TANTE DINA
Rantang itu masih mengepul waktu ibunya menaruhnya di meja makan — kuah sop hitam pekat, panas, dan jelas bukan untuk mereka. Lalu ibunya memanggil dari arah dapur, memanggil gadis yang sebentar lagi lulus sekolah menengah atas.
“Ini kasih ke tante kamu, katanya dia lagi nggak enak badan. Kalau dia nggak ada di rumah, taruh aja di meja teras.” Suara ibunya datang dari dapur, di sela bunyi keran. “Sekarang keburu malem.”
Sintya menutup rantang itu dan membawanya keluar tanpa banyak bertanya. Di teras, sepedanya berdiri miring karena pegas standarnya sudah lama lemas. Ia menyelipkan rantang ke keranjang depan lalu segera berangkat, waktu matahari di kota sekecil itu berubah warna seperti teh yang kelamaan diseduh. Dua hari lagi ia berangkat kemah. Ranselnya sudah berdiri di sudut kamar sejak semalam, penuh, seperti orang yang menunggu dijemput.
Jalan ke rumah tantenya memotong belakang pasar, lewat deretan kios yang sudah menurunkan setengah rolling door-nya, lalu menyeberangi jembatan kecil di atas kali yang airnya cuma ada kalau hujan. Sintya hafal rute itu tanpa berpikir. Ia sudah mengantar makanan ke sana sejak SD — mula-mula digandeng ibunya, lalu sendirian, lalu dengan sepeda, dan pada suatu titik yang tidak pernah diumumkan, tugas itu jadi tugasnya sepenuhnya. Tidak ada yang menjelaskan kenapa. Yang jelas, dari seluruh keluarga, cuma dia yang tidak pernah menolak.
Rumahnya ada di ujung gang, di belakang bengkel las yang tidak pernah tutup. Cat hijaunya sudah lama menyerah. Pagarnya rendah dan tidak pernah dikunci, dan seperti biasa, semua jendelanya tertutup rapat meski sore itu masih menyimpan panas siang.
Selalu begitu. Sejauh yang bisa Sintya ingat, jendela dan pintu rumah itu tidak pernah dibiarkan terbuka — tidak waktu musim hujan, tidak waktu musim kemarau, tidak siang, tidak malam. Bahkan waktu seluruh gang kepanasan dan semua orang membuka pintu supaya ada angin, rumah itu tetap tertutup.
Ia menyandarkan sepedanya ke pagar dan mengetuk. Tiga kali, dengan punggung tangan, cara mengetuk orang yang sudah ratusan kali datang ke pintu yang sama.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, lebih keras. “Tante? Ini Sintya.” Yang menjawab cuma bengkel las di belakang gang, mendesis sebentar lalu berhenti. Lalu, dari balik rumah, bunyi gayung dibenamkan ke air, dan air jatuh kembali ke dalam bak.
Ia melirik meja teras. Kosong, berdebu tipis, dan ibunya memang bilang boleh ditaruh di situ. Tapi rantangnya masih panas, sandal Tante Dina masih ada di depan pintu, dan dari sela daun pintu terlihat lampu dapur menyala.
Jadi ia mencoba gagang pintunya. Turun tanpa perlawanan.
⁂
Pintu itu terbuka ke dalam tanpa bunyi, dan yang pertama menyambutnya adalah udaranya — hangat, pengap, udara yang sudah lama tidak bertukar dengan luar.
“Tante? Ini Sintya. Nganterin dari Mama.”
Ruang depan itu bersih dengan cara yang aneh — bukan bersih karena rajin, tapi bersih karena isinya sedikit. Satu meja, dua kursi, satu lemari kayu, satu jam dinding yang bunyinya terlalu keras untuk ruangan sekecil itu. Lantainya disapu. Tidak ada kalender, tidak ada bantal kursi, tidak ada gelas yang ditinggal setengah. Rumah yang kalau difoto tidak akan menarik perhatian siapa pun.
Tidak ada foto sama sekali. Sintya baru menyadarinya sore itu, setelah bertahun-tahun mengantar makanan ke rumah itu: tidak ada satu pun foto di dinding, di lemari, di mana pun.
Ia masih memegang rantang itu waktu berjalan lebih ke dalam, karena tidak tahu harus apa lagi.
Kamar pertama kosong: kasur tipis, dilapis rapi, tanpa seprai bermotif. Kamar kedua tidak dipakai, cuma kardus dan satu kursi yang ditumpuki kain. Ruang tengah tidak punya televisi. Setiap kali melewati satu ambang pintu, Sintya menyebut nama tantenya sekali, makin pelan tiap kali.
Dapur juga kosong. Di atas kompor ada panci kecil yang isinya masih beruap, dan dari situ datang bau manis yang tadi tidak ia sadari — gula jawa yang sedang direbus, mungkin, atau kolak yang ditinggal terlalu lama di atas api.
“Bawa apa?”
Sintya berbalik terlalu cepat, dan pinggulnya membentur bibir meja.
Tante Dina berdiri di ambang pintu belakang, tidak sampai dua langkah dari punggungnya, dan Sintya sama sekali tidak mendengar dia datang. Pintu kamar mandi di belakangnya masih setengah terbuka, lantainya basah, dan Dina sedang mengelap kedua tangannya ke ujung dasternya — pelan, satu-satu, jari demi jari.
Perempuan itu bertubuh tinggi dan kering. Daster batiknya kebesaran di bahu. Rambutnya sudah lebih banyak putih daripada yang seharusnya di umur itu, diikat asal, masih lembap di sekitar dahi. Tulang pipinya menonjol, kulitnya pucat, dan ada satu lipatan tegas di antara kedua matanya — jenis kerut yang tidak dibuat oleh tertawa.
Matanya jernih. Itu bagian yang selalu mengganggu Sintya. Mata yang menangkap semua hal di ruangan dalam satu kali lihat, lalu memutuskan mana yang perlu dikomentari.
Tante Dina tidak terlihat seperti orang yang dibicarakan keluarganya.
“Sop iga,” kata Sintya, mengangkat rantang.
“Ibumu masih pakai kluwek?”
“Nggak tahu. Kayaknya nggak.”
“Berarti masih.” Dina mengambil rantang itu dari tangannya dan berjalan melewatinya ke meja depan. Bukan sambutan, tapi juga bukan penolakan. “Tutup pintunya.”
Bau manis dari dapur ikut ke ruang depan, terlalu pekat, menempel di langit-langit mulut dan tidak mau turun.
“Duduk,” kata Dina. “Kamu mau minum apa?”
“Nggak usah, Tante. Bentar aja.”
“Duduk.”
Sintya duduk.
Dina meletakkan rantang di meja tanpa membukanya, lalu menyeret kursi satunya dan duduk berhadapan, dekat sekali, dengan lutut hampir bersentuhan. Jarak untuk menanyakan sesuatu yang tidak boleh didengar orang lain — padahal di rumah itu tidak ada orang lain, dan tidak pernah ada.
“Kamu sudah mau lulus.”
“Iya. Ujian tinggal pengumuman.”
“Terus habis itu apa? Kuliah?”
“Belum tahu. Mungkin.” Sintya mengangkat bahu. “Mama pengennya di sini aja.”
“Kamu pengennya?”
Tidak ada orang lain yang menanyakan itu. Guru BK menanyakan jurusan, ibunya menanyakan biaya, dan teman-temannya menanyakan kampus mana yang paling ramai. Cuma perempuan yang dianggap tidak waras oleh seluruh keluarganya ini yang bertanya apa yang ia inginkan, lalu diam menunggu jawabannya.
“Aku mau kuliah di luar kota,” kata Sintya, dan langsung merasa perlu memperhalusnya. “Pengin ngerasain suasana baru aja, Tan. Di sini ketemunya ya Pak Agus, Pak Joko, Bu Siti. Temen-temen juga udah pada pindah — tinggal Putri doang.”
Dina mengangguk pelan, seolah jawaban itu masuk akal dan sekaligus tidak penting. Lalu ia bertanya, dengan nada yang persis sama:
“Katanya kamu ada acara kemah sekolah?”
Sintya mengerjap. “Tahu dari siapa, Tan?”
“Ibu kamu. Dia nelepon dua hari lalu.”
“Mama nelepon Tante?”
“Dua puluh tahun dia nggak pernah nelepon aku duluan.” Dina menyandarkan punggung. “Terus hari ini dia kirim sop iga. Ibumu nggak pernah repot kalau nggak ada yang bikin dia susah tidur.”
“Mama susah tidur?”
“Tanya dia.”
“Tante tahu kenapa?”
“Tahu.” Dina tidak menambahkan apa-apa.
Sintya menunggu. Dari dapur, panci itu masih berbunyi pelan.
“Umur kamu berapa sekarang?”
“Tujuh belas. Delapan belas bulan depan.”
“Nggak kerasa ya. Seinget tante, kamu masih anak kecil yang suka nginep di sini karena rumah tante nggak berisik.”
Sintya tersenyum tipis. Ia hampir lupa bahwa dulu ia pernah dekat dengan perempuan ini.
Di luar, sepedanya masih bersandar di pagar. Lampunya belum ia nyalakan.
Dina bangkit, mengambil dua gelas dari rak meski Sintya sudah menolak, dan menuang air putih. Punggungnya membelakangi. Waktu ia mengangkat tangan ke rak paling atas, lengan dasternya melorot sampai siku.
Kulit di sepanjang lengan bawahnya menebal dan mengilap, warnanya lebih muda dari kulit sekitarnya, berkerut seperti kertas yang pernah basah lalu dikeringkan. Bekasnya melingkar, bukan memanjang. Bukan bentuk yang dibuat oleh sesuatu yang tumpah.
Sintya sudah pernah melihatnya. Semua orang di keluarga itu pernah melihatnya. Waktu ia kecil, neneknya bilang itu kena knalpot. Dua tahun lalu ibunya bilang itu kena air panas waktu Dina dirawat di rumah sakit.
Dina menurunkan lengannya, meletakkan gelas di depan Sintya, dan duduk lagi.