Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #4

Bagian III : Gon dan Killua

"Gon, Sabtu ini gue mau nginap di rumah lu."

Ben berada di dekat pintu menunggu, kacamatanya rusak lagi karena ulah Theo, dia juga diganggu oleh beberapa anak perempuan. Aku sedang memasukan buku ke dalam tas. Saat itu suasana kelas sudah sepi. Hanya ada aku dan lelaki gemuk. Dia masih berdiri di sana menunggu jawabanku. "Ayo maraton anime Akame Ga Kill," tambahnya.

Tidak bisa. Jika berada di dekatnya aku akan kena getahnya, Ben mengacau di lomba tarik tambang, Rey dan Theo menghajarnya lagi, aku tidak ingin terlibat urusannya.

Ku rapatkan ransel, jari jemari memeras talinya. Aku melangkah mendekat dan menatap matanya, semoga aku berani menolak kali ini.

"Gue sabtu ini gak bisa kayaknya, sorry ya!"

Aku langsung mendahuluinya, keluar dari kelas. Dari belakang Ben mengikuti. Ia mencoba menyamakan langkahnya, matanya menyelidiki.

"Lu kenapa akhir-akhir ini, jarang ngumpul ke klub sih?"Ujarnya. Ben menepuk punggungku meminta respons atas pertanyaanya. Aku mempercepat langkah dan memberi gestur penolakan. "Lu kok kaya ngehindar?"

"Gue lagi bantu ayah di toko, sibuk banget soalnya." aku terdiam sejenak. "Gue duluan ya!"

Aku meninggalkan Ben tanpa memalingkan wajah. Aku menghindarinya agar kami tidak disangka dekat, akhir-akhir dia diejek cukup intens di kelas.

Saat itu, aku malu berteman dengannya, harus kuakui. dan aku tidak bisa membiarkan Clarissa tahu ...

Bahwa aku sangat dekat dengan Ben.

×××

Sinar matahari sangat menyengat, para siswa memilih spot yang adem untuk duduk dan menyaksikan penampilan ekstrakulikuler dan kakak kelas. Klub karate, klub kesenian, klub mading, klub futsal-Aku lupa apalagi.

Saat ini klub teater sedang menampilkan aksi drama kabaret. Pertunjukan yang menggunakan musik kadang ada tari-tarian, dan alur cerita. Aku tidak pernah paham konsepnya. Dan tentu itu klub yang tidak cocok dengan introvert akut seperti ku.

Sorakan penonton meriah, setiap adegan memunculkan kakak kelas yang berpakaian hot. Sementara beberapa guru hanya geleng-geleng kepala.

Jangan berzinah, aku penasaran ini zinah mata atau cuci mata-yang penting jangan berlebihan. Aturan pembelian waktu dari Zeph memang merepotkan dalam beberapa hal-kenapa tidak sekalian memasukan 10 hukum Musa.

Lagipula mental dan emosiku bukan anak SMA lagI, mana mungkin aku tergoda.

"Kakak kelas itu mantep banget!"

Aku mendengar di belakangku, para pria puber yang sangat birahi. Dan jangan heran, kalau mereka berlindung dari kata 'normal' ketika membicarakan hal yang berbau mesum.

"Gon, dia cocok kayaknya cosplay Hatsune Miku," Ben berbisik. Dia mengangkat smartphonenya dan mengambil gambar, masalahnya flash kamera dia belum dimatikan, dimana hal tersebut menarik perhatian beberapa orang.

Penyakit Weabo-nya kambuh lagi. Namun aku tetap mengangguk tanda setuju bahwa wanita yang sedang berakting sangat cocok untuk cosplay karakter fiksi itu . Kalau di timeline lama, aku akan fokus pada penampilan di lapangan. Namun.

Aku berpikir, apa yang membuat Ben begitu dikucilkan di kelas pada awal-awal semester, khususnya saat sekolah mengadakan lomba peringatan 17 Agustus. Dia disalahkan sebegitunya untuk lomba yang tidak penting. Lomba diadakan pada 18 sampai 19 agustus 2014 dan tanggal 23 Agustus 2014, hari sabtu kami akan menampilkan drama.

Hanya ada 11 hari sebelum lomba dimulai, dipikir-pikir gila sih, dikucilkan untuk lomba yang sebenarnya hanya untuk having fun ketimbang adu kompetitif. Tapi kalau dipikir-pikir kembali, sebelum tanggal itu, Ben sebenarnya sudah dikucilkan dan dijauhi.

Dan yang lebih penting, Clarissa. Kenapa wanita itu begitu ingin menghancurkan Ben? Itu adalah kepingan puzzle yang tidak aku mengerti. Bahkan sampai saat ini.

Masa hanya karena dia otaku dan penampilan culun?

Dalam lamunanku, aku tidak sadar sekarang klub basket yang sedang tampil. Ada banyak kakak kelas yang tinggi, tampan dan atletis. Dari atas, para perempuan meneriaki nama Zio. Aku melihat beberapa ekspresi perempuan di sekitar sepertinya terpesona juga.

Dulu aku sempat mengira hal adegan wanita berteriak histeris hanya ada di film, namun sekolah ini menunjukan sisi yang aku pikir fiktif.

"Ke WC yuk!" aku menepuk pundak Ben.

"Emang lu tahu WC-nya dimana?"

Tahu lah kampret. Aku sudah pernah sekolah di sini. Time Traveller dari masa depan namanya juga.

"Ya, Cari aja dulu, bos."

Alasan aku mengajaknya ke WC, karena ada salah satu bola basket yang akan nyasar ke arahku. Dan itu memalukan. Mending ke air aja, cuci muka dan ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Sahabat yang gemuk ini.

"Oke, deh!"

Kami berdua berdiri, meninggalkan lapangan yang penuh kehebohan. Aku langsung berjalan ke arah Toilet di lantai 1, dekat dengan lab kimia. Lorong-lorongnya sangat mudah diingat.

Sudah kubilang, aku hafal.

Lihat selengkapnya