Putri Nilam Cahya menatap nanar pada kehidupan yang telah memberikannya limau. Kampung Bongkal yang ia kenal dengan baik selama ia tinggal di sana sekarang sudah kosong dan sepi. Meskipun sungguh masih tersisa rumah-rumah dan pemukiman yang tidak terawat, masih ada pula ladang-ladang yang terlihat lumayan terurus – entah oleh manusia, entah oleh alam, entah oleh mahluk-mahluk gaib tak kasat mata, akan tetapi hatinya sudah terlanjur tergores.
Pemandangan ini membuatnya menjadi bingung alang kepalang.
Harus berapa kali di dalam kehidupan ia selalu dikejutkan dengan beragam perubahan, seakan-akan perubahan adalah satu-satunya hal yang nyata di kehidupannya. Hati dan jiwanya terus-terusan diperas dengan sebelumnya dipukul dahulu dengan keras.
Bayangan di kepala sang putri mengenai masa lalu dengan cepat menyelimuti wilayah itu. Lapisan kenangan pemandangan kampung, bunyi arus sungai yang berkecipak menghajar tepian serta menyelip di sela akar-akar tanaman, gemerisik dedaunan yang saling menampar karena didorong oleh sang bayu, serta suara-suara para perempuan yang saling bercanda sembari mengurusi pekerjaan rumah tangga adalah nada-nada merdu yang begitu Putri Nilam Cahya rindukan.
Ingin hati kembali mengeluh dan mempertanyakan kembali nasib yang disarungkan ke tubuhnya oleh para dewata, tetapi hidup memang begitu adanya. Berkelok-kelok bangai aliran sungai, kadang bercabang ke sungai lain yang lebih besar, kadang membelok mengecil, kadang berlabuh ke lautan lepas, kadang menghilang entah kemana.
Bagaimana bila sejatinya hidupnya dalah sungai yang hilang entah kemana itu?
Nampak-nampaknya para dewa sedang tak tega dengan seorang Putri Nilam Cahya, kebingungan sang putri tak terlalu lama terjawab ketika beberapa perempuan dan laki-laki tua yang sedang berada di atas perahu melongo melihatnya dan rombongan. Bahkan Arya Jamban berteriak ke arah mereka, sepertinya cukup mengenal kedua orang tua itu di masa ia masih kecil.
Setelah semarak rasa ditumpahkan di dalam pertemuan itu, mengalirlah cerita mengenai pertemuan warga desa dengan rombongan Paduka Dama’ Bulan sang Aji Melayu yang dipimpin oleh Panglima Singa Pati baju Binduh, bersama dengan para prajurit gagah Mualang yang merupakan saudara-saudara laki-laki Putong Kempat sang Junjung Buih, yaitu sang permaisuri sendiri.
Tak bisa dibayangkan bagaimana terharunya perasaan Putri Nilam Cahya dengan kenyataan ini. Tanpa disangka, nyatanya memang takdir mencari jalan melingkar.
“Mereka adalah putra-putra dan putri Sabung Mengulur, Manok Sabong?” ujar Macan Uwi’ tercengang.