"Jadi gadis itu sudah aku anggap sebagai adik dan mungkin putriku sendiri."
Asya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mendengarkan Max berkisah tentang hubungannya dengan anak-anak itu, terutama Samara, gadis penyemir sepatu.
"Bagaimana dengan orang tuanya?"
"Sejak kecil, dia memang hanya tinggal dengan ibunya. Tak ada yang tahu di mana dan siapa ayahnya." Max mengangkat bahunya memutus rasa penasarannya pada privasi orang. "Sedangkan ibunya... Sekarang lumpuh, setelah menjadi korban tabrak lari mobil. Mungkin sudah setahun lebih beberapa bulan, Samara menjadi tulang punggung bagi ibunya."
"Itu... Pasti sangat berat bagi gadis seusianya."
"Ya.. Yang seharusnya dia bersenang-senang bermain, justru harus kepanasan dan kehujanan mencari nafkah untuk bertahan hidup,” timpal Max.
"Bagaimana dengan anak-anak yang lain?"
"Hampir sama... Tapi yang betul-betul menjadi tulang punggung hanyalah Samara. Kalau yang lain, masih ada orang tua yang lengkap."
Keduanya kemudian sama-sama terdiam. Antara memikirkan bahan obrolan selanjutnya dan menyayangkan nasib anak-anak yang malang itu. Asya memerhatikan tangannya yang sedari tadi memutar-mutar pulpennya, sedangkan Max memainkan nada tak beraturan. Nada yang ia pun tak tahu lagu apa itu.
Di balik gemerlap kota ini, nyatanya masih ada sudut-sudut kehidupan yang jarang diperhatikan orang. Menghabiskan waktu untuk bermain, mungkin memang hal yang wajar untuk usia mereka. Tetapi, membiarkan mereka kehilangan waku untuk belajar dan menimba ilmu adalah hal yang sangat Asya sayangkan.
Di tengah kebisuan itu, Asya akhirnya mengangkat pandangannya. "Hmm... Bagaimana menurutmu, jika kita mengajari mereka sesuatu? Setidaknya, meski mereka tidak sekolah, mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung."
Mendengar ide itu, bahu Max terangkat. Senyum lebarnya kini terukir sangat jelas, menandakan persetujuannya. "Oh, God! That's Great Idea, Asya!"
"Kita harus menyusun materinya terlebih dulu, supaya mereka bisa memahami dengan mudah dan tahap demi tahap, agar mereka tidak merasa belajar itu membosankan. Mereka pasti akan sangat senang!" lanjutnya.
Asya mengangguk setuju, juga tertegun dengan ucapannya. Tebakan Asya benar soal Max. Dia ternyata bukan orang sembarangan. Dia bukan hanya seorang pengamen jalanan. Dia termasuk seorang yang berpendidikan dari keluarga berpengaruh, tapi memilih menjadi hidup di jalanan demi sesuatu yang selama ini ia cari: kebebasan.
"Tapi aku rasa... Kau harus segera pulang, Max. Kakekmu mungkin akan membunuhmu jika kau tidak membuang sampah lagi."