Semakin matahari meninggi, kota New York semakin ramai dan sesak. Ratusan mobil berlalu lalang, ribuan orang memenuhi jalanan. Ada yang hanya sekadar lewat, ada yang berdiri lama sambil bercengkrama bersama rekan kerja, atau mengantre secontong es krim.
"Aku! Aku!"
"Aku lebih dulu datang!"
"Sabarlah!"
"Hei, kakiku!"
“Bukan aku! Dia!”
“Kau menginjak kakiku!”
Anak-anak kecil mengerumuni gerobak es krim yang terkenal di kota itu. Terkenal enak dan harga yang jauh lebih murah dibandingkan truk Mister Softee. Tak ada yang aneh dari pemandangan itu, kecuali seorang pria berusia 30 tahun yang juga ikut mengantre bersama anak-anak itu.
Matanya fokus memerhatikan kelincahan tangan si penjual menuangkan es krim di atas sebuah cone renyah. Memutar cone dan membentuk sebuah lipatan-lipatan krim yang keluar dari keran mesin es krim.
"Es krim coklat kacang!!" teriak si penjual ke arah kerumunan pengantre.
"Aku!"
"Punyaku!"
"Hey, itu punyaku!" teriak Max di sela anak-anak yang berebut es krim. Seluruh mata memandangnya yang tak kalah antusias. Kemudian tertawa melihat kelucuan wajahnya.
"Ayolah, Max ... Kami masih anak-anak."