Prabu Jaya melihat perubahan besar dari semangat lawan yang tersentak sebegitu rupa tersebut, tidak ingin membuang-buang waktu. Ia menusukkan ujung kerisnya ke tanah yang lembap. Kerisnya bergetar, seolah menghunjam ke lingkaran kekuatan yang tak kasatmata. Ia lalu membuka telapak tangan kirinya untuk menaburkan segenggam tanah Jawadwipa yang selama berbulan-bulan dibawanya dalam kantung kulit kerbau, terkatung-katung di atas jung perang Wilwatikta menuju ke Hujung Tanah.
Ia kembali berseru lantang, lebih lantang dari seruan sebelumnya, “Om ring bhumi Hujung Tanah…”
Angin yang sejak tadi bertiup dari arah hutan mendadak berhenti. Burung-burung lenyap. Bahkan derik serangga pun hilang.
Para dukun dan pemimpin perang pasukan Mualang mendadak saling pandang. Mereka tahu. Ada sesuatu di rimba yang baru saja berpindah tuan.
Sang raksasa tak kasatmata, berbulu, bertaring-taring tajam, dan bertangan panjang melingkupi para pejuang Mualang dan suku-suku asli Hujung Tanah yang mendukung perjuangan Labai Lawai itu mengaum. Jeritan kepedihan dan keterpaksaan. Ia mengangkat kedua tangannya ke angkasa, kemudian menumbukkannya ke tanah dengan penuh amarah dan kekecewaan.
Tubuhnya yang besar itu kemudian seperti terseret oleh kekuatan aneh. Ia menggasruk beberapa prajurit Mualang, melemparkannya ke samping, sebelum tubuh gaibnya terempas ke arah Prabu Jaya, terus bergulingan sampai ke belakang pasukan Wilwatikta.
Inilah kemampuan seorang Panglima pasukan inti Majapahit yang digdaya. Bukannya melawan musuh langsung dengan beradu batu kesaktian, dengan cerdik cendekia, Prabu Jaya merampok kekuatan lawan. Mahluk raksasa, bagian dari suku gaib Lapongke itu direbut, dipaksa untuk tunduk pada kekuatan dari tanah Jawadwipa, menjadikannya sekutu, atau diperbudak kalau terpaksa.
Dalam masa itu, beragam kekuatan lawan rontok perlahan. Pasukan Wilwatika menerjang dengan sigap. Keris dan pedang mereka menusuk menebas. Kekebalan kulit lawan terkikis. Mereka tersentak ke belakang. Barisan terdepan berjatuhan, menciptakan ruang untuk dijejak, diinjak, ditusuk terus-menerus selagi mereka kehilangan keseimbangan dan kendali.
“Om ring bhumi Hujung Tanah…”
Mantra itu kembali dirapal, sama lantang, sama kerasnya.
Arwah leluhur yang bersemayam di dalam tubuh-tubuh para prajurit Mualang seakan tercerabut keluar melalui ubun-ubun mereka. Saat itulah pasukan Wilwatikta balik membabat keras pasukan lawan yang terlihat kebingungan dan kocar-kacir.
Pedang lantang melintang, keris mengiris, pasukan Mualang dan suku-suku Hujung Tanah pendukung Labai Lawai memerah bersimbah darah.
Para tumenggung dan pemimpin pasukan yang melihat jalannya pertempuran tentu tidak bisa membiarkan pertahanan kedua dari Labai Lawai kembali menuju ke arah kekalahan. Pasukan mereka yang awalnya beringas muncul dan menyerang dengan trengginas kini dipukul balik dengan keras.