Tubuh kecil meringkuk di bawah selimut tebal nan nyaman miliknya, namun tak cukup nyaman baginya untuk mengobati luka yang ia derita. Tubuhnya gemetar menahan tangis dan perih di betisnya yang kecil. Namun rasa perih dalam hatinya jauh lebih menyakitkan.
Dari kejauhan, ia mendengar derap langkah menuju pintu kamarnya. Genggamannya makin kuat meremas seprai ranjangnya, matanya tertutup rapat, tubuhnya mengejang–bersiap menahan kembali pecutan yang mungkin akan ia terima kembali atas kenakalannya hari ini.
Pintu kamar terbuka. Jantungnya berdebar lebih kencang. Dan ketika seseorang menyibak selimutnya...
"Oh, sayang!" Seorang wanita memeluknya erat dari belakang sambil tersedu.
"Ibu?"
"Ya... Ini Ibu, Nak.. Kemarilah, sayang." Ibu menarik tubuh kecil di depannya untuk kembali jatuh di pelukan hangatnya.
"Ibu, maafkan aku," kalimat itu keluar dari mulut anak laki-laki berusia sembilan tahun.
"Ibu yang seharusnya minta maaf atas apa yang Ayah lakukan padamu, Max..." Matanya beralih pada kedua betis Max yang lecet kemerahan. Tampak beberapa garis yang mengeluarkan sedikit darah. Matanya terbelalak sambil menutup mulutnya saat melihat keadaan putra kecilnya itu.
Ibu berlari keluar kamar dan segera kembali dengan membawa kotak Medkit dan kompres air hangat di tangannya. Dengan lembut, ia mengompres luka dan lebam yang memenuhi betis Max kecil. Merawatnya dengan penuh kehati-hatian, seakan sedang merawat sebuah guci mahal yang hampir retak.
Ibu memberikan obat luka dan menutupnya dengan plester agar tak terkena goresan celana atau seprai yang mungkin bisa menimbulkan rasa sakit. Dan terakhir, ibu meniup lembut kedua betis Max, kemudian mencium kening putranya itu, "Ibu sungguh minta maaf."
Max menggeleng. "Aku yang minta maaf, Ibu... Aku seharusnya tidak membuat kalian kecewa dan khawatir. Aku seharusnya langsung pulang seperti biasanya. Aku seharusnya tidak menerima ajakan mereka untuk bermain sepulang sekolah tadi."
Mendengar deretan penyesalan itu, Ibu kembali menariknya ke dalam pelukan. Meski ia mengakui bahwa putranya melakukan kesalahan, ia pun mengakui bahwa putranya punya hak untuk bersenang-senang bersama teman sebayanya.
****
"Dan juara pertama, diraih oleh..." Seluruh penonton terdiam. Menanti siapa gerangan peraih juara satu dalam ajang Olimpiade Matematika Nasional, Noetic Learning Math Contest yang diadakan secara tahunan di New York.
"Joseph Hurt from The Hewwit School!!"
Sorak sorai membanjiri aula museum Matematika Nasional itu. Tempat olimpiade dilaksanakan hari itu.
Max kecil turut bertepuk tangan meriah dan memberikan jabat tangan akrab dengan sang juara yang kini berdiri telah berdiri di sampingnya. Baginya, menjadi juara satu adalah takdir terbaik untuk kontestan di sini. Namun, menjadi juara dua adalah capaian besar dalam hidupnya.