Human Nature

ZAHRA SAFARR
Chapter #4

The Sweetest Apple Pie

Hari ini akhir pekan. Mengingat ia memberikan tugas observasi kepada mahasiswanya, Asya justru tertarik melakukan observasi juga. Ia pun berniat untuk berjalan-jalan mengelilingi kota tanpa tujuan pasti.

Sesampainya di sebuah taman, langkahnya terhenti.

Sekelompok anak kecil bermain riang di bawah pohon besar di tengah taman kota. Asya melipat kedua lengannya, tersenyum kecil. Tawa mereka yang lepas tanpa beban mengingatkannya pada masa kecil di kampung halaman. Pada kedua orang tuanya.

Dan—tentu saja—pada perdebatan terakhir mereka tentang hal klise: kapan menikah? Pertanyaan yang sangat malas untuk ia tanggapi.

Bukannya tak mau. Tapi, di usia dua puluh empat tahun, Asya merasa belum siap memikul beban sebagai istri, apalagi ibu. Masih banyak yang harus ia siapkan. Terutama mentalnya. Baginya, menjadi wanita yang punya dua tittle itu tidak semudah meraih gelar S2 yang sudah ia punya.

Menjadi keduanya, harus punya kecerdasan, ketelitian, kedewasaan, keahlian, dan keikhlasan untuk mengedepankan kepentingan keluarga dibandingkan keinginan pribadi.

Lamunannya soal menikah tiba-tiba terpecah tatkala ia melihat sosok lelaki berambut ikal muncul dari balik pohon besar itu. Sebuah kain putih menutup matanya. Kedua tangannya terulur ke depan, meraba udara, sementara anak-anak di sekelilingnya menahan tawa.

Salah satu bocah berhasil ia tangkap. Tangannya meraba hidung kecil itu sebelum turun menggelitiki pinggangnya. Bocah itu meledak dalam tawa.

Mereka bermain tutup mata.

Dari kejauhan, Asya dapat menyimpulkan bahwa mereka sering melakukan kegiatan bersama. Tampak keakraban mereka sangat dekat. Dan ketika matanya mengenali salah satu anak di antara mereka... Dia kan anak perempuan yang rumahnya kena gusur beberapa hari yang lalu?

Lihat selengkapnya