Sepuluh tahun setelah Labai Lawai resmi mengebarkan bendera kekuasaannya, kurang lebih pada tahun seribu tiga ratus tiga puluh lima, iring-iringan jung perang berbendera gula klapa, garis-garis merah dan putih, tanda kebesaran Kemaharajaan Wilwatikta, atau yang juga dikenal dengan nama Majapahit, terlihat dari kejauhan.
Beberapa tahun sebelumnya, utusan Wilwatikta agung sudah dikirim dari Jawadwipa ke Hujung Tanah. Saat itu, tujuan utama kerajaan yang sedang kuat-kuatnya itu sedang menjajaki kekuatan negara-negara kecil di Hujung Tanah. Tujuan awal mereka adalah untuk meminta pengakuan orang-orang Hujung Tanah atas kekuasaan dan kehebatan Wilwatikta. Di sisi lain, para punggawa Majapahit tersebut menjelaskan bahwa Tanjung Nagara adalah sasaran utama mereka. Dengan mengakui kedaulatan Wilwatikta, kelak harapannya Labai Lawai tidak perlu bersengketa dan merasakan pedang tajam kekuatan angkatan laut negara itu, juga ikut membantu Majapahit untuk menundukkan Tanjung Nagara.
Tentu saja, Putri Nilam Cahya tidak sudi untuk diancam sedemikian rupa oleh negara lain. Darahnya adalah darah Songkhra, dimana pamannya telah mati-matian membawa rakyatnya menuju ke sebuah kemerdekaan. Lain daripada itu, Tanjung Nagara, yang sudah datang ke hadirat sang putri, telah menunjukkan bahwa bagaimana pun takdir akan memutar nan melingkar. Tanjung Nagara yang sedari dulu memang dijelaskan berkali-kali oleh para tetua Songkhra masih memiliki hubungan kerabat dengan kerajaan Songkhra itu setelah bertahun-tahun akhirnya tetap pula ditemukan, meski dengan cara yang berbeda. Bukankah ini sudah merupakan garisan dari para dewata? Bukankah ini berarti kedua negara harus menenun hubungan yang seharusnya sudah tercapai bertahun-tahun lalu tersebut?
Tak pelak, Labai Lawai dan Tanjung Nagara bermufakat untuk mengangkat senjata, memperkuat pertahanan, demi membendung derasnya ombak penaklukkan Wilwatikta di seluruh nusantara.
Serangan pertama.
Mungkin awalnya Ratu Srti Gitarja yang bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi merasa gampang saja untuk membuat orang-orang Labai Lawai yang terbilang baru itu tunduk tanpa perlu menumpahkan darah. Labai Lawai harusnya gentar dan membuka gerbang Hujung Tanah dengan ikhlas. Dari situ, pasukan Wilwatikta akan dapat masuk ke pedalaman, menumbangkan satu demi satu kerajaan dengan tanpa kesulitan.
Putri Nilam Cahya mengerutkan kening. Busananya yang berwarna merah dan hijau terang dengan benang-benang emas berpola bebungaan, berdiri dari singgasananya. Utusan Majapahit telah ia usir. Busana kebesaran mereka terlihat menantang. Baju besi tidak mereka lepas ketika bertemu sang ratu. Gemerincing rantai di dada penahan tombak, serta bunyi langkah mereka di lantai kayu keraton utama Labai Lawai sengaja mempertontonkan keangkuhan dan ancaman.
“Aku dengar Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah seorang ratu pula. Seorang perempuan yang berkuasa atas sebuah negeri besar. Bila ia bisa memerintahkan pasukannya untuk menyerang dan menaklukkan negara-negara lain, aku pun tidak akan diam saja. Aku pun mampu mempertahankan kerajaan dari serangan lawan.”
Manok Sabong, sebagai tokoh utama di dalam kesatuan keprajuritan dan kekuatan perang Labai Lawai, tanpa ragu mendukung penuh titah sang junjungan. Putri Nilam Cahya sudah dianggapnya sebagai pemimpin semenjak pertama kali gadis itu dipercayakan tongkat cemeti oleh Dama’ Bulan. Walau telah melalui pasang surut kebijaksanaan, naik turunnya keadaan negeri dan rakyat Songkhra sewaktu mereka bersama, tidak ada keraguan sedikit pun di hati pendekar itu untuk mengabdi sepenuhnya, menerima, mengikuti, menaati, dan melakukan perintah sang putri.
Labai Lawai mungkin belum lama menggapai namanya menjadi sebuah kerajaan yang berdaulat. Namun, kehadirannya ternyata telah mengusik sebuah kemaharajaan yang digdaya dan adidaya pula. Selama belasan tahun, bahkan sebelum Labai Lawai memutuskan untuk mengesahkan namanya sendiri dan meresmikan berdirinya negeri, para prajurit dan ksatria Melayu Songkhra dibantu oleh pejuang Mualang beserta suku-suku Hujung Tanah lain yang memutuskan mengabdi kepada Labai Lawai, telah berhasil memupuskan serangan lawan. Setiap saat pemerintahan Labai Lawai dirongrong musuh dan mereka mampu untuk mengusirnya.
Maka, tidak terkecuali untuk para punggawa kerajaan Majapahit dengan keris, tombak, pedang, bahkan senjata mahsyur yang dikenal dengan cetbang itu.