"Lu bukan temen gue lagi!"
Laki-laki gemuk itu membalikan badannya, baju putihnya penuh dengan noda bewarna merah dan kuning.
Dia menangis.
Dan yang lebih parah—aku belum pernah lihat dia nangis seperti itu.
Kata-kata itu juga tidak pernah aku bayangkan keluar dari mulut laki ini-ini.
"BEN!" Aku berteriak.
Kau tidak tahu, aku hanya ingin hidup tenang di sekolah ini. Aku takut dilihat sebagai seorang pecundang. Terutama oleh Clarissa.
Aku tidak tahu hal ini akan terjadi.
"Gue gak punya pilihan, gue gak ingin ini terjadi! KALAU MEREKA TAHU GUE SISWA BEASISWA. MEREKA AKAN MERUNDUNG GUE JUGA." suaraku naik.
Ben berhenti dari langkahnya. Ia menoleh ke belakang.
"Kalau gue tahu lu egois banget, waktu SMP gue gak sudi temenan sama lu! Lu jual temen lu sendiri! Gue gak masalah lu ikut jauhin gue sama kayak lain tapi rahasia itu," air mata membasahi pipinya, dia kembali melangkah pergi.
Aku hanya mematung, tidak membalas kata-katanya. Ben adalah sahabat yang berharga bagiku, banyak memori menyenangkan yang terjalin dalam persahabatan kami, apakah itu hanya akan jadi kenangan?
Kenangan tentang datang ke toko komik bersama saat SMP ...
Kenangan tentang menginap bersama SMP lalu marathon episode Hunter X Hunter ...
Kenangan ketika Ben datang ke rumahku, dan membantu Ayah mengemas barang-barang di toko ...
Semua Hancur Berkeping-keping. Seperti Kaca yang dihantam Pemukul Bisbol.
Dia saat terakhir dia hanya memperlihatkan punggungnya, yang pergi menjauh lalu hilang.
Hei, apakah benar-benar tidak ada yang bisa aku lakukan? Apakah besok aku bisa mencoba berbaikan dengannya atau hari ini aku berkunjung ke rumahnya? apakah punya keberanian untuk memperlihatkan wajahku?'
Aku pikir punya waktu.
Namun itu adalah hari terakhir melihat sosok Ben.
×××
"Tadi sambutan kepala sekolah lama banget! Lutut gue sakit."
Suara Ben membangunkan ku dari lamunan.
"Iya," balasku.
"Lu kenapa sih Gon? kok gak kayak biasanya? Lu jadi pendiem"
"Gak apa-apa."
Entahlah. Mungkin aneh rasanya mengobrol dengan anak 16 tahun kembali, suasana di kelas benar-benar nostalgia, tembok bewarna putih, foto pahlawan yang terpampang di samping, AC ruangan membuat udara sejuk, dan kalimat dari Muhammad Hatta diukir di dinding belakang.
Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Aku rasa ini kutipan yang luar biasa.
Beberapa siswa masuk ke kelas, memilih tempat duduk favorit mereka, seingatku di semester pertama kursi tidak ditentukan, di semester selanjutnya baru hal tersebut diterapkan. Aku duduk di baris pertama, paling dekat dengan meja guru. Ben duduk di urutan pertama sementara aku di belakang, ada 2 orang laki-laki lainnya yang duduk di baris ini, aku membelakangi mereka. Tablet Arm Chair atau kursi kuliahan dipakai di sekolah ini, meja dan kursi yang seperti menyatu.
Ada alasan kami memilih duduk di sini, karena jarang diperebutkan. Jika kami memilih di paling belakang, ujung-ujungnya ada saja anak badung yang meminta untuk menukar kursi.
Ben melirik perempuan yang duduk di baris kedua, dia berada pada urutan yang sejajar, wanita itu bernama Yuna, sementara teman yang duduk di sampingnya bernama Kirana.
Pria gemuk itu merapihkan rambutnya, memperbaiki posisi kacamata, dan menepuk-nepuk bajunya seperti ada debu.
Ada seorang perempuan lain yang datang, wajah yang kulihat sebelum truk itu nenabrakku.
"Gon, dia cantik banget, wajanya juga imut!" bisiknya.
Pandangan Ben terarah ke Clarissa Azari yang memilih baris ke tiga, dia didatangi oleh beberapa anak perempuan lain dan langsung terlihat akrab.
Ben jangan percaya wajah yang terlihat polos itu! dia itu iblis!
Inginnya bilang begitu, namun dia tidak akan percaya karena aku dan Clarissa belum berkenalan, mungkin juga karena semasa SMP, lelaki itu jarang melihatku mengobrol dengan perempuan selain anak-anak perempuan yang minta aku mengajari matematika.
Sependek ingatan ku, satu kelas hanya memuat 20 - 25 siswa. Dan di kelas ada beberapa anak "Favorit". Contohnya Ranking 1 Angkatan, perempuan si Yuna Aveline, Rival berat Clarissa.
"Iya Cantik," jawabku.
Aku melirik Clarissa, rambut panjangnya diikat, matanya besar, kulitnya putih dan mulus. ia sedang memegang smartphone dengan Casing bewarna merah muda. Tangannya lentik sangat lincah ketika mengetik, dan ada gelang hitam yang familiar.
Aku melempar tatapan kembali ke Ben yang sekarang sibuk membaca komik di mejanya. Aku memangku dagu di tangan, berpikir apa mungkin aku berhenti jadi anak cupu di timeline baru, mungkin aku juga bisa mengubah Ben, menjadikan dia cool boy. Tidak cocok.
Suasana kelas belum begitu ramai, karena masih belum akrab satu sama lain. Tapi aku bisa mencium masing-masing siswa mulai 'menilai', siapa yang akan menjadi dominan, dan siapa yang akan tersingkir. Ada banyak anak perempuan yang menarik perhatian, salah satunya siswa asing bernama Luna, rambut blode, kulit putih, hidung mancung dan logat bahasa indonesia yang kaku. Bahkan gadis itu langsung akrab dengan Clarissa.
Seingat ku, wali kelas masuk cukup lambat, mungkin ini strategi agar siswa baru bersosialisasi juga. Susah ternyata kalau sudah mulai masuk kepala tiga akrab sama anak-anak. Kalau dulu aku mencoba mengajak berbicara laki-laki yang duduk di belakang agar punya teman selain Ben, tapi itu percuma sifatnya sangat jutek.
"Hei, gimana kalau kita buat jadwal piket dulu sama organisasi kelas?"
Suara itu bersumber di baris ke 3, sudah jelas mereka berkerumun di meja Clarissa.
"Aku kenal dengan Clarissa dari SMP, dia disiplin dan pintar, kamu mau kan Clarisa?"
Saat ini aku pura-pura tidak tertarik namun mendengarkan percakapan mereka semua.sesekali mengintip.
"Wakilnya Yuna kalau begitu!"
Suaranya Familiar tapi aku tidak ingat siapa pemiliknya.
"Aku sekertaris deh! Kalau boleh!"
Suara melengking itu milik Yulia, aku ingat karena dia punya kisah yang menyedihkan, di timeline sebelumnya selain Ben, dia juga murid yang tiba-tiba pindah sekolah. Aku tidak pernah tahu kenapa. Di awal ia sangat dekat dengan circle pertemanan Clarissa.
Perempuan bertubuh mungil itu maju ke depan, ia mengambil spidol dan mulai menulis di white board. Yulia tingginya mungkin sekitar 155 cm, rambutnya pendek hanya sampai dagu, kulitnya putih cerah, dengan hidung mancung, matanya juga agak sipit.
Dia langsung menulis siapa ketua murid dan wakilnya yang diputuskan sepihak circle mereka. Sekertaris juga sudah ditulis. Tinggal bendahara, dan anggota yang kurang penting namun merepotkan seperti seksi kebersihan, seksi keamanan, dan seksi doa.
"Keamanan kamu aja ya Rey!"
Rey merujuk ke Reynaldi seorang anak yang terlihat tinggi dan atletis, dan rambut yang disisir ke atas. Bingung, apa hubungannya tubuh atletis dengan tugas seksi keamanan, seakan-akan, kelas butuh "preman", lagi pula Rey itu lebih cocok jadi badut kelas ketimbang orang yang mencoba menertibkan siswa saat guru tidak ada.
"Seksi doa hapus aja, ketua kelas aja yang pimpin doa," Yuna angkat bicara.
"Oke Yuna." Yulia menurut menghapus seksi agama. "Ada yang mau jadi Bendahara atau seksi kebersihan?"
Jabatan bendahara harus punya keberanian untuk menagih uang kas, sementara seksi kebersihan harus pulang lebih lambat tiap hari karena tugasnya mengawasi piket, malas.
"Nadya mau bendahara," suara berat dari baris keempat.
Nadya adalah gadis gemuk yang galak dan nanti akan berteman dengan Yuna, yang kuperhatikan dia bukan tipe orang yang menggunakan kata "aku", "saya" atau "gue" tapi menyebut nama sendiri. Misalnya "Aku mau ice cream" jadi "Nadya mau ice cream". Maaf untuk informasi tidak penting ini. Wanita itu memang orang yang cocok jadi bendahara dengan sifat galak dan tegasnya.
Yulia langsung menulis namanya.
"Tinggal kebersihan aja nih!"
Aku tahu mereka semua akan menunjuk Ben, karena tidak ada yang mau pulang lambat setiap hari. Dan orang yang menunjuknya adalah Clarissa.
"Itu aja yang duduk dekat dengan meja guru."
Sudah kuduga.
Dan masalahnya Ben adalah "Yes Man", dia tidak akan menolak tugas itu. Bahkan beberapa memanfaatkan kepolosannya agar bisa kabur dari tugas piket, dimana ia mengerjakan semua tugas orang lain.