Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #12

Bagian I : Bunga yang Mulai Kembali Mekar

[Senin, 18 Agustus 2014]

"Ih kalian keren banget bisa sapu bersih soalnya!" seru Kirana dengan mata yang berbinar.

Aku, Yuna, Kirana dan Daniel berjalan di lorong sekolah lantai dua, hiasan tergantung di atap-atap koridor, bendera merah putih, dan karton yang ditempel menampilkan wajah-wajah pahlawan dan peristiwa perlawanan.

Koridor lantai dua itu terbuka di satu sisi, hanya dibatasi tembok setinggi dada yang menghadap ke lapangan sekolah di bawah. Angin bisa masuk bebas, membawa suara murid dari jauh.

Di lapangan ada lomba tarik tambang, balap karung dan makan kerupuk membuat suasana sangat meriah, dukungan dan yel-yel digaungkan. Beberapa fotografer mendokumentasikan kegiatan ini.

Sejak kejadian hari kamis Yuna tidak ingin berbicara padaku-atau mungkin hanya perasaanku saja karena kami jarang berinteraksi juga.

Lagipula dia tidak memahami betapa sulitnya posisiku.

Setelah kejadian itu Rey diskor dua minggu, sementara Theo absen di hari jum'at. Karena kehilangan Rey juga, kelas kami harus mengganti beberapa peserta lomba, seperti Ben yang terpaksa ikut lomba basket, aku tidak bisa karena kakiku masih pincang akibat kejadian itu.

Aku berhenti berjalan, menempelkan badan ke dinding pembatas, melihat dari lantai 2 kelas kami yang mengalami kekalahan telak di lomba tarik tambang. Ben tidak dijadikan kambing hitam lagi karena sejak awal mungkin kekuatan kelas kami pas-pasan.

"Yah, kita kalah," Kirana menghela nafas, berada di sampingku ikut menonton.

"Kayaknya juara olahraga lain bakal susah," Daniel ikut nyeletuk. "Mana basket nanti aku harus setim sama Ben."

Hei, temannya Ben ada di sini lho! Punya telinga lho. Kenapa kau asal bicara tanpa lihat suasana sih!

Itu cuma lomba dan Rey itu sampah. Aku bersyukur dia diskor. Meski aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah dia masuk.

"Semangat ya El," Kirana menghibur. "Yun, nanti kita semangati El!"

"Oke."

Daniel terlihat memerah, sepertinya dia ingin terlihat keren. Hormon remajanya pasti bergejolak.

"Kelanjutan drama gimana?" tanyaku.

"Kita di-diskualifikasi, sampaikan terimakasih untuk Ben," Jawab Yuna agak judes.

Yang salah itu Clarissa, inginnya sih bilang gitu, tapi saat ini Clarissa bertingkah seperti korban yang hanya ingin terbaik untuk kelas, dan kelas mencoba menghibur dan membelanya. Ben berkata aku banyak diejek di grup, banyak foto candidku yang di edit dan disebarkan- mungkin karena aku belum gabung.

"Hei, kamu tahu gak Yun, hari Jum'at kak Zio ngirimin kamu salam!"

"Baik, terimakasih!"

"Ih, kamu polos kaku banget ih!" Kirana memeluk Yuna.

"Apaan kamu Nana!"

Lihat selengkapnya