Puja-puja syukur diangkasakan kepada para dewa oleh sang ratu, Putri Nilam Cahya, bersama dengan mantra dan doa-doa yang telah diajarkan oleh Danum dan Datuk Udak semenjak ia kecil.
Sudah terlalu banyak nyawa yang terus dikorbankan di dalam membangun dan mempertahankan Labai Lawai. Tempat subur dan penuh dengan kenangan tersebut tidak hanya menjadi sebuah tempat persinggahan lagi layaknya Kantu’ atau Kampung Bongkal. Dulu, setiap tempat yang ia singgahi bersama rombongan Songkhra semenjak kecil seakan merupakan batu loncatan untuk sampai ke tujuan utama, yaitu Kerajaan Tanjung Nagara. Selama bertahun-tahun, nama Tanjung Nagara adalah kata-kata yang agung dan memiliki makna pamungkas di kehidupan mereka. seakan-akan nyawa dan kehidupan mereka dimaknai hanya ketika kaki-kaki telanjang rakyat Songkhra menyentuh tanah negeri Tanjung Nagara, seakan-akan sambutan kehangatan dan pelukan para petinggi kerajaan itu adalah rumah yang sesungguhnya bagi jiwa-jiwa tersesat mereka.
Namun sekarang, Putri Nilam Cahya sudah memaktubkan di dalam hati dan jiwanya bahwa Labai Lawai itu sendiri adalah si Tanjung Nagara yang sejati.
Meskipun sudah banyak orang tua yang kehilangan anak laki-laki mereka di medan perang, sudah banyak pula istri yang kehilangan suami mereka dalam menghadapi ancaman yang datang dari luar, Putri Nilam Cahya tak mungkin berhenti. Malah akan menjadi sebuah pengkhianatan besar bagi jiwa-jiwa mereka yang telah tiada bila sang pemimpin membiarkan kekuasaan asing menaklukkan Labai Lawai tanpa perlawanan.
Tongkat cemeti yang sudah dianugerahkan oleh sang Pamanda sendiri, Dama’ Bulan sang Aji Melayu, bersama lima paman-paman Panglima lainnya, adalah tanda kepercayaan yang begitu besar. Hatinya bungah atau mencelos, ia tak tahu pasti. Yang jelas, hari ini tongkat cemeti kembali menunjukkan kepantasannya di tangannya. Sewaktu ia masih kecil untuk menerima tongkat kepemimpinan itu, masalah silih berganti menerpanya. Godaan dan tantangan adalah bagian dari jalur hidupnya. Oleh sebab itu pula, harusnya saat ini ketika keputusan-keputusan besar ditumpangkan ke kedua tangannya sekaligus, ia akan menghadapinya seperti biasanya, seperti seharusnya.
“Pamanda, Wilwatikta akan menyerang lagi. Kali ini mereka tidak akan mau kalah. Mereka pasti akan mengerahkan kemampuan mereka sebagai sebuah kemaharajaan agung yang tidak mau dikadali oleh sebuah negeri kecil. Labai Lawai menjadi semacam gerbang kecil bagi mereka untuk kemudian masuk ke dalam dan menaklukkan kerajaan-kerajaan lain. Tak terkecuali Tanjung Nagara,” ujar sang putri berkeluh kesah kepada Manok Sabong.
Ketiga putranya juga hadir di sana.
Arya Jamban sang sulung menunggu dengan khidmat apa yang hendak diputuskan dan diperintahkan sang ibunda sekaligus putri kerajaan Labai lawai tersebut.
Kedua adiknya telah siap pula dengan hati dan jiwa mereka.