Berurusan dengan para anak manja ini menyebalkan.
Hari pertama, sejak aku kembali ke tahun 2014. Dan ada perubahan kejadian dari timeline yang seharusnya terjadi.
Aku sampai Toko sekitar Jam 5 sore, Ren dan Rin membantu Ayah melayani di toko.
Aku langsung naik ke atas, menaruh tas dan ganti baju.
Sebenarnya tidak terlalu buruk, namun kesimpulan yang ku dapat adalah tubuhku masih ketakutan kepada orang-orang itu.
Jika dulu, mungkin aku sudah depresi setengah mati, namun entah, aku merasa tidak takut.
Setelah ku tukar pakaian, aku kembali ke bawah.
"Rin, Ren beristirahat lah, biar aku yang jaga toko sekarang."
Mereka bertukar pandang satu sama lain.
"Kalian harus belajar, susah gapapa, serahkan ini pada abang!"
Ketika mengatakan hal ini, rasanya ada yang menggerogoti belakang leherku. Di timeline sebelumnya sih, aku setiap pulang sekolah mengunci diri di kamar.
Mereka mengangguk dan pergi ke atas.
"Bukannya ini biasanya jam baca komik mu?"
Ayahku mengangkat alis.
Aku tidak perlu menanggapi celotehan itu.
"Kamu sudah makan?"
"Masih kenyang, Kalau aku kerja part time apakah boleh tiap sabtu minggu?"
"Kerja dimana emangnya? Itu gak ganggu belajarmu?" Ayahku mencatat sesuatu dan mengotak-atik kalkulator.
"Ya, dicari dulu dan tenang saja, aku pasti pertahankan beasiswa itu."
Salah satu hal terburuk ketika depresi karena dikucilkan adalah prestasi ku menurun. Pihak beasiswa mencabut biaya sekolah. Di timeline sebelumnya ayahku ingin aku bertahan di sekolah itu.
Aku jadi ingat, ketika mendapat surat pencabutan beasiswa, saat itu ayahku berhenti tersenyum. Bahkan berhenti membanggakan.
Dulu aku mencari-cari alasan, kenapa nilaiku turun. Namun kenyataannya caraku meluapkan depresi dengan bermain game atau nonton anime di warnet sampai kecanduan dan baca komik.
"Susah nyari kerja kaya begitu, lagian kamu ngapain sih kerja?"
"Pengen aja."
Dia menghela nafas.
Aku tidak bisa bilang karena aku butuh smartphone, rasanya memalukan di timeline sebelumnya, aku merengek ingin dibeli smartphone yang bagus. Tapi justru itu jadi jembatan awalku menjadi pemalas.
Aku rasa di tahun 2014, smartphone bekas berkisar di dua ratus ribu atau empat ratus ribu. Yang penting bisa install Line dan BBM dulu. Mungkin aku akan mengincar merek lokal.
"Kalau kamu butuh sesuatu bilang yah ke ayah!"
"Iya."
Saat itu pelanggan toko tidak terlalu ramai. Kami biasanya tutup di jam 9 malam.
Aku menjaga toko sambil menulis rencana yang aku bagi dua.
Rencana jangka panjang dan jangka pendek. Kembalinya aku ke masa lalu adalah melunasi dosa-dosa ke beberapa orang.
Tadinya ingin balas dendam.
Namun otak ku sudah buntu.
Rencana jangka pendeknya adalah bagaimana agar membantu orang-orang di masa SMA yang kesulitan karena ulahku. Fokus ku saat ini adalah Ben.
Lalu cari kerja paruh waktu untuk membeli smartphone bekas.
Ah.
Aku mungkin harus membelikan satu untuk dipakai Karen dan Karin. Mereka juga pasti butuh.
Untuk rencana jangka panjang sepertinya adalah belajar untuk masuk universitas ternama. Aku juga berencana belajar bahasa inggris lebih baik dan bahasa jepang.
Akan bagus jika aku bekerja sebagai freelancer di internet. Aku mungkin butuh paypal, namun umurku belum cukup untuk membuka rekening. Rencana ini akan ku tunda sampai tahun depan.