"Hilang lagi?" Asya mengacak tumpukan buku dan loker mejanya kebingungan. Mencari sesuatu yang berkali-kali raib dari kepemilikannya. Padahal benda itu adalah benda yang pasti dan selalu ia bawa ke mana-mana. Apa itu?
"Ada yang lihat penaku?"
"Lagi?" tanya seorang wanita yang sedikit lebih dewasa darinya menggelengkan kepala. "Mungkin sudah terhitung tiga puluh kali kamu beli pena baru, Professor Asya...." Ejeknya.
"Ini bukan pena biasa. Duh ... Aku lupa menaruhnya di mana. Kemarin aku membawanya ke kelas sore, kemudian...." Asya berusaha mengingat kembali dengan menjentikkan dagunya.
"Kau bisa memakai punyaku," tawar kawannya itu.
"Tidak perlu, terima kasih. Bukan masalah besar. Aku akan segera masuk kelas." Asya meraih dua buku tebal di atas mejanya dan bergegas keluar kantornya.
Tak ada waktu lagi mencari pena yang ke tiga puluhnya itu. Di rumah, dia sudah menyetok dua lusin pena. Tapi pena yang hilang itu termasuk pena kesayangannya. Pena berwarna biru langit dan terukir custom namanya dalam bentuk kaligrafi yang indah. Pena yang khusus ia gunakan untuk menulis catatan hariannya.
Di kelas.
"Selamat sore, semua. Maaf atas keterlambatan saya hari ini. Dan ... " Asya menghentikan ucapannya. Matanya memicing melihat ada yang tidak beres dengan beberapa mahasiswanya.
"Alex, Joe, Boby...." Seketika mahasiswa yang terpanggil itu mengangkat tangannya ke udara.
"Yes, Professor."
"What's going on with you, guys?" tanya Asya terkejut dengan kondisi wajah ketiga mahasiswanya hampir penuh dengan lebam.
Mereka saling melirik dan enggan menjawab. "Joe, jawab saya."
"Ehm... Gang hantu itu lagi, Professor," jawabnya nyaris berbisik.