Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #95

Memayungi Angkasa dan Melingkupi Para Ksatria

Pasukan penyumpit mundur bukan karena pengecut. Sang Tumenggung sudah menyadarkan bahwa peperangan masih berlanjut. Mati konyol tanpa memberikan perlawanan terbaik adalah tindakan bodoh nan dungu.

Lapis terakhir pejuang gabungan Mualang Melayu Labai Lawai, pasukan Tanjung Nagara, berserta ksatria-ksatria kampung-kampung suku-suku Hujung Tanah yang berpihak kepada Putri Nilam Cahya, kembali menyusun kekuatan.

Mereka mengguyur tubuh mereka dengan darah babi. Para Lapongke menggeliat, menjilati tubuh tertutup darah itu dengan lidah-lidah panjang mereka yang menjulur bak ranting-ranting raksasa pepohonan. Para prajurit kini kembali dilapisi ilmu berkat restu mahluk-mahluk penjaga bumi Hujung Tanah tersebut.

Bukit-bukit yang menjadi benteng alam Labai lawai sudah tertembus. Pasukan inti Wilwatikta dengan ilmu kanuragan yang tidak bisa dianggap remeh, ilmu gaib yang juga tak kalah mengerikan. Sangat bisa dimaklumi bila untuk serangan ketiga kalinya ini, negeri baru seperti Wilwatika yang agung itu tidak akan mengendurkan sedikit pun usaha mereka untuk menunjukkan taringnya kepada wilayah-wilayah jajahan yang harus menerima kebesaran dan kekuatan mereka.

Rerumputan tersibak. Derap langkah perkasa menghentak bumi, menggetarkan bumi Labai Lawai. Bagai air menembus bendungan yang retak, pasukan inti dan utama Wilwatikta yang menyemburi dari perbukitan turun terus menggelinding ke jantung pertahanan kerajaan.

Masih belum terlihat bangunan di sana. Tak rumah penduduk, tak bangunan pertahanan kerajaan. Ladang pertanian warga, temtumbuhan buah-buahan dan sayuran, serta beberapa petak lahan yang digunakan untuk peternakan babi dan ayam.

Sejenak lagi, semuanya akan hancur lebur dan banjir darah.

Dua kekuatan kini saling berhadapan. Tak lama, teriakan perang memecah langit dan kedua kekuatan tersebut bertubrukan di tengah.

Jarum-jarum sumpit meluncur memanjati angin. Pasukan Majapahit menunduk, merunduk, bergulingan, berjumpalitan. Satu dua terkena dan tersentak jatuh berdebum ke tanah. Namun, sisanya melaju tak terbendung. Yang kebal dan mampu merapal jurus dengan cepat, menepis jarum-jarum itu dengan mudah.

Pasukan penyumpit melolong keras ketika keris menyobek lambung mereka, menumpahkan isinya. Para Lapongke menggeram. Bilah-bilah keris dan pedang pasukan dari Jawadwipa tersebut telah dilapisi kekuatan sakti yang tak mereka kenal. Panas membayang di lapisan logam senjata-senjata tersebut, membakar kulit gaib mereka.

Walaupun begitu, Majapahit bukannya tanpa perlawanan. Mata-mata tombak yang berada di ujung sumpit kini menderu menandai pertentangan. Tak peduli betapa kuatnya pasukan inti tersebut, ujung tombak yang patah pun tak menjadi perihal. Mereka melompat, mencoba mencekik leher atau menusukkan jari-jari mereka ke bola mata lawan. Dan, tentu saja, banyak yang berakhir dengan kematian karena pedang menebas dada dan memutus leher, keris menusuk jantung dan memecahkannya.

Namun, ketika Prabu Jaya merasa bahwa kemenangan hanya dalam hitungan tarikan nafas, kejutan muncul dari berbagai penjuru.

Dari rawa-rawa berlumpur di sekitar ladang, pasukan muncul. Tubuh mereka yang penuh rajah ditutupi lumpur gelap. Prabu Jaya dapat melihat jelas, kekuatan sihir yang lebih besar menyertai di belakang mereka.

Lihat selengkapnya