Hutan Terlarang

Emsuta Yurite
Chapter #2

BAB 2 - Gelang Manik Biru

Gelang Manik Biru



Ada tiga bus di lapangan sekolah pukul enam kurang sepuluh, dan Pak Herman berdiri di depan bus tengah dengan pengeras suara di satu tangan dan papan absen di tangan lain.

Ia tidak tinggi, bahunya lebar, rambutnya cepak dan sisi kirinya sudah beruban duluan, dan alisnya sangat tebal sehingga orang sering menyangka ia selalu marah jika sedang berbicara. Sepatunya hitam, jenis yang dipakai pegawai kantor, dan mengilap dengan cara yang tidak masuk akal untuk lapangan berdebu pukul enam pagi. Di lehernya tergantung peluit stainless yang tulisannya sudah habis kena keringat bertahun-tahun.

Yang beredar tentang Pak Herman, diurutkan dari yang paling sering diulang:

Satu, dia mantan tentara. Tidak pernah dibantah, tidak pernah dibenarkan, dan itu justru yang membuatnya bertahan dua puluh tahun.

Dua, dia tidak pernah tidur di kemah. Setiap angkatan punya satu anak yang bangun pukul tiga pagi untuk buang air dan menemukan Pak Herman sudah — atau masih — berdiri di dekat api unggun dengan tangan di belakang punggung, dan anak itu akan menceritakannya seumur hidup.

Tiga, dulu pernah ada angkatan yang kehilangan orang di sana, dan itu sebabnya ia segitunya soal absen.

Yang ketiga selalu diceritakan dengan suara pelan, dan selalu ditutup dengan tertawa.

“Nayla Puspita.”

“Hadir, Pak!” Nayla berteriak keras.

“Ndak usah teriak, Nduk. Bapak pakai toa, kamu pakai suara. Ndak imbang.”

“Maaf, Pak.” Nayla tersenyum sambil menutupi separuh wajahnya dengan map plastiknya.

“Bayu Prakoso.”

“Hadir, Pak!”

“Speaker-mu dibawa?”

“Dibawa, Pak!”

“Baterai speakermu nanti dititipkan ke Bapak.”

Tawa satu lapangan. Pak Herman tidak ikut tertawa, tapi alisnya turun sedikit.

Sintya berdiri di antrean bagasi sambil melihat tiga bus itu berjajar.

Yang paling depan sudah penuh dan mesinnya sudah menyala — kelas C, berangkat lebih dulu karena zonanya paling jauh. Yang paling belakang masih kosong; kelas B baru dijadwalkan berkumpul satu jam lagi. Di tengah, bus kelas A, dengan bagasi terbuka dan sepuluh orang berebut memasukkan tas pada waktu yang sama.

Satu, dua, tiga.

Minta digabung.

Sintya mengingatnya kira-kira dua detik, lalu melupakannya, karena di depannya Elsa sedang berusaha memasukkan koper — koper, bukan ransel, koper beroda dengan gagang teleskopik — ke dalam bagasi.

Pak Herman berhenti di belakangnya.

“Kemah tiga hari, Nduk.”

“Iya, Pak.”

“Kopermu buat pindahan.”

“Iya, Pak.”

Pak Herman memandangi koper itu beberapa saat, lalu mencentang sesuatu di papan absennya dan berjalan terus. Ia sudah dua puluh tahun kalah dari anak-anak seperti Elsa dan sepertinya sudah berdamai dengan itu.

Di baris belakang antrean, Deri sedang menjelaskan sesuatu kepada Adit dengan dua tangan.

“Serius. Angkatan lama. Ada yang ilang di situ, nggak ketemu sampai sekarang.”

“Sok tahu.”

“Beneran! Makanya Pak Herman absennya tiga kali sehari.”

“Terus mayatnya?”

“Ya itu — nggak ada.”

Adit tertawa, dan Deri ikut tertawa karena cerita itu memang selalu ditutup begitu, dan antrean maju satu langkah.

Sintya mendengar semuanya dari dua orang di depannya. Anak-anak itu sedang membicarakan seseorang yang bagi mereka tidak punya nama, tidak punya rumah, dan tidak punya wujud selain kata ada yang ilang.

Ia bisa saja bilang sesuatu.

Ia tidak bilang apa-apa. Menjelaskannya butuh lima menit, dan setelah lima menit itu semua orang akan tahu, dan setelah itu ia jadi anak yang tantenya begitu. Ia sudah delapan belas tahun berhasil tidak jadi anak itu.

Ia menaikkan ranselnya ke bahu dan naik.

Baris tiga sampai enam sudah dikuasai sebelum sepatunya menyentuh anak tangga kedua. Tas-tas sudah diletakkan di kursi kosong sebagai klaim wilayah, jaket-jaket dibentangkan di sandaran seperti bendera negara kecil, dan di baris delapan Putri berdiri melambaikan tangan dengan seluruh lengan, seperti orang menghentikan bus di jalan raya.

“Sin! Sini! Gue tahan pakai sepatu!”

Sepatunya memang ada di kursi itu. Satu, yang kiri.

Kelas A menghabiskan empat puluh menit pertamanya dengan cara yang paling bisa ditebak.

Nayla memegang map plastik bening berisi rundown yang ia cetak sendiri, tiga rangkap, kolomnya diberi warna. Kacamata bulatnya melorot setiap kali bus melewati polisi tidur, dan setiap kali itu juga ia mendorongnya naik dengan buku jari tanpa berhenti membaca jadwal.

“Pukul sembilan lewat empat puluh lima, tiba di lokasi. Pukul sepuluh, apel pembukaan. Pukul dua belas, makan siang. Pukul satu, pemasangan tenda—”

Salma mengangkat satu tangan dari kursi seberang tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya, kuncir kudanya menjulur lewat celah sandaran.

“Kita berangkat jam enam.”

“Iya.”

“Yang tiba jam sembilan lewat empat puluh lima itu kelas B. Mereka kumpulnya satu jam setelah kita.”

Nayla berhenti. Ia memeriksa kertasnya. Ia membalik ke halaman depan, dan di pojok atas, dicetak kecil-kecil dengan huruf tebal, ada tulisan KELAS B.

“Aku ambil dari grup yang salah.”

“Tiga rangkap.”

“Tiga rangkap.”

Bus melewati polisi tidur. Kacamatanya melorot dan kali ini ia lupa mendorongnya naik.

“Berarti selama empat puluh menit ini aku ngatur kelas yang belum berangkat.”

“Mereka aman, kok. Kamu urus dari jauh.”

“Salma.”

“Ini nanti aku revisi.”

“Yang rangkap tiga juga?”

“Salma.”

Di baris lima, Bayu menyalakan speaker bluetooth-nya — barang paling penting yang ia bawa, lebih penting dari sleeping bag, yang ia gantungkan di tali ranselnya sepanjang perjalanan. Badannya paling besar di kelas dan rambutnya kemerahan di ujung akibat semir yang gagal empat bulan lalu dan tidak pernah selesai tumbuh.

Lagu pertama dangdut koplo. Setengah bus langsung ikut, termasuk yang tadi mengaku tidak suka.

“Bay! Ganti! Yang kemarin!” Tiara berteriak dari baris lima seberang, kukunya yang dicat gradasi biru ke ungu mengetuk-ngetuk sandaran. “Yang girl group itu!”

“Yaelah.”

“Sebentar doang!”

Bayu memutarnya. Tiara berdiri dan menyanyi dengan koreografi setengah jadi selama empat puluh detik sebelum Bayu menekan tombol next dengan wajah datar, dan Tiara melempar bantal leher ke arahnya, dan meleset, dan mengenai Ferdi.

Lagu ketiga entah bagaimana adalah lagu band Indonesia tahun 2000-an yang ternyata hafal semua orang di bus itu — termasuk Bayu, termasuk Tiara, termasuk Salma yang menyanyikannya tanpa mengangkat wajah dari bukunya. Adit, yang paling pendek di kelas dan suaranya paling keras, berdiri di lorong menyanyikan bagian reff dengan botol minum sebagai mikrofon sampai Bu Melati menyuruhnya duduk, lalu berdiri lagi tiga puluh detik kemudian.

Untuk sekitar empat menit, bus itu jadi satu-satunya tempat di dunia.

Di baris paling belakang, Meilani dan Meiliana duduk berdampingan seperti biasa: dua wajah yang sama persis, dua kuncir yang sama tingginya, dua jaket yang sengaja dibedakan warnanya supaya guru tidak menyerah. Satu-satunya pembeda yang jujur adalah bekas cacar kecil di dagu Meiliana, sebesar ujung korek, yang cuma kelihatan kalau ia mendongak.

Kirana tidur sejak lampu merah pertama dengan lutut menekuk tinggi, karena ia yang paling jangkung di kelas dan kursi bus tidak pernah dibuat untuk orang seperti dia. Bening duduk di baris empat, badannya paling kecil, rambut dikepang dua oleh ibunya subuh tadi, kamera analog bekas ayahnya ditaruh di pangkuan dan dipegang dua tangan seperti anak kucing.

Ferdi duduk di baris tujuh dengan sepatu putih yang baru dibeli minggu lalu dan tidak boleh disentuh siapa pun. Ia paling wangi di antara semua orang di bus itu pada pukul enam pagi, dan pada pukul tujuh lewat ia sudah memegang kantong plastik dengan wajah yang tidak lagi mengurus soal wangi.

Di depan, Bu Melati menghitung kepala dan mendapat dua angka berbeda, menghitung sekali lagi, lalu memutuskan bahwa yang ketiga yang benar. Ia guru paling muda di sekolah itu, memakai sepatu kets, dan setiap kali ia berdiri di lorong ada saja yang memanggilnya “Kak” lalu buru-buru meralatnya jadi “Bu”.

Pak Yudi tidur bersandar ke jendela sejak menit kelima, kumisnya bergerak setiap kali bus mengerem, dan tangannya tetap memegang termos.

Putri memotret jendela yang berembun (jempolnya sendiri ikut masuk di sudut bawah, seperti biasa), lalu mengirimnya ke grup yang namanya masih GENG CILOK dari zaman kelas delapan.

Isinya empat orang. Laras pindah ke Balikpapan di awal kelas sepuluh karena bapaknya dimutasi. Wiwid menyusul ke Bandung setahun kemudian, ikut kakaknya, dan tidak pulang lagi kecuali libur panjang. Grup itu tidak pernah diganti namanya dan tidak ada yang keluar, jadi tidak ada yang pernah perlu memutuskan apa-apa.

Pesan sebelum foto itu juga dari Putri: video kucing yang jatuh dari atas kulkas, lalu berdiri dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Tiga minggu lalu. Dibaca tiga. Di bawahnya kosong.

Sintya salah satu dari tiga itu. Ia ingat menontonnya sampai habis di kasur, ingat tertawa sendirian, ingat mengunci layar dengan niat membalas nanti.

“Bales dong,” kata Putri, tidak kepada siapa-siapa.

“Masih pagi di Balikpapan.”

“Bedanya sejam doang, Sin.”

Lihat selengkapnya