Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #13

Bagian II : Bunga yang Mulai Kembali Mekar

Aku membuang permen ke dalam kloset, lalu menekan flush agar benda itu menelannya.

Mana sudi aku makan permen pemberian Clarissa.

Aku menutup kloset lalu duduk sekitar sepuluh menit, dengan harapan mereka sudah meninggalkanku. Aku keluar dari bilik nomor satu, mencuci tangan, dan bercermin. Di timeline baru, penampilan itu penting, tanganku menyisir rambut.

Ah, tampan sekali bayangan laki-laki di cermin ini.

Aku keluar dari tempat itu dan Clarissa ada beberapa meter, sendiri. Menonton sesuatu di lapangan.

Dia menungguku?

Perempuan itu memutar kepalanya, seperti biasa memasang senyum yang 'terlihat' tulus-Perlu penekanan di kata terlihat.

"John, ayo ke GOR nonton basket!"

"Oke," aku berjalan duluan, tentu langkah tertatih. Perempuan itu menyusul dan menyamakan langkahnya.

Dia kenapa menunggu ya? Apakah memang coba mendekatiku dan menarik perhatian? Maaf saja dengan mentalku sekarang mustahil itu terjadi.

"John, kamu hebat sekali bisa mengalahkan Rey!"

Huh? Aku rasa dia lebih peka dari yang bisa dibayangkan. Tapi itu tidak terlalu mengherankan. Kalau kaki ini tidak cedera, maunya sih langsung lari saja, bodoh amat dianggap aneh.

"Hebat? orang bonyok gini."

"Enggak, aku tidak menilai perkelahian, tapi kebetulan yang terlalu aneh jika ayahnya tiba-tiba muncul." Dia menaruh jari di dagunya. "Apa jangan-jangan kamu sudah memperkirakan itu karena kamu tetap menghina Rey agar emosinya terus terpancing?"

Betul, karena aku dari masa depan. Jawab begitu lalu Zeph langsung mengambil nyawaku.

"Mungkin kebetulan, lagipula aku cuma banyak omong biar kelihatan keren," ungkap ku sambil menggaruk hidung yang tiba-tiba terasa gatal.

"Bahkan cerita dia punya adik? Bahkan aku yang dekat saja tidak tahu."

Ah, si brengsek iblis ini bahkan mengingat detail itu.

"Bi-biasanya adik itu lebih jago dari kakaknya, jadi cuma asal bicara, kamu tahu kisah Kain dan Habel kan?"

Itu tentu alasan yang buruk, tapi aku mencoba menutupi kepanikan.

Dia tertawa kecil, lalu memandangku dengan mata serigalanya.

"Aku jadi tertarik padamu."

Aku berhenti melangkah, kata-kata itu pernah diucapkan juga padaku. Pada saat pertama kali dia mencoba membuatku jatuh cinta. Sekarang aku baru paham arti 'tertarik', dulu aku berpikir sesuatu yang romantis. Namun tidak, dia hanya tertarik pada informasi yang ku miliki, lalu membuang ku ketika kehilangan daya tarik informasi itu. Ini hanya salah satu permainan psikologi.

"Kenapa diam John?"

"Clarissa, aku juga tertarik padamu!"

Lihat selengkapnya