Bertengkar
“Ronda satu, sebelas sampai satu. Ronda dua, satu sampai tiga.”
Nayla berjalan paling depan, senter di satu tangan dan map plastik bening di tangan yang lain. Kacamata bulatnya melorot setiap kali jalur menanjak, dan ia mendorongnya naik pakai buku jari tanpa berhenti membaca. Yang ia bacakan adalah jadwal ronda malam. Yang mendengarkan adalah dua puluh enam orang yang sudah memutuskan tidak akan ikut ronda.
“Ada yang mau tukeran?”
“Nggak bisa tukeran.”
“Bisa.”
“Nggak bisa.”
“Nay, ini kemah, bukan negara.”
“Satu lagi.” Nayla tidak menggubrisnya. “Kata Bu Melati, yang mau ke belakang malem-malem wajib berdua. Bangunin temen setenda. Bawa senter. Jangan lewat pita merah.”
“Kalau temen setendanya nggak mau bangun?”
“Ya tahan.”
Toilet ada di pos, dua puluh menit ke bawah, dan semua orang tahu tidak akan ada yang turun ke sana tengah malam; “ke belakang” artinya semak di tepi zona. Putri, yang di rumahnya sendiri minta lampu lorong dinyalakan kalau mau ke kamar mandi lewat jam sepuluh, mengangguk paling serius dari semua orang. Biasanya Sintya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang akan dibangunkan Putri nanti malam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak yakin.
Jalan naik ke punggungan memakan waktu dua puluh menit, dan Putri tidak bicara di sepanjang jalan itu. Rombongan mengeluh serempak setiap kali jalur menanjak, berhenti dua kali karena Elsa dan sekali karena Kirana benar-benar tertidur sambil berdiri selama mungkin empat detik. Putri tidak ikut mengeluh. Putri selalu ikut mengeluh.
Sintya tahu artinya apa.
Marahnya Putri berisik. Marahnya Putri berbentuk kalimat panjang yang diulang tiga kali dengan kata yang berbeda-beda, disusul contoh, disusul contoh lain, sampai Putri sendiri capek dan berhenti dan meminta maaf duluan tanpa mencabut apa pun. Bagian terakhir itu selalu bisa dikenali dari satu kata. Di tengah marah, Putri memakai “gue” seperti semua orang; begitu sampai di bagian minta maaf, “gue”-nya berganti “aku” tanpa ia sadari — kebiasaan dari rumah, dari ibunya, yang tidak pernah mau menerima maaf yang diucapkan pakai “gue”. Sejak SMP, begitu mendengar kata itu, Sintya tahu pertengkarannya sudah selesai dan ia boleh berhenti waspada.
Diamnya Putri bukan itu.
Dan Sintya tahu persis kapan diam itu dimulai. Bukan waktu Putri bilang nggak lucu. Kira-kira dua puluh menit sesudahnya, waktu kelas C pamit.
Kelas C turun paling awal, menyanyi salah lirik dengan kompak, dan barisannya lewat persis di belakang jas hujan tempat Sintya dan Putri duduk. Rara ada di barisan itu — poni lempar yang terus ia tiup dari depan mata, anting kecil yang cuma di telinga kiri, jaket kelas C yang ia pakai dengan kerah dibalik karena katanya begitu lebih bagus. Waktu lewat, ia membungkuk sedikit ke telinga Sintya tanpa berhenti berjalan.
“Tuh kan,” bisiknya. “Dia gitu lagi.”
Lalu ia pergi, ikut menyanyi, dan Sintya tersenyum.
Senyumnya tidak besar. Setengah detik, sudut bibir, jenis senyum yang keluar sendiri waktu seseorang menyebutkan hal yang diam-diam sudah kita pikirkan. Tapi Putri duduk empat puluh sentimeter di sebelahnya, dan Putri melihat.
⁂
Tenda nomor empat berisi lima orang, dan sepuluh menit sesudah sampai, tiga di antaranya sudah tidur.
Kirana tidur paling dulu, dengan kaus kaki masih terpasang dan napas yang bunyinya seharusnya tidak bisa dikeluarkan manusia sekurus itu. Meilani dan Meiliana berbisik sebentar soal colokan yang kalah direbut Tiara, lalu tidur berhadapan dengan lutut saling menempel, cara mereka tidur sejak masih satu boks bayi.
Sintya masuk ke kantong tidurnya dengan jaket masih terpasang. Putri berbaring di sebelah kanannya, memunggunginya.
Ponsel Sintya tidak dapat sinyal. Ia tetap membukanya, karena tangan butuh pekerjaan, dan jempolnya membuka satu grup yang sudah satu setengah tahun tidak ia buka dengan sengaja.
Nama grupnya: BERAMPAT (JGN DIHAPUS).
Pesan terakhirnya dari Dita, dikirim dari ruang tunggu bandara, sehari sebelum ia pindah ke Balikpapan karena ayahnya dipindahtugaskan lagi — keempat kalinya sejak SD. Jangan berantem ya kalian. Nanti aku yang sedih. Di bawahnya cuma satu baris abu-abu: Rara keluar dari grup. Sesudah itu tidak ada apa-apa. Tidak ada yang membalas pesan Dita. Tidak ada yang menghapus grupnya, karena judulnya melarang.
“Lo masih nyimpen grup itu.”
Suara Putri, serak sisa menyanyi di lapangan, dari empat puluh sentimeter. Ia tidak berbalik. Ia pasti melihat pantulan cahaya layar di dinding tenda.
Itu bukan pertanyaan, jadi Sintya tidak menjawabnya.
“Tadi Rara ngomong apa?”
“Nggak ngomong apa-apa.”
“Lo senyum.”
“Orang lewat nyapa, gue senyum. Emang harus lapor?”
Putri masih memunggunginya. Diamnya lama, cukup lama sampai Sintya mengira ia sudah tertidur.
“Lo masih chat-an sama dia.”
Tidak ada pertanyaan di ujungnya. Putri terlalu capek untuk memasang pertanyaan, dan kalimat tanpa pertanyaan ternyata jauh lebih sulit dijawab.
Kirana mendengkur panjang. Sintya menunggu dengkuran itu selesai, dan selama menunggu ia menyadari bahwa ia sedang mencari cara menjawab yang tidak berbohong dan juga tidak benar. Ia tidak menemukannya.
“Kadang,” kata Sintya akhirnya. “Nggak sering.”
“Dari kapan.”
“Dari… habis itu.”
“Satu setengah tahun.” Putri mengucapkannya pelan, seperti sedang menghitung ulang sesuatu. “Terus tadi dia bilang apa.”
“Dia bilang lo gitu lagi.”
Putri tidak bertanya gitu gimana. Tadi di lapangan ia bilang nggak lucu sekali lagi, kepada orang lain, untuk lelucon lain, dan mereka berdua tahu persis gitu yang mana.
“Terus lo senyum.”
“Put—”