Tik... Tok..
Tik.. Tok...
Max menutup rapat matanya. Seolah menghitung mundur waktu yang ingin segera ia akhiri. Hari ini, hari yang terlalu memuakkan baginya. Bahkan untuk membawa sebuah pulpen saja rasanya sangat berat. Hari ini dia pergi kuliah hanya membawa badan. Untungnya, masih terpikir untuk mandi sebelum berangkat.
“Alright, everyone. This will be our final class meeting." Ungkapan yang Max tunggu-tunggu akhirnya datang dari lelaki berjambang lebat yang berdiri di depan kelas.
Max yang duduk mematung di bangku paling belakang, akhirnya membuka mata dan meregangkan tangan dan kakinya perlahan.
"Setelah pertemuan terakhir ini, diharapkan kalian bisa fokus pada pengerjaan thesis kalian. Sesuai dengan judul yang telah disetujui oleh advisor masing-masing. Bisa dipahami?"
"Yes, sir!" Jawab mereka hampir serentak.
Dosen itu akhirnya keluar dari kelas setelah menutup pertemuan dengan beberapa informasi kecil terkait jadwal thesis. Tak membuang waktu juga, Max segera bangkit dari kursinya yang terasa semakin panas.
Dua tahun... Ah, bukan. Total enam tahun ia kuliah di kelas yang sama sekali bukan keinginannya: Bussiness Management. Itu adalah pilihan Sang Ayah–yang keinginannya tak bisa dibantah. Bukan cuma jengah, lama kelamaan, kebencian terhadap keputusan sang Ayah lahir di dalam dirinya. Selama ini, ia terus menjawab "oke" pada setiap keputusan sang Ayah. Yang ia pun tak tahu sampai kapan.
Awalnya, sepulang jam kuliah itu, ia berencana untuk pergi ke perpustakaan. Menyelesaikan thesisnya yang tinggal separuh perjalanan. Ia ingin segera menyelesaikan semuanya, tetapi ... langkahnya terhenti tepat di depan pintu perpustakaan.
"Sial. Aku sangat muak dengan ini semua!" Max mengacak kasar rambutnya dan berbalik arah. 'Mungkin istirahat untuk beberapa hari tidak membuatku gila lebih cepat,' batinnya.
Langkah gontainya menuju danau kampus. Ia duduk di tepi danau, sambil mengeluarkan sepotong roti tawar dari saku celananya. Sedikit demi sedikit ia mencuil roti tersebut dan menebarnya ke danau. Sekejap remahan roti itu disambar oleh ikan-ikan yang kelaparan. Max memandangi kerumunan ikan di depannya yang berebut makanan yang ia tebar. Sendirian... Tanpa seorang pun di sampingnya. Konsisten selama enam tahun perkuliahannya.
"Sebentar lagi, aku akan menyelesaikan semuanya." Ia mengebuskan napas berat. "Lalu ... Apa?" Max melemparkan remahan roti dengan kasar ke permukaan air.