Tidak ada lagi pasukan, tidak ada lagi gelar, tidak ada lagi barisan dan regu, yang ada adalah tiap raga bertaruh nyawa. Semua telah bubar, tidak terkecuali kekuatan gaib yang semula didukung oleh para penunggu pulau.
Majapahit besar namanya bukan tanpa alasan. Dari pelosok ke pelosok, dari pesisir ke pesisir, para panglima, hulubalang, dan ksatria sudah menggoreskan kematian di tempat-tempat yang mereka ingin tundukkan tersebut. Terbukti pula, butuh tiga kali serangan untuk meyakinkan bahwa tanah yang kemaharajaan Jawadwipa itu kehendaki sungguh-sungguh jatuh ke dalam kekuasaan mereka.
Peta peperangan sudah kacau balau. Pasukan utama Wilwatikta kini sudah disusul oleh prajurit lainnya yang tentu saja sudah berhasil memenangkan pertempuran pula.
Ksatria Mualang gugur. Pasukan suku-suku lain yang membantu Labai Lawai tercerai-berai. Satu kekuatan besar yang kini berada di wilayah perbukitan itu, tersisa dari kelompok pasukan lainnya, adalah belasan prajurit Tanjung Nagara.
Pasukan Wilwatikta, dengan keris terhunus diselimuti darah, pedang pendek yang telah memakan nyawan, dan semangat yang membabibuata, tanpa banyak kata langsung menyerang belasan raga segar itu.
Teriakan kembali pecah ke udara, naik ke langit, menembus sengkuap hutan yang dinaungi oleh ranting dan dedaunan yang tebal-tebal, kemudian kembali lagi ke bumi dalam bentuk curahan darah.
Tusuk-menusuk, menjegal, mendupak, ditambah babatan, bacokan, dan sabetan, adalah lukisan berwarna gelap yang terjadi di medan perang saat itu. cacahan daging manusia terlempar dan tersangkut di ilalang, batang pepohonan, dan jatuh ke tanah terinjak-injak. Darah menggenang tertumpah bagai air mancur.
Sebuah pertempuran yang sungguh tak seimbang. Prajurit Wilwatika, yang utama maupun yang tidak, merengsek maju, menepis repumputan, menusuki tubuh yang masih mengejang di atas tanah, menyelesaikan tugas mereka di dunia, menghabisinya. Perbukitan Labai Lawai riuh rendah bukan lagi oleh teriakan peperangan, melainkan jeritan nafas terakhir dan kematian, yang diselingi kaokan burung liar.
Putri Nilam Cahya mengela nafas panjang. Air mata memang mengalir di pipinya, tetapi raut wajahnya mengeras, antara ketabahan, kepasrahan, sekaligus penerimaan. Rumah yang ia bangun, yang kembali ia kunjungi setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah dimana pusara Ibundanya berada tersebut kini sudah diambang kehancuran. Sudah berkali-kali dalam waktu yang pendek dengan kepercayaan diri yang menyundul langit, ia usir para perompak, pengacau, pengayau, termasuk penjajah dari kekuasaan yang lebih besar seperi Majapahit itu, hanya untuk menyadari bahwa semua usahanya akhirnya sia-sia.
Apa sungguhnya yang dimaksud dengan tanah dan rumah? Lalu keluarga? Bagaimana dengan negara?
“Aku perintahkan untuk membawa pergi orang tua, perempuan dan anak-anak dari Labai Lawai,” ujarnya kepada Manok Sabong. “Pamanda adalah pusat pimpinan tertinggi dari pasukan Labai Lawai. Aku sekali lagi meminta pertolongan Pamanda yang sangat kuhormati dan kucinta, kukasihi dan kusegani, untuk melaksanakan perintah ini.”