Hutang dari Toko Waktu

Authorpemalas
Chapter #15

Bagian IV : Bunga yang Mulai Kembali Mekar

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan, saat itu aku melihat Ben basah kuyup, wajahnya memar dan raut wajahnya lemas dengan tatapan kosong, kepalanya menunduk. Di belakangnya ada seseorang berkepala plontos yang familiar namun aku lupa namanya bersama dengan 2 temannya, sepertinya mereka dari kelas sebelah.

"Yul, nih si Babi udah gue ajarin!"

Ben di dorong ke lantai, kemudian orang tersebut mendatangi ke arah kami, Yuli memasang senyum sementara Clarissa seperti menahan ekspreksi, aku hanya mematung. Kalau tidak salah orang ini disebut yang paling kuat atau apalah itu, hal kekanakan-kanakan anak SMA. Matanya melirik, dengan tajam ia menatapku yang berdiri.

"Ini satu lagi?" Katanya dengan jari telunjuk menujuk tubuhku dengan ekspreksi menyeringai, kemudian tanganya mendarat di kepalaku beberapa kali seperti memeberi dorongan yang merendahkan. "Yang ini mah cungkring banget, lawan banci aja belum tentu menang."

Yuli terkekeh. "Ya, si Rey gak masuk gara-gara si gembel ini sih," ujarnya. Dia menoleh ke arah teman yang lain mengangkat telunjuknya . "Si babi bawa ke sini."

Aku memang memperkirakan mereka akan memanggil bidak lain yang lebih kuat dibanding Rey dan Theo, dan masalahnya lagi aku bahkan tidak tahu nama mereka, aku pernah melihat mereka di timeline dulu, tapi orang-orang ini jarang mengganguku langsung karena mungkin Rey dan Theo yang melakukannya. Pertama, aku tidak punya persiapan, kedua suasana lomba yang masih meriah sehingga suara kami mungkin akan dihiraukan. Jika aku berteriak pun sangat mudah untuk pria besar ini menghentikannya.

"Udah Yul, kayaknya kita obrolin lomba aja deh!" keluh Clarissa. Menurut pandangan subjektifku itu hanya acting.

"Si babi kita mainin dulu!" Yulia memperlihatkan giginya. Ben di bawa oleh dua orang, pria gemuk itu sudah dihajar habis-habisan, sepertinya saat aku meninggalkannya, dia berulang-ulang mengguman kata 'maaf'.

"Percaya atau enggak si babi ini coba ngelawan tadi, haha!" Kata si pria, tawa Yuli menyusul.

Tanganku mengepal sekuat-kuatnya, gigiku saling menempel, Aku memandang sekitar tidak ada satu pun yang di pihak kami, bahkan circle Yuna hanya diam memperhatikan. Murid menikmati tontonan ini.

"Kalau Theo di sini udah digebukin nih mereka!" Aku bisa mendengar gosip, cemoohan dan tatapan yang meremehkan.

Benar, sejak awal hanya ada aku dan Ben.

Yuli menjambak rambut Ben, dia melotot. "Oi babi, lu sujud minta maaf ke kami," ucapnya, lalu gadis pendek itu memandangku. "Lu juga gembel!"

"Clarissa, haruskah gue sujud?" tanyaku sambil menatapnya. Jika gadis ini menjawab "Iya", setidaknya image baik dia akan ternodai, jika "tidak", maka aku menggunakan alasan itu untuk menolak perintah Yulia. Clarissa membalas tatapanku.

"Tidak per-"

"Gak tahu malu lu gembel!" Yulia memotong, dia melepaskan cengkramnnya di rambut Ben, tangannya kini menekan kedua pipi Ben, lalu menggerakan kepalanya. "Te-men lu sam-pah bi-ang ke-rok" dia mengeja kalimat tersebut seakan-akan aku seorang balita.

Aku mendengus, lalu menggaruk kepala. "Bukannya te-men lu yang bi-ang ke-rok?"balasku.

"Apaan sih, si babi ini kan temen lu!"

"Bukan, temen lu yang ini!"ucapku, tanganku menunjuk Clarissa. "Gara-gara dia sok-sok an ngide pake pelatih, kelas kita didiskualifikasi!"

Satu kelas hening, rasanya hawa menjadi dingin. Mungkin ini pertama kalinya ada yang mencoba mengusik ratu mereka. Clarissa hanya membulatkan matanya, mulutnya agak terbuka.

"Maaf ya John dan teman-teman!" lirih gadis itu. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya lalu menangis. "Maaf!" dia mengulang kata itu. Yulia langsung memeluknya dan membisikan sesuatu.

"Eh, Clarissa ga salah! temen lu yang salah gembel!" seseorang berbicara.

"Lagian kita kan dari awal kita semua setuju!" yang lain menimpali. Ada yang datang untuk menghibur, bahkan pria yang aku tidak tahu namanya ikut-ikutan.

"John, Clarissa itu cuma ngasih ide, dia bahkan pake voting untuk keputusan ini!" Kirana angkat bicara, ia datang dan memperlihatkan smarthhonenya, di layar tampak bahwa hampir semua setuju untuk menggunakan pelatih, hanya ada satu orang yang kontra.

"Berarti salah kalian semua, kenapa kalian cuma jadiin satu orang kambing hitam?"

Lihat selengkapnya