Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #14

Bagian III : Bunga yang Mulai Kembali Mekar

"Maaf saya tidak bisa," ucap Yuna menundukan kepala. Perempuan itu kemudian berdiri dan meninggalkan GOR, Kirana menyusul langkahnya.

Seorang kakak kelas yang tidak ku kenali menyatakan perasaan dengan membawa bunga. Kini pria itu hanya mematung, beberapa temannya mencoba menghiburnya dengan mengucapkan "Semangat". Itu pasti pengalaman yang memalukan. Dan akan dibicarakan di seluruh sekolah.

Pria tadi pergi dengan gestur yang lemas seakan-akan rohnya sudah ditarik dari tubuh, pemandangan patah hati di dekatku lebih menarik dibanding pertandingan yang akan berakhir sebentar lagi.

Ben ngos-ngosan, sementara Daniel tampak sudah tidak fokus dengan pertandingan, ia beberapa kali seperti melihat pintu keluar GOR-pasti karena Yuna. Dan kelas 11 sangat mendominasi sampai akhirnya peluit akhir dibunyikan.

Ben mendatangiku, keringat membasahi sekujur tubuhnya, ia merebahkan badannya ke kursi dengan nafas tidak teratur. Aku menyodorkannya botol mineral.

"Parah banget permainan lu!" ledekku. Ben mengambil air tersebut dengan gusar, pria di sampingku tampak kecewa, tentu saja ditonton oleh orang yang disukai dalam keadaan paling menyedikan.

"Malu gue, mana Yuna nonton lagi!"

Rakun merangkul bahu Ben, dengan gaya norak ia memberikan motivasi untuk tidak menyerah, sedikit mengingatkanku pada ceramah Naruto. Dua spesies ini jika bersatu memang menggelikan untuk mendengar cara mereka berinteraksi. Aku tidak bisa jadi weabo akut seperti masa dulu lagi.

"Tadi lu pada tahu gak siapa yang nembak Yuna?" Jose tiba-tiba ikut masuk ke tongkrongan kami.

"Siapa itu?" Tanya Ben lalu menggigit bibirnya. Dia pasti kesal perempuan idamannya diusik pria lain, Rakun di samping Ben memerhatikan dengan seksama.

"Namanya Kak Ferdinand, dia itu ketua band The Dark Angle dan cukup terkenal di kalangan anak kelas 11, wajar aja Yuna nolak dia dideketin sama Kak Romeo dan Kak Zio."

Hebat, Jose itu seperti database yang berisi soal gosip dan informasi semua siswa di sekolah, namun aku tidak benar-benar tahu sifatnya, karena biarpun tidak dominan, laki-laki pendek ini seperti bisa berbaur dengan para circle elite.

Apa jangan-jangan ada buku soal semua gosip sekolah ya? tapi itu terlalu konyol!

"Jos, katin yuk!" ajak anak-anak kelas yang mulai membubarkan diri dari GOR karena kelas kami sudah dieliminasi, menyedihkan sekali aku dan Ben tidak diajak. Tapi pria gemuk itu nekat untuk ikut dengan kelas. Aku menarik lengannya sebelum ia berdiri.

Bodoh! apa dia belum sadar juga!

"Yang lain kan ke kantin! yuk ikut!" Ucapnya dengan polos.

Lu tu gak diajak dut.

"Udah di sini dulu aje," balasku menahan emosi. Ben mengalah, ia kembali duduk ke kursinya, dan meneguk botol mineral lagi, kali ini sampai tidak bersisa. Pria itu merentangkan lengannya lebar-lebar, mengusir rasa pegal di seluruh tubuhnya. Rakun membisikan sesuatu ke Ben dan mereka tertawa kecil. Setidaknya Ben masih bisa tertawa di sekolah ini.

Satu hal yang membuat pikiranku buntu, bagaimana agar kami berdua tidak tidak dibenci, aku mungkin dibenci karena membela Ben, sementara Ben karena membocorkan rahasia kelas.

Aku menyingkirkan dua pion Clarissa yang akan selalu menginjak-injak kami, Rey tidak bersekolah-setidaknya dalam waktu 2 minggu, lalu Theo harga dirinya terluka karena dikalahkan Ben, tapi apakah benar-benar membuat kami tidak dipukuli lagi? siapa yang tahu dengan isi pikiran Theo, dia bertingkah sembarangan.

"Woy, ada yang berkelahi di lapangan!"

Siswa berlarian ke luar GOR, Kali bertiga mengikuti. Di Lapangan Zio sedang dipisahkan oleh guru dan panitia, lawannya adalah orang yang sebelumnya menyatakan perasaan. Para siswa melingkar mengerumumi, bahkan ada yang menjadi kompor agar pertarungan terus dilanjutkan.

Lihat selengkapnya