[Jum'at, 8 Agustus 2014]
Ada tiga tipe guru, pertama adalah guru yang di hari pertama lebih memilih perkenalan terlebih dahulu, tipe kedua adalah guru yang memperkenalkan apa yang akan dipelajari ke depannya, dan yang terakhir langsung belajar dan tugas.
Pagi tadi, dingin seperti biasanya. Sekolah dimulai jam 6.45, Guru bahasa inggris hanya menggunakan 1 JP¹, untuk berkenalan dan bermain game sebentar. Guru bahasa inggris kami adalah ms. Vero. Nama lengkapnya Veronicca, namun akrab disapa Vero. Umurnya masih 25 tahunan, keturunan tiongkok, dan wajahnya lumayan cantik.
Meski aku dari masa depan, ternyata bahasa inggrisku masih kalah dengan anak-anak ini, namun lebih dibanding ketika di timeline sebelumnya–Mereka sudah kursus sejak kecil.
Di jam selanjutnya cukup buruk, Guru Sejarah kami adalah pak Budi Drajat. Sudah beruban, dengan ekspreksinya yang selalu akan marah, dan mulutnya seperti lengkungan payung. Dia mengajar dengan gaya yang oldschool bisa dibilang.
Sejak 2013, kurikulum 2013 menggantikan kurikulum KTSP. Dan ini percobaan dari belajar fulltime school, dan student centered–Artinya murid lebih aktif dibanding guru, kurang lebih. Meski pak Budi tetap mengajar dengan gaya teacher centered, dia berkicau di depan, dan menjelaskan sejarah awal perang dunia II, yang kadang menyerempet ke sejarah adam-hawa secara tiba-tiba.
Satu lagi yang menarik dari SMA Theodoreos International, di kelas satu SMA, belum ada pembagian Jurusan ke IPA, IPS atau Bahasa. Pembagian baru dilakukan di kelas dua. Hanya sedikit informasi, dulu aku memilih IPA.
"Kacau banget itu guru, pertemuan pertama langsung ngasih tugas, ngantuk gue lihat cara ngajar dia, untung miss Vero asyik!"
Ben mengeluh ke mejaku, itu adalah salah satu kebiasaannya.
"Iya, ya."
Percaya padaku, pak Budi Drajat lebih baik daripada beberapa dosen di kampusku dulu. Tipe dosen membagi materi ke 14 pertemuan, dan setiap pertemuan mahasiswa akan presentasi—lebih buruk lagi jika tidak ada sanggahan.
"Kau bawa bekal apa, John?" Ben mengeluarkan kotak bekal besar dari tasnya.
Woy, kau itu mau diet.
"Nasi Goreng, BTW lu kayaknya harus ngurangin porsi makan," sambil menyendok makanan.
"Nanti lah gue lapar." dia menunjukan giginya. "Tapi Clarissa tadi dipanggil kakak kelas!"
"Padahal aku mau ngajak, makan bareng!"
Aku tersedak mendengar itu.
Percayalah kawan, dia hanya memakai topeng, serigala berbulu domba—lebih tepatnya iblis berjubah malaikat. Dan kau ini mau Yuna atau Clarrisa sih.
Di baris sebelah, Yuna dan gengnya merapatkan kursi melingkar, mereka makan bersama.
"Yo, kawan hari ini dianter sama truk lagi?" Theo tiba-tiba merangkul sambil memasang senyum di wajahnya. "Gak lupa sama yang kemarin kan?"
Ah.
Aku lupa, mulai hari ini aku jadi jongos. Tolong biarkan aku makan dulu. Istirahat pertama cuma 30 menit.
Dia menyodorkanku uang satu lembar seratus ribu.
Gila, uang sakunya banyak sekali.
"Sari Roti ya, di Alfamart."
"Kembaliannya untuk aku?" tanyaku sambil tersenyum balik.
"Enggak." Dia menyentuh dagu sebentar. "Beliin teh ochi juga."
Nyusahin kampret! Mana gak dikasih imbalan.
Aku melahap bekalku dengan cepat. Berdiri dan langsung pergi.
Beberapa orang memberi ku tatapan aneh, mereka seperti mengatakan "babi rakus" secara tidak langsung. Theo hanya tertawa.
Satu hal yang pasti, jantungku tak berdegup hari ini.
×××
Seusai membeli roti. Theo sepertinya puas namun tak mengucapkan terima kasih.
"Sorry Gon, gue tadi gak bisa ikut." Ben dengan nada Lirih.
"Kalem aja."
Yang harusnya meminta maaf itu aku.
"Waktu lu gak ada Clarrisa ngumumin lomba buat 17-an!"
"Disuruh bikin pertunjukan juga." dia menambahkan.
"Nih di grup Line dia taro, kalau lu mau bilang aja sama gue!" dia mempelihatkan layar dimana ada list lomba.
"Gue disuruh ikut tarik tambang!"
Ben menghela nafas.
"Gak ah, gue nonton aja!" jawabku.
Sebenarnya karena tidak diajak juga, hehe. Sama seperti di timeline sebelumnya, aku terlihat tidak bisa diandalkan.
"Btw, buat pertunjukan Clarrisa pengen kabaret."
Jelas. Dia ketua klub tearter di masa depan.