[Kamis, 14 Agustus 2014]
"Karena kalian telat, hukumannya adalah membersihkan sekolah selama 2 jam pelajaran."
Seorang wanita tua dengan kacamata, rambutnya diikat, dia mengenakan pakaian batik sambil membawa penggaris. Dia melangkah mondar-mandir, dengan penggaris yang ia ketukan ke telapak tangannya. Matanya memerhatikan kami.
"Kami masih murid baru udah terlambat."
Dia mengarahkan pandangannya padaku.
Dia mengetahui aku kelas 10 karena, kami diwajibkan mengenakan pin yang dipasang di kerah baju. Pin biru untuk kelas 10, pin hijau untuk kelas 11, dan pin merah untuk kelas 12.
"Nila kamu 3 kali telat lagi dapat SP 1, ini lagi si Joni ikat pinggangnya tidak dipakai." Guru itu memukul ke arah pinggang laki-laki bernama Joni.
Selama sekolah di sini ada batas 10 kali telat untuk 3 tahun. Nila adalah kelas 12.
"Ibu, jam pertama kelas aku matematika, aku takut ketinggalan pelajaran ..." Kata gadis itu dengan nada manja.
Wajar saja dia khawatir, Ujian Nasional tahun 2014 masih belum dihapuskan. Meski nilai UN SMA bukan tolok ukur utama.
"Siapa suruh telat, pokoknya Nita bersihin toilet perempuan di lantai 1, Joni kamu bersihin gudang di dekat taman, kamu anak kelas 10 bersihin lapangan sekitar sini. Selesai jam pelajar, kumpul dulu di sini, saya cek satu-satu!"
Aku seharusnya tidak telat di timeline sebelumnya.
Kemarin malam aku merangkum sejarah indonesia untuk lomba cerdas cermat, karena pada hari senin, Yuna memintaku merangkum dan aku bilang minimal hari kamis memperlihatkannya.
Karena tidak ada komputer, jadi aku tulis manual.
Hukuman membersihkan sekolah hanya formalitas, kenyataannya hanya butuh 10 menit, sisanya kupakai duduk-duduk, karena guru itu tidak mengawasi sampai akhir jam kedua.
Jam pertama hari kamis adalah Geografi. Gurunya pak Doni, cara mengajarnya cukup simpel, datang, beri pengantar materi ke siswa, tugas lalu pergi.
Aku duduk saja santai setelah 10 menit membersihkan di kursi panjang.
karena tidak memiliki smartphone, waktu kosong ini akan terasa lama.
Ada teori psikologi menarik, ketika manusia berada dalam sebuah ruangan kosong dan hanya ada alat kejut. Dibanding tidak melakukan apa-apa, manusia akan mencoba menggunakan alat kejut yang memberi sengatan ke anggota tubuh, misalnya tangan. Penelitian ini dilakukan Timothy D Wilson tahun 2014.
Begitu juga denganku saat ini, yang menyibukkan diri dengan membaca rangkuman yang ku buat.
Meski pada akhirnya aku menyibukan diri dengan menggambar dengan debu di tanah menggunakan ranting, menyusun batu, dan kegiatan tidak penting lainnya.
×××
Aku menghela nafas setelah membuka pintu kelas.
Lega rasanya, guru bahasa Jerman, Frau Jasmin belum masuk kelas. 2 Jam pelajaran itu sangat panjang.
Suasana kelas kacau, Theo menjahili anak perempuan dengan merebut smartphone dan main kejar-kejaran. Rey menyoraki dari belakang. Sementara kelompok Yuna mengobrol di mejanya.
Ben sendirian di mejanya, dia hanya menatap layar dengan raut wajah yang muram.
Memang jika tidak aku dia terlihat menyedihkan, sama seperti teman akrab yang tiba-tiba tidak hadir.
Aku menendang bagian bawah kursi Ben ketika melewatinya.
"Oi, Lu ninggalin gue kemarin!"
Dia menatapku. Wajahnya masih terlihat muram.
"Sorry, gue kemarin-"
"John." Suara Yuna memotong.
Aku memutar ransel ke depan, mencari kertas yang sudah kukerjakan semalaman. Dan langsung menyerahkannya ke Yuna.
"Oke, kamu nanti pake baju apa buat lomba?"
Baju?
"Baju sekolah biasa?"
Yuna melongo mendengar jawaban itu. Nadya berbisik sesuatu ke Yuna. Perempuan itu mengangguk.
"Maaf, aku lupa kamu enggak gabung grup." Perempuan mengambil smartphonenya dan menunjukan layarnya. "Aturan lomba cerdas cermat harus menggunakan pakaian adat daerah."
Aku mengkerutkan dahi.
"Ini aturan dari kapan?"
Lagipula tiba-tiba sekali.