Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #93

Bau Anyir Darah Menyelip di Retakan Angin

Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah salah satu putri dari Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. Sebelumnya, saudara laki-lakinya yang berbeda ibu, Jayanegara, telah mangkat oleh tusukan keris tabib pemberontak, Ra Tanca. Desas-desus mengatakan bahwa Jayanegara tidak pantas untuk memimpin kerajaan besar itu karena ia separuh darah Melayu, dari permaisuri Dara Petak yang diangkut dari reruntuhan Sriwijaya oleh Raden Wijaya yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana itu.

Sungguh jenaka kehidupan ini bila dipikir-pikir ulang. Kerajaan Wilwatikta agung sedang gencar-gencarnya menunjukkan taringnya ke seantero nusantara, menundukkan perbagai tempat, wilayah, tanah, dan kerajaan dipimpin oleh seorang raja perempuan, sama seperti Putri Nilam Cahya sendiri.

Bila Putri Nilam Cahya hanya ingin membangun rumah dan keluarganya di Labai lawai, Raja perempuan Tribhuwana Wijayatunggadewi yang bernama asli Dyah Gitarja itu ingin menegaskan kepada dunia bahwa Wilwatika, dengan raja ketiganya itu, akan menjadi pusat kepemimpinan nusantara.

Prabu Jaya, didaulat untuk mempimpin beberapa jung Wilwatikan menyebrangi lautan, membawa pasukan handal dan terbaik dari kerajaan, untuk memastikan tidak ada lagi permainan kekalahan yang sudah dialami dua pasukan ‘kecil’ mereka sebelumnya. Tidak heran, ketika sang ratu mendapatkan laporan bahwa pasukan mereka dihalau dan dikacaubalaukan oleh pasukan orang-orang Hujung Tanah yang bersenjatakan hantu-hantu tanpa kepala, raksasa-raksasa hampir tak kasat mata yang menyibak pucuk-pucuk pepohonan dengan kepala mereka yang besar dan mulut menyeringai bertaring, serta mahluk-mahluk gaib lainnya, Prabu Jaya diperintahkan untuk menutup penundukan kerajaan-kerajaan di Hujung Tanah dengan pasti nan segera.

Ilmu kanuragan puluhan orang pasukan utama Wilwatikta saja sudah bisa dianggap mumpuni untuk melawan ilmu sihir Hujung Tanah. Mereka tidak berpanah, tidak bertombak panjang, melainkan berpedang pendek, dengan beberapa bilah keris terselip di sabuk pinggang, bertameng bulat kecil, beberapa berzirah rantai beberapa bahkan bertelanjang dada. Mereka dikenal dengan kemampuan ilmu kanuragan yang tidak biasa. Selain gesit luar biasa, mereka juga kebal, bersenjata pusaka dengan beragam kekuatan, serta mampu melihat sosok-sosok gaib yang melayang di atas tanah.

Pasukan cetbang dan panah turun ke pantai. Mereka digunakan untuk membuka jalan bagi para penombak. Beberapa bagian pasukan lain bertugas membakar dan mengalihkan rintangan seperti kayu-kayu besar nan lancip yang ditancapkan ke tanah mengarah ke lawan.

Awan kelabu merangkak di langit, seperti mengekor kedatangan para prajurit agung tersebut. Ombak menyapu pantai yang penuh sampah peperangan sebelumnya. Bau anyir darah menyelip di retakan angin, menembus asap hitam dari api yang menjilat rintangan-rintangan kayu lancip yang dipasang para ksatria Mualang.

Kematian tertawa terbahak-bahak melihat anak-anak manusia terbawa nafsu haus memunuh.

Bende makin nyaring ditabuh, bukan sekadar pemberi semangat, melainkan sebagai bentuk perlawanan pada tetabuhan nada-nada sihir dari balik hutan yang dikirimkan oleh pasukan Labai Lawai. Mahluk-mahluk halus yang telah diberi izin untuk merasuk ke dalam tubuh para pejuang Mualang menyentak-nyentak kegirangan. Sisanya, raksasa berbulu panjang dan bertaring tajam, para pejuang masa lalu yang berjalan dengan mandau di tangan tetapi tanpa kepala karena terputung musuh di masa lalu, anjing dan babi-babi hutan siluman, dan hantu-hantu berbentuk aneh lainnya berbondong-bondong menyambut lawan.

Anak-anak panah dan peluru timah berapi meluncur ke perbukitan dengan pepohonan rapat yang menjadi benteng alami Labai Lawai.

Lihat selengkapnya