Perkemahan
Bumi perkemahan itu tidak sebagus foto di brosur, dan tidak seorang pun terkejut.
Lapangan utamanya berupa tanah keras berumput tipis dengan tiang bendera di tengah dan lingkaran batu bekas api unggun yang sudah hitam permanen. Di ujung utara ada bangunan pos berdinding papan dengan atap seng, papan namanya sudah pudar sampai tinggal huruf pertama dan terakhir. Di belakangnya, hutan mulai — bukan pelan-pelan, tapi seperti garis: rumput, rumput, rumput, lalu pohon setinggi enam meter yang rapatnya membuat orang berhenti melihat ke sana.
Kelas A turun pukul sepuluh kurang, tiga puluh menit lebih lambat dari rundown Nayla, dan Nayla mengumumkan revisi jadwal kepada orang-orang yang sedang sibuk menurunkan tas dan tidak mendengarkan.
Bus kelas C sudah ada di parkiran, kosong, mesinnya masih berbunyi tik-tik-tik pelan karena baru dimatikan. Bus kelas B belum sampai.
“Sin, itu apa?”
Putri menunjuk ke bangunan pos.
Di depannya, seorang laki-laki tua sedang duduk di bangku kayu dengan kedua kaki telanjang menempel di tanah. Ia kurus dengan cara orang yang kurus karena kerja, bukan karena diet. Kulit tangannya berkerak di punggungnya. Celananya kolor selutut. Ada golok kecil dalam sarung kayu tergantung di sabuknya, dan sebuah kaleng kopi di sebelah kakinya, dan ia melihat rombongan yang baru datang itu dengan cara orang melihat hujan.
“Juru kuncinya, kali.”
“Serem.”
“Ya nggak juga.”
Sintya sudah melihat laki-laki tua seperti itu seumur hidupnya di kota kecilnya. Yang membuatnya sedikit menoleh dua kali bukan goloknya, tapi bahwa laki-laki itu satu-satunya orang di lapangan yang tidak melakukan apa-apa dan tidak terlihat sedang menunggu apa-apa.
⁂
Apel pembukaan dimulai pukul sepuluh lewat dua puluh dan berlangsung tiga puluh delapan menit, yang mana tiga puluh empat menit di antaranya tidak dibutuhkan oleh siapa pun.
Sembilan puluh dua anak berdiri di lapangan dalam tiga barisan. Kelas C paling kiri, sudah berdiri sepuluh menit lebih lama dari yang lain dan sudah mulai bergoyang di tempat. Kelas A di tengah. Kelas B baru bergabung di menit kedua belas, langsung dari bus, sebagian masih memakai sandal jepit, dan Pak Herman menyuruh mereka berdiri di ujung kanan tanpa menghentikan kalimatnya.
Sintya berdiri di barisan kedua dan menghabiskan sebagian besar apel itu memikirkan bahwa kaus kakinya kekecilan.
Yang ia dengar cuma potongan-potongan. Bahwa Perkemahan Akhir Angkatan ini adalah kegiatan wajib terakhir mereka sebagai satu angkatan, dan bahwa nilainya masuk. Bahwa selain lima guru ada dua pembina pramuka dan empat panitia dari pengurus OSIS, dan bahwa keempat panitia itu harus dicari kalau ada apa-apa sebelum mencari guru. Bahwa kegiatan ini sudah berjalan dua puluh tahun tanpa satu pun kecelakaan berarti — Pak Herman menyebut angka itu dengan cara orang menyebut rekor pribadi. Bahwa mereka membawa nama sekolah. Bahwa yang membuang sampah sembarangan akan berurusan dengannya secara pribadi.
Lalu Pak Herman mengangkat papan.
Papan itu bukan papan tulis. Itu potongan tripleks setinggi dada, dilapisi plastik laminasi yang sudah menguning dan menggelembung di beberapa tempat, dengan peta lokasi digambar tangan di atasnya memakai spidol permanen. Garis-garisnya sudah ditumpuk berkali-kali oleh tangan yang berbeda-beda selama bertahun-tahun, jadi ada garis yang tebal dan ada yang tinggal bayangan.
“Yang ini punggungan,” katanya, menunjuk. “Kelas A di sini. Yang ini lereng timur, kelas B. Yang ini di bawah — cekungan — kelas C.”
Barisan paling kiri langsung bersorak.
“Ndak usah senang dulu.”
Mereka tetap senang. Sintya menoleh dan melihat anak-anak kelas C saling menepuk bahu, dan seseorang di barisan depan mereka mengangkat dua tangan seperti baru memenangkan sesuatu.
“Kenapa mereka seneng?” bisik Putri.
“Tanahnya rata.”
“Terus?”
“Kita di punggungan, Put.”
Butuh tiga detik.
“Yah.”
⁂
Pembagiannya masuk akal dan Pak Herman menjelaskannya begitu, dengan sabar, kepada anak-anak yang protes.
Kelas C jumlahnya paling banyak, tiga puluh empat orang, dan tenda mereka paling banyak, jadi mereka butuh tanah paling luas dan paling datar. Kelas A paling sedikit. Lereng timur berbatu tapi paling dekat sumber air. Ketiga zona dipisah punggungan, dan berjalan dari zona satu ke zona lain memakan waktu tiga puluh sampai empat puluh menit — bukan karena jauh, tapi karena naik lalu turun.
“Kenapa nggak digabung aja, Pak?” tanya seseorang dari kelas B.
“Lapangan ini muat berapa tenda menurutmu?”
“Ndak tahu, Pak.”
“Dua belas. Kita butuh tiga puluh satu. Lereng barat sudah dua tahun ndak dipakai, longsor. Jadi yang tersisa ya itu.”
Selesai. Tidak ada yang bisa dibantah dari itu, dan tidak ada yang mencoba.
Sintya mendengarnya, dan sesuatu di kepalanya menyebut satu kalimat pendek yang pernah diucapkan di ruang tamu berjendela terbuka, dan ia mengabaikannya dengan mudah sekali, karena laki-laki di depan itu baru saja menjelaskan alasannya dengan angka.
⁂
Yang tidak Sintya sengaja dengar terjadi dua puluh menit kemudian.
Ia sedang membantu Bu Melati memindahkan kardus perlengkapan P3K dari lapangan ke pos, dan pos itu adalah tempat laki-laki tua tadi duduk, dan waktu Sintya sampai di sana Pak Herman sudah lebih dulu ada di situ dengan papan tripleksnya.
“Yang di bawah jangan, Pak.”
“Yang mana, Pak Sarwan?”
“Cekungan.”