Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #89

Menerima Akhir Dari Takdir

Putri Nilam Cahya menahan perasaan yang bergemuruh di dadanya. Kekuatan seorang pemimpin tidak hanya bisa dilihat dari cara mengatur dan memerintah negerinya, namun juga mengatur akal dan perasaannya. Seorang pemimpin tidak bisa semerta-merta langsung tenggelam di dalam kekalutan dan perasaannya bila ingin menegakkan hukum, bersifat adil, dan tentu saja bijaksana kepada rakyatnya.

Hanya saja, kali ini, yang datang ke hadiratnya bukan permasalahan hukum, bukan pelanggaran kedaulatan, melainkan hanya dua utusan dan sepuluh prajurit pendampingnya. Keduabelas orang itu berlabuh di muara Labai Lawai tadi malam dengan dua buah perahu kenegaraan.

Dalam satu malam itu pula Putri Nilam Cahya sang Dara Nante tidak bisa tidur. Kabar kedatangan mereka yang dihaturkan oleh para hulubalang menggetarkan jiwanya bahkan menghancurkan jiwanya.

Genap sudah dua purnama sejak sang suami tercinta, Macan Uwi’ mangkat. Kesedihan menaungi kerajaan baru itu. Telah bertahun-tahun sang junjungan rakyat Labai Lawai itu membawa setiap orang dari wilayah asal ke Desa Bongkal, ke Muara Kantu’ tempat kelak Danum wafat, kemudian menjaga mereka sampai mendapatkan hajat hidup yang pantas di Labai Lawai. Segala jenis kemalangan, tantangan, sampai keberuntungan telah mereka rasakan. Pembangunan negeri baru ini pun telah memberikan dampak yang luar biasa pada kehidupan mereka.

Maka, ketika Macan Uwi’ wafat, tidak hanya sang istri yang merasa kehilangan. Warga Labai Lawai yang sudah menjadi satu kesatuan itu pun merasa kepedihan yang nyata. Sepak terjang Macan Uwi’ bersama para laskar Mualang dan prajurit Labai Lawai dalam mengamankan negeri begitu hidup di dalam sanubari mereka.

Putri Nilam Cahya, sang pemimpin, mampu menunjukkan kepada segenap rakyat tentang artinya ketabahan yang tidak main-main. Ia tidak bersedih lama. Kerajaan harus terus dipimpin, tidak boleh lengah oleh kesedihan yang menggantung di langit negeri ini. Arya Jamban sang Pangeran Suryanata kini juga sudah ditemani oleh kedua adik laki-lakinya yang juga sudah diberikan mandat untuk menjaga negeri. Adiknya, Arya Batang yang belum lama ini telah berpangkat Patih dan digelari Parih Gumantar, adalah sosok sekeras Macan Uwi’ tetapi secerdas Putri Nilam Cahya. Adik bungsunya, Arya Likar, bergelar Pangeran Rangga Setap, merupakan bayangan murni sang ibunda. Wajahnya mirip, bahkan tutur kata, perbuatan, sampai caranya berpikir, sedang beranjak dewasa dan mulai merasakan dan berpikir tentang bagaimana cara dunia bekerja.

Bersama tiga orang putranya ini, Putri Nilam Cahya menerima akhir dari takdir sang suami dan ayah tanpa harus bergelimang kesedihan terlalu lama. Setelah melalui upacara dan waktu berkabung yang seperlunya dan wajar, dengan berlandaskan perintah dari Manok Sabong sang ksatria tetua, putra-putra Putri Nilam Cahya terlibat langsung di dalam kepemimpinan kerajaan, kembali mengamankan kedaulatan wilayah.

Harusnya, Putri Nilam Cahya sudah merasa siap dengan ketiadaan suaminya dan kemungkinan serangan-serangan dari para pengusik kedamaian.

Namun, bagaimana ia harus menghadapi kedatangan duabelas utusan dari Kerajaan Tanjung Nagara yang baru saja sampai semalam?

Lihat selengkapnya