Hari ini akhir pekan. Mengingat ia memberikan tugas observasi kepada mahasiswanya beberapa hari yang lalu, Asya justru tertarik melakukan observasi itu sendiri. Menggunakan sepatu boot berwarna cokelat tua dan syal merah melilit lehernya, ia berniat untuk berjalan-jalan mengelilingi kota tanpa tujuan pasti. Sekadar melihat-lihat apa yang terjadi di sana, setelah sekian lama ia mengurung diri di rumah.
Keluar rumah hanya untuk mengajar dan berbelanja, membuatnya lupa bahwa kota New York juga punya sisi tenang. Terhitung satu tahun hidup di kota yang penuh gemerlap ini, Asya ikut terbawa suasana menjadi manusia-manusia yang sibuk berjalan cepat dengan urusannya Masing-masing.
'Bagaimana bisa aku mengajarkan kemanusiaan, sedangkan aku sendiri lupa menjadi manusia?'
Ia menunduk sambil menyembunyikan kekehan kecilnya. Rutinitasnya di sini perlahan membuatnya sedikit menjadi robot. Atmosfer yang sangat berbeda dengan negeri tempatnya dilahirkan. Indonesia, negeri yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya dan senyum hangat penduduknya. Meski tak pernah benar-benar lepas dari label "negara berkembang" sejak ia duduk di bangku sekolah sampai sekarang, saat ia telah menjadi seorang Professor of Moral Philosophy di negeri orang.
Setelah berjalan beberapa ratus meter dari rumahnya, berhenti dan memerhatikan sesaat setiap hal yang ia sua, langkahnya berhenti di sebuah ttama–yang sebenarnya sudah sejak lama ingin ia kunjungi.
Sekelompok anak kecil bermain riang di bawah pohon besar di tengah taman kota itu. Asya melipat kedua lengannya, tersenyum kecil. Tawa mereka yang lepas tanpa beban mengingatkannya pada masa kecil di kampung halaman. Pada kedua orang tuanya.
Dan—tentu saja—pada perdebatan terakhir mereka tentang hal klise: Kapan menikah? Pertanyaan yang sangat malas untuk ia tanggapi.
Bukannya tak mau. Tapi, di usianya yang dua puluh enam tahun ini, Asya merasa masih belum siap memikul beban sebagai istri, apalagi ibu. Masih banyak yang harus ia siapkan. Terutama mentalnya. Baginya, menjadi wanita yang punya gelar ganda itu tidak semudah meraih gelar profesor yang sudah ia punya.
Menjadi ibu, harus punya kecerdasan menyiasati GTM pada anak, ketelitian dalam menyeleksi makanan yang hendak masuk ke dalam mulut anak, kedewasaan untuk menyeimbangkan tugas istri-ibu dan bagian dari keluarga besar. Keahlian di beberapa bidang, seperti: memasak, menjahit celana bolong–hal ini akan menghemat budget belanja pakaian yang hanya bolong kecil. Sampai keikhlasan untuk mengedepankan kepentingan keluarga dibandingkan keinginan pribadi. Dan untuk semua itu, ia belum siap.