Human Nature

ZAHRA SAFARR
Chapter #11

Hope

Tatapan Asya kosong. Jemari tangannya saling memainkan satu sama lain di atas pangkuannya sendiri. Di bawah pohon rindang taman kota, bersama wanita yang baru saja berkenalan dengannya, tetapi sudah menceritakan cukup banyak hal padanya. 

Kisah masa kecil Max, kisah yang selama ini hanya ia lihat di berita dan televisi, rasanya sangat nyata bisa terbayangkan dalam pikirannya. Memilukan. 

Sangat berbeda jauh dengan masa kecilnya yang dipenuhi dengan canda tawa. Di satu sisi, Asya merasa sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang memahami hak anak: tak hanya hak diberi makan, tapi juga hak untuk mendapatkan ketenangan di dalam rumah. Dan satu sisi, ada rasa iba kepada jiwa anak-anak yang terperangkap dalam diri lelaki itu. 

"Jadi, jika kau melihat dirinya sedikit aneh karena selalu bercanda dan menyukai hal-hal kecil, itu bukan karena dia tidak waras, dia hanya ingin mengejar apa yang dulu tidak pernah ia dapatkan.... " ujar Caroline.

Pandangan Asya kembali memandang punggung Max dari kejauhan yang sedang berusaha mengambil bola yang tersangkut di ranting pohon.

"Childhood," timpa Asya. 

Caroline mengangguk dan terdengar mendusat beberapa kali untuk menahan air matanya jatuh. Asya kembali berpaling dan menyentuh lengan Caroline.

"Aku sangat merindukan putraku." Ia berusaha menyeka air matanya cepat-cepat, mungkin sebelum Max melihatnya. 

"Aku tahu apa yang anda rasakan itu. Bertemu putramu hanya untuk sekali dalam satu bulan bukanlah hal yang orang tua inginkan." Asya mengelus punggung Caroline dengan lembut.

Lihat selengkapnya