapi gelombang musuh yang menyerang dari balik perbukitan, dari sungai, atau dari pedalaman hutan. Segala jenis kekuatan hitam digunakan untuk menghancurkan negeri baru ini, memanen nyawa dan kepala. Para pengayau berupa-rupa.
Ada dari suku yang memerlukan kepala musuh untuk membangung kampung mereka pula, ada pula para pengayau yang menginginkan sumber daya yang dimiliki Balai Sepuak.