Hutan Terlarang

Emsuta Yurite
Chapter #5

BAB 5 - Acara Api Unggun

Acara Api Unggun


Kayunya lembap, dan seluruh acara mundur dua puluh menit.

Kayu itu kiriman desa terdekat, diturunkan dari bak pikap pukul sebelas siang. Pak Sarwan sempat bilang sekali, tanpa ditanya dan tanpa ditujukan kepada siapa pun, bahwa kayu tahun ini ditebang terlalu baru. Tidak ada yang menanggapinya. Menjelang senja, kabut naik dari lembah, melintasi lapangan, lalu turun lagi dua puluh menit kemudian. Sesudahnya, lapisan luar tumpukan kayu terasa seperti kain yang dijemur di tempat teduh.

Unggunnya sendiri berdiri sejak pukul lima, dan berdiri dengan benar.

Yang menyusunnya kelas C. Jalur mereka paling jauh, jadi mereka selalu berangkat paling awal, tiba lebih dulu, lalu mengisi waktu tunggu dengan bekerja. Susunannya piramida, kayu besar di luar, kayu sedang menyilang di tengah, dan rongga di bawahnya cukup untuk memasukkan tangan. Pukul enam kurang, waktu kelas B turun dari lereng timur, Dika sempat melihat sentuhan terakhirnya. Seorang anak laki-laki bertubuh sedang berjalan mengitari tumpukan itu satu kali, menarik satu batang keluar, memasukkannya kembali dengan sudut yang berbeda, lalu mundur dan berhenti melihatnya.

Anak itu memakai hasduk. Pukul enam kurang, di lapangan berdebu, dengan simpul yang masih rapi.

⁂

Yang menyalakan bukan dia.

Aturannya sudah ditempel Nayla di papan pengumuman darurat sejak siang. Nayla menyebutnya pembagian tugas; semua orang menyebutnya piket: kelas C menyusun unggun, kelas A mengurus air dan gelas, kelas B menyalakan dan menjaga api sampai acara selesai. Tiga kelas, tiga pekerjaan, supaya tidak ada yang pulang tanpa merasa mengerjakan sesuatu.

Jadi yang berjongkok mengelilingi tumpukan kayu itu adalah empat anak kelas B, dengan tiga korek gas, selembar koran bekas bungkus gorengan, dan sebotol air mineral berisi cairan yang jelas bukan air.

Pak Herman mengambil botol itu dari tangan Reno tanpa menghentikan langkahnya.

“Dari mana?”

“Jeriken di belakang pos, Pak.”

“Jeriken itu buat genset.”

“Iya, Pak.”

“Kamu tahu ndak, tiap tahun ada anak masuk rumah sakit gara-gara ini?” Pak Herman memutar tutup botol itu sampai rapat, lalu menyelipkannya ke saku belakang. Nadanya sama sekali tidak naik. Justru itu yang membuat Reno bungkam. “Sudah. Lanjutkan.”

Ia mundur dua langkah dan berdiri di situ dengan tangan di belakang punggung.

Koran itu menyala tiga kali dan mati tiga kali. Api kecilnya naik ke kayu, menjilat, kehilangan minat, lalu padam dari bawah dan meninggalkan asap putih tebal yang berbau seperti daun basah dibakar — asap yang keluar dari kayu yang tidak mau terbakar, bukan dari kayu yang sedang terbakar.

Yoga menyalakan korek keempat, pinjaman dari anak kelas A, lalu membakar koran terakhir. Sembilan detik kemudian koran itu habis, tanpa hasil apa-apa. Dika menonton dari pinggir lapangan tanpa menawarkan bantuan. Ia tidak tahu caranya, dan orang yang tidak tahu caranya sebaiknya tidak berdiri di tengah.

Anak berhasduk itu datang pada percobaan keenam.

Ia tidak berjongkok dan tidak mengambil alih apa pun. Ia berhenti di belakang Fikri, membuka ransel yang berdiri di kakinya — ransel paling rapi di lapangan itu, dengan tali yang digulung dan diikat, bukan dijejalkan — dan mengeluarkan kantong plastik bening berisi serutan kayu kering. Segenggam. Kering, seolah sudah lama disiapkan untuk saat persis seperti ini.

Ia menyodorkannya. Fikri menerimanya.

“Di bawah,” katanya. “Yang tengah, jangan pinggir.”

Lalu ia kembali ke barisan kelas C, duduk, dan tidak menoleh ke api itu lagi.

Apinya menyala pukul tujuh lewat sepuluh.

Seluruh lapangan bertepuk tangan seperti penonton pertandingan. Ilham mengangkat dua tangan seperti wasit mengesahkan gol. Fikri berdiri dengan wajah orang yang baru saja melakukan sesuatu yang akan ia ceritakan di rumah. Untuk beberapa detik, tempat itu terasa persis seperti yang dijanjikan brosurnya.

Sembilan puluh dua orang. Tiga kelas. Satu lingkaran.

⁂

Acaranya berjalan persis sesuai rundown Nayla. Kali ini, rundown yang benar.

Upacara api unggun tujuh menit. Pak Herman bicara empat menit tentang hal yang sama dengan yang ia bicarakan pagi tadi, ditambah satu kalimat tentang jangan ada yang mendekat lebih dari dua meter ke api. Lalu pentas seni antarkelas, urutan diundi, dan yang keluar duluan kelas A.

Sebelum itu ada lomba yel-yel, karena selalu ada lomba yel-yel.

Kelas A maju dengan sesuatu yang jelas disusun empat puluh menit sebelumnya. Elsa lupa baris ketiga dan tertawa. Kalau Elsa sudah tertawa, tidak ada yang bisa melanjutkan. Mereka menyelesaikannya dalam keadaan setengah bubar dan mendapat tepuk tangan yang murah hati.

Kelas B tidak menyusun apa-apa. Yoga maju sendiri, meneriakkan yel-yel resmi sekolah dengan nada dangdut, dan tiga puluh orang di belakangnya mengikutinya dalam keadaan yang lebih mirip kerusuhan kecil daripada barisan. Hasilnya jauh lebih lucu daripada apa pun yang bisa mereka latih. Mereka tahu itu. Mereka memang tidak pernah berniat menang.

Kelas C maju terakhir.

Tiga puluh empat orang. Dua baris. Dan sebelum barisan itu ada satu orang yang menghitung mundur dari tiga dengan suara yang sama sekali tidak keras.

Yang membuat dua kelas lain diam sebentar bukan yel-yelnya. Yel-yelnya biasa saja — yel-yel sekolah yang sama, kata-kata yang sama. Yang membuat mereka diam: tiga puluh empat orang itu mulai di detik yang sama, berhenti di detik yang sama, dan waktu bagian tepuk tangan tiba, yang terdengar cuma satu bunyi.

“Rangga,” kata Arif di sebelah Dika, tanpa diminta, sambil mencatat sesuatu di buku kasnya dalam gelap. “Pradana. Yang menang PBB kabupaten.”

Di belakang barisan kelas C ada anak yang tidak ikut karena sibuk merekam. Ia jongkok di rumput dengan kamera video kecil berlayar lipat, memutar badan mengikuti barisan, dan sesekali membalik kameranya ke wajahnya sendiri untuk mengomentari pertandingan yang sedang ia rekam.

“Vino, masuk barisan.”

“Sebentar, Bu.”

“Vino.”

Gurunya perempuan bertubuh kecil, bersuara serak, dengan kacamata baca tergantung di leher. Ia menarik anak itu ke barisan tanpa berhenti melangkah. Kelas C tetap menang. Vino merekam kemenangannya sendiri sambil berlari, dan gambarnya pasti tidak keruan, dan tidak seorang pun peduli.

Dika memperhatikan satu hal dan menyimpannya: dari tiga kelas di lapangan itu, cuma kelas C yang menurut pada satu orang.

⁂

Sesudah itu api dikecilkan dan orang-orang duduk melingkar di tanah, dan malam itu berubah jadi sesuatu yang lain.

Ada gitar. Selalu ada gitar. Pemiliknya anak kelas C, senarnya tinggal lima, tapi yang bisa memainkannya justru anak kelas A: cowok bertubuh besar dengan ujung rambut kemerahan sisa semir gagal. Ia memainkan tiga lagu yang entah sejak kapan dihafal seluruh angkatan.

Sembilan puluh dua orang menyanyi tidak kompak dan terlalu keras.

Giliran kelas A dipakai untuk itu, dan giliran kelas C dipakai untuk taruhan siapa yang berani menyanyi sendirian. Dua orang maju. Yang kedua lupa liriknya di baris ketiga dan menyelesaikannya dengan bersenandung, dan mendapat tepuk tangan paling keras sepanjang malam.

Di sela-selanya, Ilham naik.

Ia meminjam gitar itu dan bilang lagunya bikinan sendiri. Begitu kata itu keluar, sepertiga lingkaran langsung kembali ke obrolan masing-masing. Lagunya tidak buruk. Lagunya juga tidak selesai dengan baik — ada satu bagian di tengah yang jelas belum ia putuskan, dan ia melewatinya dengan memainkan bagian sebelumnya dua kali.

Yang Dika catat bukan lagunya. Yang ia catat adalah bahwa Ilham menyelesaikannya sampai habis, seluruhnya, meskipun sudah jelas sejak baris keempat bahwa tidak ada yang mendengarkan; dan bahwa waktu tepuk tangan datang — pendek, sopan, terlambat setengah detik — Ilham menunduk dan mengucapkan terima kasih kepada lingkaran itu dengan suara yang terlalu serius untuk keadaan seperti itu.

Untuk ketiga kalinya malam itu, Bu Melati salah menghitung kepala dan mengumumkan kelas A kurang satu orang. Ternyata yang hilang Kirana, tertidur sambil duduk di belakang jeriken.

Pak Herman berdiri di luar lingkaran, di tempat yang sama, sepanjang waktu.

Dika duduk di baris kedua dari luar, di tempat yang ia pilih karena bisa melihat empat arah, dan mendapati dirinya ikut menyanyi di bagian yang paling gampang. Ia berhenti begitu menyadarinya. Lalu ikut lagi. Api unggun punya cara yang tidak masuk akal untuk membuat orang lupa siapa yang duduk di sebelahnya.

Ia mencatat itu juga, dengan kesal: bahwa ia sedang menikmatinya.

⁂

Angin berbalik sekitar pukul sembilan kurang.

Dika tahu persis kapan karena asapnya berpindah dan setengah lingkaran mengeluh serempak. Ia memiringkan badan menghindari asap, dan pada saat itulah ia mencium sesuatu yang bukan asap.

Manis.

Bukan manis seperti gula. Manis seperti buah yang ditinggal terlalu lama di dalam plastik, jenis manis yang punya sesuatu yang lain di belakangnya, dan datangnya dari bawah — dari arah kiri lapangan, arah jalur turun.

Dua orang di depannya juga menciumnya.

“Bau apa sih.”

“Nangka.”

“Nangka dari mana.”

“Ya ada pohon kali.”

Dan bersamaan dengan itu, selama mungkin tiga detik, suara di lapangan itu turun.

Bukan berhenti. Turun, seperti orang memutar tombol volume dua strip ke bawah dan menaikkannya lagi. Gitar tetap berbunyi dan sembilan puluh dua orang tetap menyanyi, tapi semuanya terdengar seperti dari balik pintu.

Dika menelan ludah dan telinganya berbunyi klik, dan suara kembali normal.

Ketinggian, pikirnya. Mereka naik hampir seribu meter hari itu dan telinganya sudah dua kali tersumbat sejak di bus. Ia bahkan sempat merasa puas karena tahu penjelasannya.

Untuk baunya kepalanya menyodorkan gambar dari buku biologi SMP: kantong semar, yang memanggil serangga dengan bau manis lalu mencernanya pelan-pelan di dasar kantongnya. Ia hampir tertawa. Leluconnya cukup bagus untuk dipikirkan dan terlalu jelek untuk diucapkan.

Baunya lewat sekali lagi, lebih tipis, lalu tidak ada.

Tidak seorang pun di lapangan itu menyebutnya lagi. Termasuk Dika.

⁂

Giliran kelas B datang paling akhir, dan kelas B, setahu semua orang, tidak menyiapkan apa-apa.

“Kalian nggak ada gitu yang mau ditampilin?” tanya Bu Melati.

“Ada, Bu.” Bagas berdiri, dan berdirinya sopan, dan itu yang selalu salah dipahami orang tentang Bagas. “Audio, Bu. Boleh?”

“Audio apa?”

“Buat joget bareng, Bu. Biar rame.”

Bu Melati mengangkat bahu ke arah Nayla, dan Nayla melihat rundown-nya, dan di rundown itu tertulis Kelas B — bebas, karena Nayla sendiri yang mengetiknya tiga hari lalu supaya tidak ada kelas yang merasa dipaksa.

Bayu memutus sambungan speaker dari ponselnya — speaker-nya sendiri tetap tergantung di tali ranselnya, tidak pernah lepas — lalu Reno menyambungkan ponselnya sendiri. Dika sudah tahu apa yang akan terjadi, kira-kira satu setengah detik sebelumnya: cukup untuk mengatur wajah, tidak cukup untuk apa pun yang lain.

Tiga detik. Suara anak laki-laki menjerit, nadanya sangat tinggi dan sangat pendek, disusul tawa banyak orang yang direkam dua tahun lalu.

Lalu diulang.

Lalu diulang lagi.

Yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak pernah bisa Dika jelaskan kepada siapa pun yang belum pernah mengalaminya: sembilan puluh dua orang tertawa untuk sesuatu yang delapan puluh orang di antaranya tidak mengerti sama sekali.

Mereka tertawa karena suaranya konyol. Karena diulang. Karena orang di sebelahnya tertawa. Anak-anak kelas C ikut tertawa karena paling tidak tahu apa-apa — bagi mereka itu cuma bunyi lucu dari speaker, dan bunyi lucu dari speaker memang lucu.

Dika duduk diam dengan punggung lurus dan wajah yang tidak berubah.

Ia hampir berhasil.

“Itu suaranya dia,” kata Bagas, tidak keras, sambil menunjuk dengan dagu.

Suara Bagas tidak pernah keras. Ia tidak pernah perlu.

Dan tawa yang kedua sama sekali berbeda dari tawa yang pertama, karena tawa yang kedua punya alamat. Beberapa orang sadar. Mereka tetap tertawa, hanya lebih pelan.

Delapan puluh orang menoleh serentak ke satu titik di baris kedua dari luar untuk melihat pemilik suara itu, dan menemukan anak kecil berleher kurus dengan rambut lurus menutupi dahi.

Empat detik. Dika menghitungnya.

Lalu Bagas menepuk dahinya sendiri.

“Aduh, sori, sori. Salah file, Bu.” Ia mengangkat ponsel Reno tinggi-tinggi, seperti barang bukti. “Folder-nya kecampur. Yang bener yang ini.”

Tidak ada orang yang salah memilih file tiga kali berturut-turut. Dika tahu itu. Bagas tahu Dika tahu. Dan tidak seorang pun di lapangan itu merasa perlu menanyakannya.

Reno menggeser layar. Dari speaker Bayu keluar lagu joget timur yang sedang ada di beranda semua orang sebulan terakhir, jenis lagu yang gerakannya sudah dihafal tubuh sebelum kepala sempat memutuskan mau ikut atau tidak. Yoga langsung melompat ke tengah. Tiga puluh anak kelas B menyusul dengan langkah ke kiri, ke kanan, tangan melambai, dan dalam setengah menit separuh lapangan sudah berdiri ikut berdansa, termasuk anak-anak kelas C yang tadi tertawa paling keras.

Bu Melati cuma berkata, “Lain kali dicek dulu, ya,” dengan nada guru yang menyuruh anak-anak berhenti main air. Nayla mencentang satu baris di rundown-nya. Semenit kemudian, tidak ada lagi yang membahas file mana yang diputar pertama.

Itu bagian yang paling penting, dan Dika menyimpannya di tempat yang paling dalam: tidak ada yang rusak. Tidak ada yang dimarahi, tidak ada yang dipanggil, tidak ada yang minta maaf kepada orang yang tepat. Secara administratif tidak ada satu pun hal yang terjadi malam itu. Nomor acara kelas B berjalan, salah putar, lalu dibetulkan.

Di seberang api, Gagah sedang menopang lutut dengan kedua tangan dan melihat ke arah bara. Ia tidak menoleh waktu semua orang menoleh. Itu sudah Dika duga.

Yang tidak ia duga adalah bahwa di antara sembilan puluh dua orang itu ada satu yang menoleh, melihatnya, dan tidak ikut tertawa.

Anak perempuan kelas A, duduk agak jauh di sisi kanan, dengan rambut diikat asal dan jaket kebesaran. Ia melihat Dika kira-kira selama satu setengah detik dengan wajah yang tidak bisa Dika baca.

Lalu ia berpaling ke arah api.

Dika mencatatnya di kolom yang salah, dan baru sadar kemudian bahwa ia melakukannya: ia menaruhnya di kolom yang sama dengan Gagah.

⁂

Anak Perempuan itu adalah Sintya dan Putri yang tidak tahu suara tersebut waktu pertama kali diputar.

Ia duduk di sisi kanan lingkaran, agak di pinggir, karena tanah di situ paling kering. Alasnya jas hujan plastik yang dilipat dua, cukup untuk dua orang asal tidak ada yang banyak bergerak. Putri di sebelahnya sedang makan kacang atom dari bungkus yang ia pegang dengan dua jari, satu per satu. Tiap kali Sintya mengulurkan tangan, bungkus itu bergeser setengah jengkal menjauh, tanpa Putri menoleh. Tiap kali Sintya menarik tangan, bungkus itu kembali.

Jeritan itu pendek dan tinggi, dan ujung bibir Sintya sempat bergerak, karena bunyi seperti itu memang dibuat untuk ditertawakan dan tubuh sudah tertawa sebelum kepala sempat ikut.

Lalu bagian belakang rekamannya sampai ke telinganya.

Tawa. Banyak orang, direkam dari dekat, pecah dan kasar seperti suara yang keluar dari ponsel di dalam saku. Dan di bawah tawa itu, kalau didengarkan — dan Sintya tidak tahu kenapa ia mendengarkan.

Lihat selengkapnya