Hutan Terlarang

Emsuta Yurite
Chapter #7

BAB 7 - Munculnya Kabut

Munculnya Kabut

 

Yang membangunkan Sintya adalah kakinya diguncang dari luar kantong tidur, dua kali, pelan.

“Sin.”

Ia membuka mata. Langit-langit tenda basah oleh embun di sebelah dalam, dan tetesan pertama jatuh di dahinya sebelum ia sempat bergerak. Ponselnya menyala 05.14. Tidak ada sinyal.

“Sin. Temenin gue.”

Putri berjongkok di dekat kakinya, sudah memakai jaket, senter kecil di tangan, sudah menyala dan diarahkan ke lantai tenda. Wajahnya tidak kelihatan jelas dalam gelap yang mulai abu-abu, tapi suaranya kelihatan jelas: pendek, datar, masih memakai “gue”. Masih semalam.

Sintya tahu artinya apa. Semalam Putri memilih sendirian daripada dirinya. Tapi semalam masih ada lampu tenaga surya dan suara orang dari tenda lain; jam lima pagi gelapnya lain, dan Putri, yang di rumah minta lampu lorong dinyalakan kalau mau ke kamar mandi, tidak bisa memilih sendirian lagi. Tinggal Kirana — yang tidurnya seperti orang pingsan dan kalau dibangunkan pasti bertanya kenapa — dan dirinya. Dari dua pilihan itu, Putri memilih dia.

Itu bukan permintaan maaf. Tapi itu pintu yang dibiarkan tidak dikunci, dan Sintya sudah cukup lama kenal Putri untuk tahu bedanya.

“Hm,” katanya, dan keluar dari kantong tidur.

Dingin langsung masuk sampai ke tulang. Semua benda di dalam tenda itu basah dengan cara yang sama: bukan basah kena air, tapi basah karena udara. Kerah jaket, tali sepatu, sarung senter. Kirana bernapas seperti motor tua di sudut. Meilani dan Meiliana tidur berhadapan dengan lutut saling menempel. Tidak ada yang bergerak.

Di mulut tenda Putri meraba-raba dalam gelap, menemukan sepasang sandal jepit, dan memakainya. Punya Sintya — biru, nomor tiga sembilan, kebesaran dua nomor di kaki Putri, sehingga tumitnya menginjak tanah di belakang sandal. Sintya melihatnya dan tidak bilang apa-apa. Sepatunya sendiri masih basah dari semalam; ia keluar memakai kaus kaki saja — kaus kaki abu-abu Putri, yang masih ia pakai sejak semalam — dan kaus kaki itu basah sampai tumit dalam dua langkah.

⁂

Ronda satu, pukul sebelas sampai satu, dijalankan, di luar dugaan semua orang termasuk Nayla, dengan sangat serius oleh Deri dan Adit, yang berkeliling zona empat kali sambil merekam suara-suara hutan untuk diunggah kalau nanti ada sinyal. Ronda dua dijalankan setengah: Bayu duduk di dekat api, tertidur pukul dua kurang, bangun pukul tiga karena kedinginan, dan langsung masuk tenda. Ronda tiga tidak pernah ada. Tidak ada yang membangunkan mereka, dan mereka tidak bangun sendiri, dan itu terjadi di setiap perkemahan sekolah sejak perkemahan sekolah ditemukan.

Jadi pukul lima lewat seperempat pagi itu, di seluruh zona satu, yang terjaga cuma dua orang, dan dua-duanya tidak saling bicara.

Mereka berjalan ke tepi zona, ke tempat rumput berhenti dan pohon mulai. Tidak jauh dari batu sinyal, tempat Putri duduk sendirian semalam. Tidak satu pun dari mereka menyebutnya.

Langit di timur sudah pucat, warna teh yang terlalu banyak airnya. Dari arah pohon terdengar burung — yang bunyinya seperti orang bersiul dua nada, dan yang seperti engsel pintu — dan serangga yang belum mau berhenti. Subuh di gunung ternyata berisik, dan Sintya, yang di rumah tidak pernah bangun sepagi ini, sempat heran bagaimana orang bisa tidur di tengah bunyi sebanyak itu.

Putri berhenti di depan semak setinggi pinggang.

“Lo di situ aja. Balik badan.”

“Iya.”

“Jangan ke mana-mana.”

“Iya, Put.”

Sintya berbalik menghadap tenda-tenda. Di belakangnya ia mendengar semak tersibak, sandal kebesaran yang tersangkut akar, napas yang ditahan karena dingin.

Kalau ada waktu yang tepat, ini waktunya. Sintya tahu itu dengan cara yang sangat jernih, jernih yang cuma datang jam lima pagi sebelum otak sempat memasang alasan-alasannya. Tidak ada orang lain. Tidak ada Kirana yang bertanya kenapa. Putri tidak bisa pergi ke mana-mana selama beberapa menit ke depan, dan Putri sendiri yang sudah membuka pintunya.

Ia menyusun kalimatnya.

Put, yang semalem—

Terlalu mendadak. Di saat yang salah. Tidak ada orang yang ingin dimintai maaf sambil jongkok di balik semak.

Nanti saja, pikirnya, waktu jalan balik. Dari semak ke tenda ada tiga puluh meter. Tiga puluh meter cukup untuk dua kata.

Ia menghitung tiga hal, karena kepalanya memang bekerja begitu: tiga puluh meter; dua kata; sesudah itu Putri akan bilang sesuatu yang lucu dan selesai. Selalu begitu.

Lalu ia melihat kabut.

⁂

Kabut itu datang dari arah jalur turun, dari arah cekungan, dan yang pertama kali Sintya pikirkan adalah bahwa ia belum pernah melihat kabut berjalan menanjak.

Kemarin sore ia melihat kabut dari lapangan: tipis, naik dari lembah, menyeberang seperti asap. Yang ini tidak seperti itu. Yang ini rendah, setinggi betis, dan penuh, dan naik mengikuti bentuk tanah seperti air yang mengisi bak — pelan, rata, tanpa terburu-buru, menutup akar dan batu dan patok tenda paling bawah satu per satu tanpa menyisakan tepi.

Cahaya pagi mengenainya dari samping dan membuatnya berpendar, dan Sintya berpikir, dengan cara yang kelak malu ia akui: bagus.

“Sin?”

Suara Putri di belakangnya, dari balik semak. Pelan. Sedikit naik di ujung.

“Lo masih di situ kan?”

“Hm.”

Lihat selengkapnya