KELAS B
Bus kelas B berangkat empat puluh lima menit setelah jadwal. Dari tiga bus, inilah yang paling tua.
AC-nya hanya hidup di separuh depan. Separuh belakang membuka jendela, separuh depan berteriak minta jendela ditutup, dan tidak ada yang menang. Sandaran kursinya tidak bisa direbahkan. Di bawah kursi baris empat ada sesuatu yang menggelinding ke depan setiap kali bus mengerem, lalu ke belakang setiap kali menanjak. Tidak ada yang cukup peduli untuk melihat apa itu.
Dika duduk di baris dua, sebelah kiri, dekat pintu.
Sudah tiga tahun ia memilih baris dua. Cukup dekat dengan guru supaya orang berpikir dua kali, cukup jauh dari lorong supaya tidak dilewati terus, paling dekat ke pintu, dan dari situ odometer di dasbor kelihatan jelas. Tidak ada yang pernah menganggap itu siasat. Tidak ada yang menganggap anak seperti Dika punya siasat.
Badannya kecil untuk anak kelas dua belas. Lehernya kurus, rambutnya lurus menutupi dahi, kukunya digigiti sampai pendek sekali. Ia tidak pernah bicara duluan. Kalau ditanya, ia menjawab pendek. Kalau tidak ditanya, ia mendengarkan dan menghitung: berapa lama, berapa orang, berapa jauh.
⁂
Pak Herman naik paling akhir, sesudah memeriksa pintu bagasi dua kali. Ia berdiri di lorong depan sambil memegang papan absen.
“Anak-anak.”
Separuh bus tidak mendengar.
Pak Herman meniup peluitnya sekali, pendek, tidak keras. Bus langsung diam.
“Nah. Ternyata bisa.” Alisnya turun sedikit. “Bapak ndak lama. Satu, jendela boleh dibuka, tapi kalau ada yang muntah keluar jendela terus kena mobil belakang, yang minta maaf kamu, bukan Bapak. Dua, ini bus terakhir. Yang ketinggalan ndak ada yang jemput. Tiga—” ia melihat ke kursi paling belakang, “—Bagas.”
“Iya, Pak?”
“Ndak apa-apa. Bapak cuma pengin kamu tahu Bapak tahu kamu di situ.”
Satu bus tertawa. Bagas ikut tertawa sambil mengangkat dua tangan seperti orang menyerah. Pak Herman duduk dan tidak menoleh lagi.
Dika sudah hafal polanya. Sejak kelas sepuluh, di setiap kegiatan, nama pertama yang disebut Pak Herman selalu Bagas. Kunci satu orang, tiga puluh sisanya ikut tenang. Masuk akal.
Hanya saja, dari kursi depan Pak Herman tidak bisa melihat bahwa mengunci Bagas tidak menghentikan apa pun. Paling-paling cuma mengecilkan volumenya.
⁂
Susunan baris belakang tidak pernah berubah sejak kelas sebelas.
Bagas duduk di tengah kursi paling belakang, punggungnya di sudut, supaya seluruh bus kelihatan. Ia tinggi dan kurus, rahangnya tajam, rambutnya selalu basah seperti baru mandi. Kuku jempol kanannya dibiarkan panjang sendiri, entah untuk apa. Suaranya tidak pernah keras. Tidak perlu. Kalau Bagas bicara, orang lain yang mengecilkan suara.
Di kanannya Reno, gigi depannya sumbing sejak jatuh sepeda waktu kelas empat SD, selalu tertawa setengah detik lebih cepat dari orang lain. Di kirinya Yoga, gempal, alis kanannya tercukur segaris karena kalah taruhan dan tidak pernah tumbuh rapi lagi. Pelawak kelas. Satu-satunya yang bisa membuat Bagas tertawa sungguhan.
Di depan mereka ada Ilham, yang mengetuk paha dengan tiga jari sepanjang perjalanan: tiga ketukan, jeda, tiga ketukan. Rendi, lutut kirinya dibalut perban elastis sejak dua minggu lalu, memakai sandal jepit karena sepatunya menekan. Arif, bendahara kelas, dengan tas pinggang dan buku kas kecil yang ia bawa bahkan ke kemah. Hasan, paling besar dan paling penurut, yang kalau disuruh selalu bertanya “sekarang?”, tidak pernah “kenapa?”.
Lalu Fikri.
Fikri paling kecil setelah Dika. Matanya terlalu sering berkedip, dan di ruangan mana pun ia selalu duduk paling dekat pintu. Di bus ini ia duduk di baris tiga, tepat di belakang Dika, sampai kilometer tujuh.
Di kilometer tujuh Bagas berjalan ke depan, berhenti di samping kursi Fikri, dan tidak berkata apa-apa.
Fikri mengangkat tasnya, keluar dari kursi, lalu duduk di lantai lorong.
Bagas duduk di kursi itu. Tidak melakukan apa pun. Kemudian ia berdiri dan kembali ke belakang. Fikri tidak naik lagi ke kursinya. Ia duduk di lantai sampai rumah makan.
Tidak ada yang berkomentar. Di baris lima, Wulan, yang rambut sebahunya dicepol asal pakai pensil, menoleh sekali lalu kembali ke kartunya. Naomi, yang sedang membagi kartu, melihat ke arah lain. Gita tertawa, karena Gita selalu tertawa duluan, dan behel oranyenya kelihatan semua.
Dua menit dua belas detik, dari Bagas duduk sampai Bagas berdiri lagi. Dika menghitungnya dari jam di ponselnya.
Bagas tidak butuh kursi itu. Ia cuma ingin tahu apakah Fikri akan berdiri tanpa disuruh. Fikri berdiri.
⁂
Yang memulai bukan Bagas. Yang memulai tidak pernah Bagas.
Di kilometer sepuluh, Reno mengeluarkan ponsel dan memutar sesuatu. Seluruh baris belakang sudah tahu apa itu dari bunyi pertamanya.
Rekaman tiga detik. Seorang anak laki-laki menjerit, nadanya sangat tinggi dan sangat pendek, lalu terdengar tawa banyak orang.
Praktikum biologi, kelas sepuluh, semester dua. Seseorang menaruh belalang hidup di kerah Dika dari belakang. Dika menjerit. Seseorang lagi merekam. Rekaman itu sekarang sudah dua tahun umurnya. Sudah pernah jadi nada dering, nada pesan, alarm. Sudah lama tidak lucu bagi siapa pun.
Mereka tetap memutarnya, seperti orang tetap menekan tombol lift yang lampunya sudah menyala.
Dika duduk menghadap depan, punggung lurus. Ia tidak menoleh. Wajahnya tidak berubah. Wajah yang diam adalah satu-satunya barang yang benar-benar miliknya, dan ia tidak mau menyerahkannya kepada mereka.
Di baris enam, sendirian, Gagah menoleh ke belakang. Dua detik. Lalu kembali ke jendela.
Tidak ada apa-apa di wajahnya. Bukan marah, bukan menikmati, bukan menahan diri. Ia melihat seperti orang di halte melihat bus yang bukan busnya.
Dika menangkap itu dari pantulan kaca. Ia tidak tahu harus menaruhnya di mana.
⁂
Di kilometer lima belas, Bagas bosan.
“Dik. Sini.”
Dika berdiri.
Ia sudah menyiapkan caranya sejak tadi: jalan pelan, berhenti di baris tujuh, jangan lebih dekat. Begitu ia berdiri, semua rencana itu hilang. Yang tersisa cuma kaki yang berjalan.
Tasnya sudah ada di pangkuan Reno.
Dika tidak tahu kapan tas itu diambil. Itu yang paling mengganggunya. Bukan tasnya. Kapannya.
“Nyari apa?” Suaranya keluar terlalu cepat dan terlalu tinggi, dan ia mendengarnya sendiri. “Nggak ada apa-apa kok, cuma perlengkapan, yang di daftar Pak Herman doang, sama bekal—”
“Ssh.”
Dika diam.
“Ngecek doang.” Bagas membuka ritsleting depan tanpa buru-buru. “Takut kamu bawa yang aneh-aneh.”
Isinya dikeluarkan satu per satu dan dijajarkan di kursi kosong sebelah Yoga, rapi, seperti orang membongkar mesin. Kotak pensil. Ponsel lama yang layarnya retak. Senter kecil. Buku tulis tipis.
Reno membalik buku itu sampai habis. “Kosong.”
“Kosong gimana?”
“Ya kosong. Cuma catatan pos di depan.”
Buku itu dilempar kembali ke kursi. Tidak ada yang merasa itu aneh. Dika tidak pernah menulis apa pun yang bisa ditemukan orang lain.
Lalu sarung tangan. Yoga mengangkatnya dengan dua jari.
“Anjir. Ini kenapa?”
Ujung tiga jarinya hitam, hitam yang sudah tidak bisa dicuci lagi.
“Oli,” kata Dika. “Bantuin bapak di bengkel, tiap Minggu. Sarung tangan di rumah tinggal satu. Pak Herman nyuruh bawa buat tali-temali, jadi mau nggak mau—”
“Iya, iya. Panjang amat.”
Yoga menaruhnya kembali.
Terakhir, kotak makan. Plastik bergambar dinosaurus, warnanya sudah pudar, jenis yang dibeli untuk anak kelas empat SD dan terus dipakai karena tidak pernah rusak.
Baris belakang menemukan mainan barunya.
“Anjir.”
“Punya siapa nih? Adek kamu?”
Dika tidak menjawab. Diam masih bisa ia lakukan dengan benar.
Bagas membuka tutupnya. Nasi, telur dadar digulung, potongan timun disusun berjajar seperti kipas.
“Rapi banget.”
“Ibu kamu yang bikin?”
Di balik tutupnya, terselip di bawah karet, ada kertas kecil terlipat dua. Reno yang melihatnya duluan.
“Eh eh eh.”