Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #94

Menyembul Muncul dari Balik Lapisan Bumi

Pasukan gabungan Labai Lawai, Tanjung Nagara, suku-suku pedalaman Hujung Tanah, termasuk para ksatria Mualang dan Melayu boleh saja beringas nan ganas. Roh nenek moyang boleh saja membantu mereka menjadi kesetanan dan tanpa takut sama sekali. Namun, pasukan Wilwatikta yang tertata menyerang dengan penuh perhitungan, pun berani dan berilmu kanuragan mumpuni.

"Om, sirna ta kala alas, sirna ta sarwa bhūta lwir angin, tan hana sira kang kadulu, tan hana sira kang kadangu, apan cahya Sang Hyang Agni lumampah ring marga kawula." Wahai segala kegelapan hutan, wahai makhluk-makhluk yang berkelana bagai angin, jangan tampakkan dirimu, jangan ganggu pendengaran kami, sebab cahaya api suci berjalan bersama pasukan ini.

Mantra-mantra dibacakan dengan berbisik oleh para pasukan inti Majapahit yang sudah merambat naik mengitari bukit selagi pasukan lapisan satu dan dua bertarung dengan pasukan Labai Lawai dan Tanjung Nagara yang membabibuta.

Tan wedi aku, tan guncang ati, dagingku bumi, getihku banyu, napasku bayu, suksmaku cahya." Aku tidak takut, hatiku tidak goyah, tubuhku adalah bumi, darahku adalah air, napasku adalah angin, jiwaku adalah cahaya.

Keris dihunus, pedang lolos dari sarungnya.

Mahluk-mahluk gaib yang membantu para pasukan Mualang terlihat jelas di mata pasukan inti nan utama Wilwatikta. Pandangan mereka tajam, rahang mereka menegang, tujuan mereka terpusat.

Sapa sira kang teka tanpa jeneng, mulihana. Sapa sira kang lumampah tanpa badan, mulihana. Sapa sira kang nyilih peteng, sirna ta. Tan kena nyandhak bala Wilwatikta.” Siapa pun engkau yang datang tanpa nama, pulanglah. Siapa pun engkau yang berjalan tanpa tubuh, pulanglah. Siapa pun engkau yang meminjam kegelapan, lenyaplah. Engkau tak boleh menyentuh pasukan Wilwatikta.

Sembari berteriak keras, pasukan Wilwatikta yang telah melalui puluhan pertempuran itu entah bagaimana keluar mendadak menyembul muncul dari balik lapisan bumi, menyergap musuh dari samping kiri dan kanan. Keris dan pedang mereka menyobek tubuh sihir para mahluk adikodrati.

Mereka yang tanpa kepala, yang bertubuh rusak penuh nanah, yang separuh binatang separuh manusia, yang melayang-layang, yang merangkak, yang melompat-lompat, tersibak sebegitu rupa oleh bilah-bilah besi tajam yang memancarkan udara panas. Mahluk-mahluk itu memekik sedemikian rupa, begitu pula pada inangnya ketika pedang menebas tubuh mereka, menyobek kulit yang seharusnya sekeras batu sungai dan daging yang setebal karang.

Darah menyembur, rasa sakit menjalar tak terperi, liar, seliar teriakan semula mereka.

Lihat selengkapnya