Human Nature

ZAHRA SAFARR
Chapter #12

Why Her?

"Cabutlah rumput bagian sana juga."

"Max, jangan biarkan berantakan seperti ini. Taruh dalam kantong ini." Robin menyerahkan sebuah kantong plastik besar ke arah Max yang tengah sibuk mencabuti rumput liar di sekitar kebun kecil milik Robin. 

Rumah Robin sangat sederhana. Sebuah rumah kayu yang tua, seusianya. Sebuah rumah yang terletak di perbatasan kota dengan hutan jati, cocok dinikmati di usia senjanya. Nyaman dan damai, awalnya… 

Awalnya, hidupnya memang damai, namun tak ia pungkiri bahwa lambat laun, kesepian hampir membuatnya gila. Bagaimana tidak hampir gila? Ia hidup sebatang kara. Tanpa pasangan hidup, tanpa anak, sampai cucu sekalipun. Berbicara pun, mungkin pada rumput yang bergoyang. 

Namun ternyata, kehadiran seorang 'anak laki-laki' yang kehilangan jalan pulang itu membawa berkah tersendiri dalam hidupnya yang sunyi. Anak laki-laki yang selalu ia sebut... 

"Dasar anak nakal! Kau mencabut bibit-bibit tomatku!!" Langkah agak terpincang, kakek tua itu menjewer telinga Max yang masih di posisi berjongkok. 

"Aw, aw!! Maaf! Aku tidak tahu kalau itu bibit tomat, Kek!" Max meringis saat daun telinga itu dijewer lagi oleh Robin. Tarikan di telinganya itu sebenarnya tidak sakit, tapi respon alamiah Max yang melebih-lebihkan. 

"Gunakan matamu dengan baik! Apa tidak jelas tulisan TOMAT di sini?! Aku sengaja menulisnya supaya tidak kau cabut, eh... Kau justru…." Robin bersiap dengan gertakan pukulannya. 

Tangan Max melayang untuk siap menangkis. "Tulisan itu kecil sekali. Aku pikir kakek menulisnya untuk semut, jadi aku tidak membacanya." 

Robin melotot. "Bisa-bisanya kamu jawab begitu, hah!?" Robin memukul bahu Max berkali-kali. Namun, bukannya kesakitan, Max malah tertawa sambil meneriaki "Tolong! Ada kekerasan dalam rumah tangga! Tolong!!"

Dan pagi itu, berakhir dengan Max menanam kembali bibit tomat yang sudah ia cabuti. Berharap bibit itu akan kembali tumbuh. 

Setelah membersihkan halaman selesai, Max duduk meluruskan kedua kakinya di samping kebun bunga Robin. Memandangi bunga mawar yang Robin tanam dengan kasih sayang. 

Lihat selengkapnya