Sore itu angin berembus tak begitu kencang seperti kemarin. Tapi suhu New York kini mencapai 20° C di musim gugur, membuat orang-orang terpikat untuk berjalan-jalan keluar rumah. Menikmati guguran daun yang bergradasi hijau kekuningan sampai menikmati jajanan khas musim gugur: pie apel hangat.
Sore yang indah dan cukup tenang bagi orang dewasa untuk menyeruput secangkir coffee latte di sebuah kafe dan mengerjakan beberapa tugas akhir pekannya. Setelah menyesap kopinya, mata Asya kembali membaca sebuah berkas yang ditampilkan di layar laptopnya.
Keningnya sedikit mengerut, bibirnya terkunci sangat rapat. Seakan, tiada satu pun yang bisa mengganggunya.
Cling!
Sebuah nada pesan berdering di tengah kesunyian Asya. Dan ternyata, itu cukup membuyarkan keseriusannya. Ia menengok ponselnya. Tertulis nama 'Umma' di sana. Itu pesan dari ibunya yang sangat ia tunggu-tunggu.
"Assalamu'alaikum, sayang... Maaf, sepertinya Umma dan Abah tidak bisa mengunjungimu bulan ini. Abah ada proyek baru yang harus diselesaikan secepatnya:(( Umma jengkel, tapi mau bagaimana lagi? Kalau urusan Abah selesai, Umma segera pesan tiket ke sana. In syaa Allah ya! Kamu sehat-sehat di sana."
Membaca pesan singkat itu, kening Asya mengendur. Bibirnya pun kini melintang tipis. Meski ada rasa sedih–orang tuanya tak bisa segera mengunjunginya, Asya memahami betul pekerjaan Ayahnya lebih utama.
Ayah Asya adalah seorang kepala yayasan pendidikan Islam di daerah Yogyakarta. Tugasnya tak hanya memimpin rapat dan berpidato di depan khalayak, tapi juga turut terjun dalam proyek pembangunan atau program yang memerlukan supervisi khusus darinya. Dan Asya, sudah memahami hal itu sejak ia belia.
Kedua jempolnya kini menari di atas layar ponselnya. Mengetik pesan balasan pada ibunya bahwa semuanya aman dan bukan masalah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Gak apa-apa, Umma... Abah sama Umma bisa ke sini kalau semuanya udah beres. Titip salam buat Abah ya! Love Umma & Abah banyak-banyaaakk. "
Setelah selesai mengirim pesan balasan itu, Asya kembali meletakkan ponselnya. Dan ia rasa, pekerjaannya pun sudah bisa ia tutup. Ia akan melanjutkannya nanti malam. Kini, tangannya memasukkan barang-barang di atas meja ke dalam tas. Tapi, sekali lagi...
"Aduh, pulpenku!"
Pulpennya hilang lagi.
Padahal beberapa waktu lalu masih ada di mejanya. Ia membungkuk ke bawah meja, mencarinya yang mungkin terjatuh di sana. Tapi, tetap tak ada. Dia kembali mengecek isi dalam tasnya, hampir mengobrak-abrik isinya...
"Untung belum jauh."
Seseorang menyodorkan pulpen biru langit miliknya. Seseorang...
"K-kamu... "