Inilah rumahnya, inilah tempat tinggalnya, inilah tanah dimana ia tancapkan pasak peradaban yang telah tahkik, inilah wilayah dimana ia tambatkan harapan bagi masa depan rakyat Songkhra yang sudah lebur dengan rakyat Hujung Tanah menjadi sebuah kesatuan yang agung. Keinginan dan mimpi untuk bersua dengan Kerajaan Tanjung Nagara dimana darah Songkhra mengalir daripadanya, tidak lagi tersemat di dada sang raja, sudah lama, telah sirna.
Langit membiru dengan awan putih menggumpal di angkasa, deru arus sungai yang mengalir deras nan segar, gemerisik dedaunan dan cabang-cabangnya yang bernada liar, dan tetabuhan yang dibunyikan oleh para mahluk adikodrati di pedalaman hutan adalah semua hal yang telah diakrabi Dama’ Bulan. Ia adalah raja, penguasa bukan karena perebutan tanah dan pertumpahan darah, melainkan sebagai hasil dari cara paling hakiki untuk menyelamatkan diri, bertahan hidup, dan menjaga rakyat. Kekuasaannya berasal dari sesuatu yang tulus, yang alami, yang manusiawi, yaitu kehidupan itu sendiri.
Dama’ Bulan pun telah bermunajat bahwa keturunan-keturunannya, sanak saudara dan handai taulannya yang telah dengan setia mengikuti dan percaya sepenuhnya pada kepemimpinannya, kelak akan memenuhi Hujung Tanah, menjadi para pemimpin, raja dan ratu yang bijaksana, lagi berwibawa serta kuat jiwanya.
Rambutnya telah memutih, panjang digelung. Kerutan di kulit wajahnya tertatah bak cabang-cabang sungai yang menyeruak di Hujung Tanah. Sepasang matanya, yang dahulu memandang gundah gulana bercampur tetesan kegentaran ketika pasukan Dama’ Bintang menyerang benteng kerajaan untuk merebut kekuasaan penuh Songkhra untuk dirinya sendiri, kini telah meredup, akan tetapi penuh dengan lautan kebijaksanaan.
Dama’ Bulan duduk di singgasananya, menatap jauh ke depan, menembus dinding kayu istananya, menembus tembok batu yang mengelilingi keratonnya, terus menembus lapisan dunia kembali ke tengah lautan di masa lalu. Sepertinya baru sekejap mata saja ia memimpin rakyat dan pasukannya untuk sampai ke muara Hujung Tanah. Sepertinya baru setarikan nafas saja ia ingat orok Putri Nilam Cahya yang masih berada di gendongan sang dayang, istri Datuk Udak, bertahan hidup di atas kapal. Kini, takdir telah melingkar, kembali ke titik semula.
Bayi perempuan itu, yang ketika remaja Dama’ Bulan anugerahkan tongkat cemeti kepemimpinan, kini telah terdengar kabar yang santer bahwa ia telah menjadi seorang ratu, pemimpin besar Labai Lawai. Tanah lain yang pertama diinjak sang putri telah menjadi tanah besar yang ia pimpin.
Sebelum akhirnya nafas terakhir ia embuskan, titah untuk memberikan dukungan kepada Labai Lawai terus didengungkan. Wilayah-wilayah yang merasa memiliki keterikatan dengan Aji Melayu, tak ragu melaksanakannya. Begitu pula dengan para Lapongke yang sudah mulai melaksanakan tanggung jawab mereka menjaga lapisan demi lapisan keturunan sang raja. Keris sakti yang Dama’ Bulan hentakkan di atas permukaan batu sungai bertahun-tahun lalu itu telah menjadi pengikat sumpah dua mahluk dari dua dunia yang berbeda itu.