Ben tidak pernah memasang wajah panik seperti ini seumur hidup mengenal lelaki gemuk itu. Bayangkan anak yang tidak pernah memukul seseorang tiba-tiba harus dalam situasi 1 lawan 1.
Pulang sekolah, akan jadi peristiwa yang mungkin tidak pernah dilupakan Ben hari ini.
Kami membuat arena kosong setelah menggeser kursi ke samping ruangan, Geng Yuna langsung pulang karena tidak tertarik dengan pertarungan sementara yang lainnya masih menonton. Jose si gembul dan boncel mengawasi dari jendela apabila seseorang datang.
Aku berada di ujung kelas, sementara geng Clarissa menyaksikan dari sisi lain. Rey terlihat santai. Sementara di tengah Theo dan Ben sedang saling menatap.
"Hari ini aku mau ngasih tutorial cara masak babi," Theo menyeringai.
Ben tertunduk tidak membalas ejekannya.
"Pelan-pelan aja Theo," Yulia berbicara sambil memandang kaca make up.
Clarissa hanya diam, di luar wajahnya seperti tidak menikmati, namun aku yakin dia sedang tertawa dalam hatinya.
Theo tanpa basa-basi memukul Ben, Ben hanya melindungi kepalanya sambil jongkok. Secara brutal pria belah dua menghujani Ben pukulan.
Bodoh lawan lah! Theo itu cungkring.
Theo menarik rambut Ben, lalu menghajar wajahnya secara repetitif, hingga akhirnya Ben mimisan.
"A-ampun," Lirih Ben yang berusaha melindungi diri dengan tangannya.
"Mana ada, gue belum puas babi!" Pria cungkring benar-benar mendominasi, seperti melihat seekor simpanse yang memukuli Gorila gemuk.
"Bego, badan lu tuh lebih gede!" aku berteriak.
Ben masih ketakutan dalam keadaan terkapar. Kali ini Theo menggunakan kakinya dan menghantam perut Ben terus-menerus.
"Haha, si Theo sadis banget," celetuk Yulia.
"Sudah cukup Theo, sudah tidak berdiri dia!" Luna mencoba menenangkan Theo yang terlalu bersemangat.
Theo adalah pecundang sejati yang tahu kapasitasnya, dia sudah menang secara mental dari awal. Panggung pertarungan ini adalah ajang show-off bagi dia, seperti jantan yang menunjukan keperkasaan kepada betina.
"Ben kalau lu kalah! Lu bakal jadi sampah terus!" aku berteriak lagi, aku merasa seperti pelatih yang mengatakan pada talentnya untuk terus bangun.
Apakah kamu menyerah? Dan memilih untuk jadi pecundang lagi? Ada alasan kenapa aku percaya Ben bisa mengalahkan Theo, Ben bukan siswa sepertiku, ia juga anak orang kaya-bukan meremehkan namun statusnya lebih aman-Tapi saat ini dia bahkan tidak melawan?
"Kalau mau nyerah buka celanamu, ayo!" Theo tersenyum jahat. Laki-laki itu tampak sudah kelelahan setelah memukuli Ben seperti bocah hiperaktif.
"Eww, menjijikan kau Theo!" Yulia dengan wajah mengejek.
Ben berdiri sambil terisak, dia masih ragu-ragu untuk menuruti perintah Theo. Namun sudah menyentuk ikat pinggangnya.
Bodoh! Serius kau babi membuang harga dirimu?
Ben menatapku.
Rasanya kesal sekali, aku mengepalkan tanganku.
"LU GAK PERCAYA GUA, TEMEN LU SENDIRI! DASAR BEGO!"
Ben tiba-tiba menerjang Theo sambil menangis, memberinya pelukan hingga mereka berdua jatuh ke lantai.
Itu dia!
"Woy anjing lu curang!" Theo kesal, giginya mengernyit dan urat-urat muncul di dahinya.
Ben menindih dada Theo, menjambak rambutnya dengan kedua tangannya, tangisannya masih belum reda.
Theo yang kesakitan memukul Ben secara sembarang di sekujur badannya.
"Lepas Babi!" gertak Theo dengan tangannya yang aktif memukul.
Ben melepaskan pukulannya ke wajah Theo beberapa kali tentu dia menutup mata ketika memukul.
Theo balas menjambak.
Mereka berakhir seperti perkelahian perempuan yang pernah ku lihat. Namun Ben dalam posisi yang unggul dengan menduduki Theo yang terbaring. Perbedaan tenaga akan menjadi faktor yang menguntungkan di pertarungan ini.
Rey melangkah ingin membantu temannya, namun aku langsung coba memperingatkan
"Pertarungan kita habis ini, atlet gagal!"
Ketika mengatakan itu, Rey melotot. Laki-laki jangkung itu setelah cedera, ia tidak pernah mengikuti turnamen resmi, dia masuk ke sini bukan jalur akademik atau prestasi, namun sumbangan.
Pertarungan Ben dan Theo, berakhir setelah lelaki gemuk itu membuat seseorang mimisan dengan kepalan tangan-untuk pertama kali.
Theo menyerah karena sudah tidak bisa apa-apa. Mereka berdua babak belur, rambut acak-acakan, ada noda darah dan keringat di seragam mereka.