Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #2

Bagian I : Gon dan Killua

Mataku terbuka sedikit, melihat suasana kamar gelap. Ada sesuatu yang berbeda saat ini. 

Aku tidak ingat punya kasur se-empuk ini di kosan dan selimut yang lembut.

Ruangan ini tidak asing tapi yang jelas bukan kosanku. Kosanku jelek, ampas, bau.

Kepalaku terasa sakit, dan sekujur tubuhku lemas sekali, apakah karena aku mimpi indah yang tadi. Aku mengangkat badan yang terasa lebih ringan, duduk dengan rambut yang panjang dan berantakan.

Perasaan baru minggu lalu sudah dicukur.

Tadi mimpi yang unik, aku ditabrak truk lalu bertemu pria berambut putih dan mengembalikan ku ke masa la-

Eh ...

Aku beranjak dari ranjang, langsung mencari tombol lampu.

Ini kamarku.

Kamarku saat SMA.

Seharusnya sekarang tahun 2014.

Tombol lampu ada di dekat pintu, begitu ku tekan tombolnya, warna kuning yang familiar menghiasi kamar ini.

Poster Hyuga Hinata, Chitanda Eru tertempel di dinding, ada lemari kecil dan meja belajar dengan lampu belajar.

Semuanya tersusun rapih dan bersih. Buku-buku disampul coklat tertata rapih bersama sebuah tempat pensil berbentuk silinder hijau, dan rautan pensil berbentuk rumah. Ada sebuah Calendar desk yang menandai tanggal 7 Agustus 2014 sebagai upacara penerimaan SMA. Dan semua komik lamaku juga.

Kangen banget.

Dan ini Gila, ternyata aku bersih banget dulu!

Aku melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang mendapat permen dari badut. Tidak percaya bahwa hal ini benar-benar nyata. Aku beberapa kali menampar pipi dan mencubit tangan. 

Rasa sakitnya nyata!

Setelah puas, aku duduk di meja, membuka lembar demi lembar komik Detektif konan, rasanya senang, girang dan terharu. Dulu ini bacaan favoritku, permainan detektif dengan pemecahan masalah yang menarik setiap kasusnya, meski teknologinya tidak masuk akal.

Tok ... Tok ... Tok

"John, bangun, Udah jam 5 pagi!"

Suara familiar itu milik ayah, aku merindukannya. Aku berlari ke arah pintu. Menggeser grendel di kusen pintu yang mengunci kamar. Membuka pintu bewarna coklat tua itu.

Sosok yang aku rindukan berdiri di hadapanku, dimana aku punya banyak hutang yang belum aku bayar. Dia adalah laki-laki tua, dengan rambutnya yang sudah tersisa sedikit dan memutih. Dengan kerut di dahi, rahang yang tirus, keriput di matanya. Badannya cukup kurus.

Ternyata ayah sekurus ini dulu.

Ia memandangiku dengan tatapan yang bingung, melihatku tak kuasa menahan air mataku.

Aku langsung memeluk tubuhnya, menempelkan wajahku di dadanya.Mencurahkan semua perasaan rinduku padanya.

"Maaf," gumanku.

Itu adalah ucapan yang ingin aku sampaikan, saat dulu egoku terlalu besar untuk menyampaikan pesan yang sebenarnya sangat sederhana. 

"E-eh, ada apa dengan mu?"

Ia mengangkat wajahku dengan kedua tangannya. Aku mengeluarkan banyak tangisanku.

"Kau kenapa? Tiba-tiba nangis? Apa segugup itu masuk sekolah?"

"Maaf, aku hanya mimpi buruk," balasku sambil mengusap air mataku dan melepaskan pelukan. 

Aku bahagia melihat sosok ayah, dia meninggal ketika aku berusia 28 tahun karena diabetes melitus. Tahun 2026 adalah tahun kematian yang selalu kuingat, dan tahun aku sadar betapa baiknya dia selama ini. 

Hubunganku cukup rumit dengan ayah, di timeline sebelumnya, semenjak masuk masa SMA dia selalu memberi tatapan kecewa, bahkan tidak menampakan lagi senyum, sampai ada masa aku memutus hubungan dengannya dan meninggalkan rumah ini.

Namun, bisakah dan bolehkan aku menghentikan kematiannya, jika takdir mengatakan harus mati di tahun itu, maka cara satu-satunya adalah memanfaatkan kesempatan kedua untuk membahagiakan pria tua ini.

Setidaknya jangan ada penyesalan lagi.

Ayah mendecak setelah mendengar alasanku menangis.

"Kau memang mimpi apa, John?"

"Hanya mimpi buruk soal monster!" kataku sambil tersenyum. 

Lihat selengkapnya