Langit tampak bewarna kuning agak oranye, cahaya masuk ke jendela. Menerangi ruang kelas. Kursi-kursi sudah kosong, dan hanya ada dua orang diringi suara jarum jam.
"Ke-kenapa kamu membocorkan rahasia itu Claris?" Tanyaku panik.
Clarissa berjalan melewatiku, lalu duduk di meja guru. Ia memasang senyum kecut.
"Karena aku ingin semua orang simpati kepada Ben, dia kasihan sekali!"
Apa dia buta kalau Ben selama ini diremehkan?
"Ta-tapi itu bukan sesuatu untuk disebarkan!"
Clarissa menutup mulut dengan tangannya, dia cekikikan untuk beberapa saat.
Dia bangkit dari meja guru, mendekatiku, senyum itu masih dipamerkan.
"Kamu tahu, sebenarnya ada satu fakta tentang apa yang terjadi di sini." Clarissa mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku menahan nafas.
"Bukan aku orang pertama yang membocorkan rahasia itu." lanjutnya
Mana mungkin!
Ben hanya menceritakan itu padaku. Karena ia sangat percaya.
Tidak mungkin ada orang lain.
"Siapa?" tanyaku.
"Kamu."
Raut wajah Clarissa berubah, tatapannya menjadi tajam. Saat itu aku sadar, selama ini dia hanya memakai topeng.
"Ta-tapi ..."
"Jangan menolak fakta itu!" ia memotong.
"Kamu adalah penghianat! Dan kamu sudah gagal menjadi teman! Sadarilah"
Ia cekikikan kembali.
Pikiranku kacau, wajahku tertunduk lesu, lututku terasa lemas. Aku tidak kuat berdiri.
Kutahan air mataku.
"Aku memberitahumu karena aku percaya padamu, karena-"
Aku sudah tidak dapat membendung rasa bersalah ini.
Menangis dihadapan perempuan yang kusukai bukanlah hal yang keren.
Yang lebih menyakitkan, dia benar, aku orang pertama yang membocorkan rahasia itu.
"Aku menyukaimu Clarissa!" mulutku berteriak.
Dia mengangkat wajahku dengan kedua tangan, lalu mulutnya mendekat ke telinga.
"SADAR DIRI!"
Hari itu selain kehilangan temanku-tidak sahabat-aku kehilangan kepercayaan diri.
Gadis itu meninggalkanku sendiri di kelas.
×××
[Rabu, 13 Agustus 2014]
Akhir-akhir ini aku sering bermimpi buruk, karena potongan dari masa lalu yang buruk mengingatkanku pada dosa.
Mungkin karena kelelahan.
Aku sering membantu pekerjaan di toko, mengajari Ren dan Rin, serta latihan untuk persiapan pementasan.
Clarissa sangat antusias, dia sampai menyewa pelatih kabaret untuk kelas kami. Meski aku sedih karena hanya menjadi figuran yang menari.
Saat ini, perempuan itu berdiri di depan kelas.
"Guys, coba lihat grup Line, aku kirim desain custome buat kabaret!"
Andai aku punya smartphone. Ben berbalik dan mempelihatkan layar.
"Lihat Gon, custome-nya keren banget, mahal ini pasti."
"Iya."
Aku sebenarnya tidak terlalu peduli, lagipula peranku hanya 'meramaikan'.
"Pokoknya besok kita latihan lagi!" Teriak Clarissa bersemangat.
Satu kelas ikut antusias, merasakan energi yang sama. Tapi aku merasa energi itu tidak tertular kepadaku.
Dua hari ke belakang tidak ada hal besar yang terjadi, aku mengawasi gerak-gerik Ben, untuk mencari tahu kenapa di timeline dulu, Clarissa menargetkan Ben.