"Dua Crunchy Taco Supreme." Sorang pelayan memakai aksesoris topi sombrero kecil di atas kepalanya menyodorkan pesanan Asya dengan hati-hati.
"Gracias," ucap Asya dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Pelayan itu tersenyum ramah. Tak banyak yang mengucapkan terima kasih menggunakan bahasa Spanyol. Dan Asya adalah pelanggan setia yang tahu bagaimana menghormati budaya orang.
Setelah mendapatkan pesanannya–yang akan ia makan sebelum jam mengajarnya berlangsung, Asya memutuskan untuk memakannya di bangku dekat kampus.
Tak jauh. Tak perlu naik taxi. Selama tinggal di New York, hidupnya jauh lebih sehat dengan berjalan kaki ke mana-mana, tidak seperti di Indonesia–yang bahkan sekadar membeli nasi gorengpun ia lebih memilih naik motor. Yah ... Mungkin karena motor sudah dianggap sebagai 'budaya' bagi mereka. Malah terlihat aneh melihat orang jalan kaki untuk pergi ke tempat kerja.
Sayup-sayup ia mendengar petikan gitar dari kejauhan. Semakin ia melangkah mendekati gerbang kampus, suara itu terdengar lebih jelas.
Cukup ramai orang mengerumuni beberapa pengamen jalanan yang tengah membuat pertunjukan kecil-kecilan di pinggir jalan, tanpa memakan hak pengguna jalan. Kolaborasi alunan gitar dengan kajon ... dan suara lembut itu sukses menghipnotis banyak orang.
Where did you come from, lady?
And, ooh, won't you take me there
Right away, won't you, baby?
Tenderoni, you've got to be
Spark my nature, sugar fly with me
Don't you know now is the perfect time?
We can make it right, hit the city lights
Then tonight, ease the loving pain
Let me take you to the max
I want to love you (P.Y.T.)
Pretty young thing