Dendam kesumat, nafsu membunuh, darah, dan peluh membanjiri bumi Kerajaan Labai Lawai sekali lagi. Kali ini lebih banyak kapal serang, lebih banyak teriakan perang, lebih banyak jeritan kesakitan, lebih banyak denting logam tajam, lebih banyak kulit yang terobek, lebih banyak daging yang tercungkil, lebih banyak tulang yang berderak patah, lebih banyak kematian menghiasai hari-hari di tepian Hujung Tanah.
Labai Lawai masih berdiri.
Serbuan Majapahit kedua sudah mula direncanakan dengan lebih matang. Telah ada perbedaan yang kentara, dimana dipimpin oleh seorang Tumenggung perang beserta prajurit-prajurit pilihan.
Hujan jarum sumpit dibalas dengan badai anak panah.
Geraman para prajurit sahut-sahutan. Tombak menghujam tubuh lawan, pedang memapras anggota badan dan tidak akan berhenti sampai lawan sungguh-sungguh tak bergerak, tewas, gugur, mati, mampus.
Mereka melompat, meloncat, menubruk, menggasruk, menggabruk, membanting, mengunci, mematahkan, bahkan menggigit. Apa pun dilakukan untuk membuat musuh tak mampu melawan, hilang nyawanya terangkat ke angkasa.
Pasukan Majapahit yang sudah melebur di dalam kuasa amarah itu merengsek maju. Mereka memanjat bukit, terus menyerang lawan di depan. Tak peduli bila mungkin sosok yang ia lawan adalah bayangan ciptaan mahluk gaib penghuni pulau.
Ketika tombak dan pedang pasukan Majapahi beradu dengan tameng laskar Labai Lawai, kemudian mereka terpaksa menggelundung ke bawah dikarenakan tekanan balasan lawan, senjata mereka terlepas dari tangan, sesesegera itu pula mereka bangkit, meloloskan bilah keris dari sarungnya, berteriak maju kembali untuk membenamkan keris itu di pinggang, dada, dan leher lawan. Andaikata pun berhasil, kebanyakan dari prajurit Majapahit itu terpaksa tewas bersama lawan-lawannya.
Pasukan Mualang dan Melayu Labai Lawai merasa bahwa serangan kedua ini lebih kasar, tetapi lebih terencana. Terjadi arahan yang jelas dari para pemimpin pasukan.
Cetbang tidak ditembakkan membabibuta, bahkan bisa dikatakan mereka mulai mengurangi serangan dengan bubuk api itu dengan anak-anak panah, untuk kemudian menyerang langsung secara bergelombang.
Ketiga putra Putri Nilam Cahya bertempur bersama. Tiga serangkai dengan umur dan pengalaman berbeda itu melaksanakan peran mereka masing-masing, kecuali Arya Jamban sang Pangeran Suryanata yang terjun langsung dengan tombak, perisai kayu, dan mandau tergantung di pinggangnya.
“Mengapa aku curiga bahwa serangan Wilwatikta kali ini dirancang untuk bahan penguji belaka, Pamanda?” kata Arya jamban dalam tanya kepada Manok Sabong di malam sehabis serangan kedua bagian pertama.
Setelah serangan di pagi-pagi buta dan terhenti ketika malam menjelang, pasukan Wilwatikta mundur dan berbenteng di pantai muara, dekat dengan kapal-kapal perang mereka.