Sore hari yang cerah, seperti biasa Tiar sebagai petugas keamanan melakukan patroli. Kali ini ia mendapat tugas patroli di sekitar taman kota, tempat pertama kali ia bertemu dengan Indy. Tiar jadi kembali ingat pertemuan pertamanya dengan Indy. Pria aneh yang hidup tanpa ponsel di zaman ini dan juga tanpa sopan santun. Pak ketua bahkan masih sering emosi kalau membahas anak itu. Saat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, alamat yang tertera pada data diri anak itu palsu. Hanya ada rumah kosong yang lembab dan dipenuhi oleh jamur.
“Kasihan sekali, ia kini dijadikan sebagai tersangka. Padahal dalam data dirinya ada riwayat bahwa ia memiliki penyakit paru-paru. Tidak mungkin dia bisa berlari dan melawan para penculik itu.”
Tiar berjalan menelusuri taman dengan pandangan yang menyelidik, dirinya tidak mau terlewat satupun detail yang menuju pada The Phantom. Beberapa remaja perempuan yang baru saja pulang sekolah menyapanya. Sesekali Tiar menjawab mereka hanya dengan senyum. Kalau sudah ada Pak Ketua, pasti ia habis kena marah.
“Kau itu harus memanfaatkan ketampanan wajahmu dengan baik. Sapa mereka dengan sedikit lebih ramah, mungkin suatu saat kelebihanmu itu bisa jadi senjata unggulan kita.”
Tiar selalu kesal kalau Pak Ketua sudah membahas tentang wajahnya. Tidak munafik, ia tau wajahnya tampan. Tapi karena itu, semua bakat dan talentanya yang lain tidak terlihat. Seolah kelebihannya hanya memiliki wajah tampan, tanpa ada seorang pun yang memuji semua yang telah ia perjuangkan mati-matian.
Drrtt
Ponsel Tiar berdering. Setelah mengeluarkan benda persegi itu dari sakunya, wajah Tiar menunjukan raut wajah kebingungan. Nomor tidak di kenal, dan lagi ...
“Nomor asing? Formatnya beda dari kebanyakan nomor.”
Meski merasa curiga, Tiar tetap menerima panggilan itu. Baru saja ponselnya bertemu sapa dengan telinga, suara di seberang sana membuat Tiar semakin terkejut.
Suara napas tidak beraturan dan juga terdengar beberapa suara teriakan, lalu si pemilik panggilan dengan lirih berkata “Tolong, i’m in danger,” seakan dia sedang didesak oleh sesuatu.
Baru akan menjawab, panggilan diputus sepihak. Tiar yang panik tanpa pikir panjang segera mengeluarkan tablet berukuran sedang untuk melacak lokasi nomor yang menelponnya.
“Dia dapat nomorku dari mana,” masih sibuk degan kegiatan melacak, tangan Tiar yang berada di atas gatget terhenti. “Tapi suara tadi ... si bocah headphone!”
Diselimuti rasa panik, Tiar semakin cepat melakukan pelacakan, “Apa ia bertemu The Phantom? Tapi ini belum malam hari. Anak itu juga tidak termasuk kriteria penculikan. Apa jangan-jangan mereka mengira ia adalah wanita karena menggunakan hoodie lilac oversize?”
Pelacakan berhasil dilakukan. Ia segera berlari menuju titik merah yang ada di dalam layar. Tiar lari dengan kecepatan penuh, menerobos kerumunan, bahkan hampir tidak perduli dengan rambu-rambu lalu lintas yang ada. Sedang panik dan ada kepentingan. Wajar, bukan? Meski setelah ini ia harus bertanggung jawab dengan membuat surat permintaan maaf dan menerima omelan Pak Ketua.
Tiar berhenti, napasnya terengah dengan peluh membanjiri pelipis. Ia kembali melihat titik merah yang sedang ia tuju, “Tempatnya benar di sini. Tapi, tidak mungkin kan para penculik itu beraksi di tempat ini,” Kepala Tiar terangkat, melihat bangunan besar yang ada di depannya.
“Pusat perbelanjaan kota,” gumam Tiar dengan penuh kecurigaan. Dengan cepat Tiar menggelengkan kepala. Tidak ada waktunya baginya untuk bingung, ia harus segera mencari Indy.
Pusat perbelanjaan yang mewah, banyak brand fashion ternama, cafe estetik yang sering menjadi tempat berkumpul para seleb dengan ribuan pengikut, super market yang kualitasnya pasti terjamin. Sangat berbanding terbalik dengan aksi The Phantom biasanya.
Beberapa orang memandang Tiar dengan tatapan menyelidik. Seorang petugas keamanan dengan wajah panik berlarian kesana kemari, tentu saja menjadi pusat perhatian.
Langkahnya terhenti di depan Game Center. Tempat di samping gerbang masuk game center, terdapat Indy dengan tubuh yang lemah terbaring di lantai. Tiar langsung berlari menghampiri pria dengan hoodie lilac itu.
Tiar panik, lutut yang bertemu dengan lantai menjadi tumpuan tubuhnya untuk memeriksa Indy. Baru saja tangan Tiar terulur, dengan cepat Indy membuka matanya dan menarik kerah Tiar.
“Uang ... Tuan Mario .... ” lirih Indy.
---
Tiar berhasil menyelamatkan Indy. Ia kini sedang berdiri, matanya menatap tajam ke arah indy yang duduk di balik kemudi Mario Kart dengan wajah yang sangat bersinar akan kegirangan.
“Wah, terima kasih Tuan Keamanan. Aku tetap dapat bertemu Tuan Mario hari ini!” girang Indy, tanpa perduli tatapan sinis yang Tiar layang kan ke arahnya mungkin dapat membuat kemudi Mario Kart yang kini di egang kedua tangannya meleleh.
“Saya kira ini tentang Phantom,”
“Phantom ? Ah,” Indy menjentikkan jarinya, “Mereka hanya keluar di malam hari, kan. Dasar para makhluk nokturnal, aku akan tabrak kalian!”
“Kau itu, jangan terlalu santai. Sekarang kau sedang di curigai sebagai tersangka. Paham?”
“Sebagai Phantom?”
“Bukan, tapi Hunter.”
Indy diam sejenak lalu tertawa kecil.
“Oh~ untung aku tidak membuat kalian menjadi para pemfitnah.”
“EH?!” Tiar terkejut. Ia menatap Indy penuh tanya, alisnya menekuk sempurna hingga menimbulkan kerutan-kerutan halus di dahinya. Tiar menghela napas, mencoba mencerna percakapan mereka.
“Mau bergabung? Kau tidak suka dengan para penculik hantu itu, kan.”
Tiar menatap Indy dengan pandangan yang datar, salah satu sudut bibirnya terangkat.