Human Nature

ZAHRA SAFARR
Chapter #2

Max Hillary Parish

"Aku bukan anak kecil lagi, Ayah! Aku tahu apa yang akan aku lakukan, dan aku hanya akan melakukan apa yang ingin aku lakukan." Pria jangkung berambut ikal itu bangkit dari tempat duduknya yang terasa semakin panas.

"Melakukan apa yang ingin kamu lakukan? Apa yang kamu maksud itu masalah yang ingin kamu lakukan!?" Pria berumur hampir lima puluh tahun itu tak kalah keras kepalanya dengan putranya tersebut.

Max Hillary Parish, putra semata wayang Tuan Parish, satu-satunya pewaris Parish Global Grup, perusahaan development ternama di kota New York. Hubungannya dengan sang Ayah terlalu kontras, bahkan setiap pertemuan mereka, selalu dihiasi dengan perdebatan demi perdebatan. Tuan Parish yang selalu ingin mengatur pionnya, tetapi pion itu punya kaki dan keinginan sendiri.

"Dua tahun lalu, Ayah memaksaku kuliah di jurusan yang tidak aku inginkan, hanya untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin perusahaan. Dan sekarang, Ayah memaksaku lagi untuk menikahi Jennie!? Wanita manja penuh obsesi itu? TIDAK AKAN!!" Max mulai meninggikan suaranya.

"Kamu belum paham, Max... Semua ini demi kebaikanmu–"

"Hah! Kebaikan perusahaan Ayah, kan, maksudnya?" Tuding Max yang seketika membuat mata Ayahnya melebar.

"Sudahlah, Ayah... Apa yang Ayah lakukan semua itu bukan untuk kebaikanku. Tapi untuk kebaikan bisnis Ayah sendiri. Aku sudah paham itu, meski Ayah tidak pernah mengatakan sejujur itu. Dan satu hal yang juga perlu Ayah pahami...."

"Aku bukan anak kecil lagi." Kalimat terakhir Max menguar sebelum akhirnya langkah lebarnya meninggalkan ruang keluarga. Menyisakan api di dalam benak sang Ayah yang tersinggung dengan tudingan anaknya. Tudingan yang ada benarnya, tetapi ia berusaha mengelak.

Langkah Max cepat menjinjing sebuah tas agak besar di lengannnya. Dan ketika tangannya memutar kenop pintu, sebuah tangan lembut menahannya.

"Ibu..." Ucap Max lirih di depan wanita yang sangat ia sayangi.

Wanita berwajah teduh yang kini meneteskan air mata itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan ia mengetahui bahwa putra kesayangannya akan pergi dan tak ingin menjadikan rumah tempat ia besar sebagai tempat pulangnya lagi.

Telapak tangan Max menyentuh pipi sang Ibu dengan lembut. "Aku akan baik-baik saja, Bu... Kita bisa bertemu di taman kota setiap tanggal 7, oke?" Ujarnya sambil mengecup dahi Ibunya yang mengerut menahan tangis.

Max dan Ibunya lahir di tanggal yang sama, hanya berbeda bulan. Max sudah memutuskan sebelumnya bahwa ia akan hidup seorang diri jika Ayah tetap bersikeras mengatur hidupnya semena-mena. Dan berjanji akan menunggu Ibunya di taman kota setiap tanggal 7, agar di setiap hari ulang tahun mereka bisa bertemu... Max bukannya membenci Ayahnya, dia hanya membenci cara Ayah memperlakukan dirinya.

Lihat selengkapnya