Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #1

Prolog

Aku pernah punya kesempatan untuk mengubah hidupku, namun aku tidak tahu, apakah itu anugerah atau bukan.

Semua kisah dalam kehidupanku saat itu terasa nyata, indah dan merupakan kehidupan yang aku inginkan.

Ini semua dimulai ketika aku mendapat surat PHK dari kantor, aku mengembalikan laptop dan seragam dari perusahaan yang sudah bangkrut, karena banyak rekan kerja idiot yang korupsi.

Maaf saja aku tidak pernah ikut-ikutan makan uang kantor, meskipun aku sering memalsukan nota health benefit. Lagipula itu tunjangan kesehatan.

Selepas mengembalikan barang kantor, Aku minum dengan beberapa mantan rekan kerja—Tentu bukan untuk perayaan karena di PHK, namun depresi bareng.

Acara itu selesai sampai matahari pergi.

Aku berjalan pulang menuju stasiun dengan langkah berat. Jalan yang biasa kulewati malam-malam seperti ini, masih sama-bau asap kendaraan dan udara kota yang pengap.

Pikiranku hanya dipenuhi cari kerja, bayar hutang pinjaman online, bayar sewa kos, lalu makan dan main game Misfit Online atau nonton anime. Di umurku yang ke 32 tahun, aku tidak memiliki tabungan, tidak ada sahabat curhat, tidak ada pekerjaan tetap. Sebenarnya salahku dimana ya?

Apakah saat di masa SMA? Namun jujur aku sudah berhenti menjadikan masa lalu sebagai kambing hitam, dari awal memang aku layak menjadi target tukang bully. Aku seorang pengecut, kaku dan penyendiri.

Sialan. Menyalahkan diri sendiri.

Lagi.

Aku mengeluarkan smartphone dari kantung celana, membuka aplikasi lowongan pekerjaan, dan jariku memencet Apply ke semua pekerjaan yang ku temukan, baik itu software developer, kasir ataupun office boy, pokoknya bulan depan jangan sampai nganggur, aku butuh pemasukan.

Setelah memasukan lamaran, aku beralih ke instagram, lalu melihat story Instagram dari rekan masa kuliah sampai ke rekan masa SMA, mereka kelihatan bahagia dengan pekerjaan dan pasangan, bahkan Clarissa Azari, wanita semasa SMA yang sangat cantik dan populer, dimana titik kejatuhanku dimulai dari sana—aku rasa—heran kenapa aku masih follow binatang satu ini.

Wanita itu sudah menjadi aktris papan atas dan dia mengumumkan tanggal pernikahan dengan anak pemilik perusahaan parfum terbesar di dunia. Selera dia bule ternyata.

Jempolku menekan layar sedikit lebih keras.

Tidak perlu jadi aku.

Setidaknya...

mereka tidak harus terlihat sebahagia itu.

Dulu aku mengungkap perasaan ke Clarissa Azari karena terinspirasi dari komik romansa dimana karakter biasa berpacaran dengan wanita populer, duh bodohnya aku mengambil pelajaran dari kartun yang tidak realistis. 

Aku fokus pada benda kecil di tanganku, dan menyadari ...

Cahaya kuning yang sangat terang tiba-tiba menyorot pandanganku, sangat menyilaukan, saat aku menoleh ke sumber cahaya, ada sebuah truk besar yang datang ke arahku.

Seharusnya aku lari.

Tapi tubuhku tidak bergerak.

Jadi beginilah akhirnya?

Dan sepersekian detik, tidak merasakan apapun.

.

.

.

Hah?

Aku berdiri di awan-awan putih mengenakan kemeja yang tadi ku gunakan, namun tidak ada jalan raya, truk tidak ada, tidak ada bekas luka

Aku seperti berdiri di alam baka.

Di depan ada sebuah rumah kayu sederhana yang cukup klasik, aku melempar pandanganku ke segala arah, ternyata hanya ada aku, rumah dan langit.

Bodoh dulu aku tidak percaya agama.

Pilihannya cuma memasuki rumah itu, aku berjalan perlahan. ada sebuah tangga kecil dengan 5 anak tangga sebelum masuk teras, ada pintu kayu dan di atasnya ada tulisan toko waktu.

Toko Waktu?

Setiap langkah di tangga menghasilkan bunyi "kriek"—bahkan di alam ini mereka lupa untuk perawatan.

Aku membuka pintu secara perlahan dan ragu, di dalam lantainya terbuat dari kayu dengan pola lingkaran yang unik, ada banyak barang yang terlihat antik, jam berbentuk rumah yang terlihat apik, sebuah lemari dengan ukiran-ukiran bunga, lalu banyak ornamen yang digantung di atap-atapnya, aku tidak tahu sumber cahayanya dimana, namun rumah ini cukup terang, bahkan terasa hangat.

"Ha-Halo?"

Aku mencoba berkomunikasi, dan berteriak beberapa kali.

Namun belum ada respon. Aku mencoba memasuki rumah lebih dalam, mendekati salah satu benda yang menarik perhatian, yaitu sepeda ontel yang antik, aku mendekat ke sepeda itu, mirip punya kakek Graham—Ayah dari Almarhum Ibuku, dulu ia sering membelikan ku petasan dan makanan— Tanganku bergerak ingin mencoba menyentuh sepeda itu, namun sebuah suara menghentikan.

"Jangan lakukan!"

Aku menoleh ke arah suara dan terdapat seorang lelaki muda dengan rambut putih, dia terlihat masih muda, mungkin sekitar 20 tahunan.Perawakannya tinggi dan tidak terlalu kurus, ia memakai mantel bewarna putih yang panjang hingga menyentuh lantai, dan ada sebuah jam unik di lengan kiri yang menarik perhatian. 

Dia dewa atau malaikat?

"Aku bukan dewa ataupun malaikat maut, aku Zeph pemilik toko ini."

Lihat selengkapnya